Baris Sumbu Desa Adat Semanik

Baris sumbu merupakan tarian yang memiliki kaitan erat dengan ritual keagamaan yang ada di Banjar Semanik, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Pementasan tarian baris sumbu dilaksanakan pada saat masyarakat Desa Pelaga yang terdiri dari delapan Banjar Adat, yaitu : Banjar Adat Semanik, Banjar Adat Tiyingan, Banjar Adat Auman, Banjar Adat Nungnung, Banjar Adat Kiadan, Banjar Adat Bukian, Banjar Adat Pelaga, dan Banjar Adat Tinggan, melaksanakan upacara Neduh. 

Hal unik yang terjadi ialah, hanya Banjar Adat Semanik yang mementaskan Tari Baris Sumbu pada saat dilaksanakannya upacara Neduh.  Keunikan dari Tari Baris Sumbu ialah, terlihat pada penggunaan sarana atau alat dalam pementasannya yang terbuat dari sebatang bambu yang dibagian ujungnya berbentuk sumbu dengan panjang kira-kira 2 meter. Adapun pada bagian ujungnya ini, saat pementasan tari baris sumbu akan dilengkapi dengan sarana Tipat Bantal Belayag. Mengenai busana dan perhiasan lainnya, penari baris sumbu cukup mengenakan busana pakaian adat ke Pura lengkap seperti : Destar, Kamen, dan Kampuh. 

Dalam menarikan tarian baris sumbu, tidak terdapat agem-ageman khusus seperti yang terlihat pada tarian Bali pada umumnya. Adapun gerakan-gerakan dalam tarian ini cukup sederhana, hanya memegang sumbu kemudian berjalan (Nayog) mengelilingi Panggungan Banten sebanyak tiga kali dengan putarannya ke arah kanan. Pementasan Tari Baris Sumbu ini ditekankan pada saat pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya “Neduh” di Desa Adat Semanik. 

Baris sumbu merupakan salah satu dari berbagai jenis tari baris yang dipentaskan saat adanya upacara penting di Bali. Tari Baris Sumbu yang ada di Desa Adat Semanik, ditarikan oleh empat orang laki-laki dewasa sebagai penari dan hanya ditarikan di Pura Desa, Desa Adat Semanik pada saat upacara Neduh yang jatuh setiap Sasih Kepitu Nemu Umanis dalam Panca Wara. Baris sumbu dengan ciri khususnya ialah penggunaan sarana berupa sumbu yang terbuat dari bambu berukuran ± 2-3 Meter, dengan bagian ujungnya berupa sumbu berbentuk kerucut yang difungsikan sebagai penyangga.  

Adapun sumbu yang berisi sarana berupa tipat, bantal, dan berbagai hasil bumi dalam pelaksanaan Tari Baris Sumbu, difungsikan sebagai sarana penghubung atau penyangga kesuburan atau anugerah yang dilimpahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada masyarakat Desa Adat Semanik, Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Tari baris sumbu adalah tari wali yang erat kaitannya dengan pelaksanaan upacara keagamaan Hindu di Bali, khususnya pelaksanaan upacara keagamaan masyarakat di Desa Adat Semanik saat upacara Neduh. 

Pementasan tari baris sumbu dalam upacara Neduh, dimulai dari Pemangku yang melaksanakan tugasnya/Nganteb upacara Neduh. Setelah dilaksanakan prosesi Nganteb, barulah tarian baris sumbu dimulai. Para penari bersiap yang terdiri dari empat orang pemuda, berdiri di setiap pojok bangunan Panggungan Banten, kemudian mulai menari mengitari Panggungan sebanyak 3 x (berputar ke arah kanan). Setelah prosesi memutar panggungan sebanyak 3 x selesai, ke empat sumbu tersebut kemudian dikumpulkan di Natar/Nataran Pura (Halaman Pura), begitupun juga masyarakat Pemedek juga berkumpul di Natar Pura. 

Adapun untuk selanjutnya, sumbu yang berisikan tipat, bantal, ditabur ke arah masyarakat dan masyarakat kemudian berebutan untuk mendapatkan tipat, bantal tersebut yang diikuti dengan teriakan dari masyarakat pemedek sebagai wujud suka cita. Fenomena ini mengandung makna di dalam filosofi masyarakat Hindu Bali bahwa, Mertha = Rejeki/Anugerah itu tersebar adanya dan dibutuhkan upaya atau kerja keras untuk mendapatkannya. 

Tidak ada persyaratan khusus bagi seorang penari baris sumbu, hanya saja penarinya adalah anggota truna yang belum menikah dan merupakan krama Desa Adat Semanik. Adapun untuk tabuh pengiring tarian baris sumbu ini ialah Gong Kebyar. Sebelum para penari melaksanakan tugas menarikan tarian baris sumbu, mereka dan masyarakat terlebih dahulu nunas tirta penglukatan prayascita.   

Tari baris sumbu adalah bentuk Sraddha (Keyakinan) masyarakat Desa Adat Semanik kepada Kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa hidup dan kehidupan di alam semesta ini. Hal ini diwujudkan dalam bentuk tipat sebagai simbol Purusa (Laki-laki), sedangkan bantal adalah simbol Pradhana (Perempuan). Penyatuan antara purusa dan pradhana inilah yang akan menghasilkan kehidupan baru di alam ini.

Alamat

Banjar Semanik, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya Takbenda

Domain

Adat Istiadat, Ritus