Pengertian Manuskrip Lontar
Manuskrip atau naskah yang tertulis dengan tangan yang merupakan hasil karya masa lampau selanjutnya dikenal dengan naskah kuna. Tetapi, naskah kuna msemata-mata merujuk pada hasil karya tulisan tulisan tangan asli yang berumur minimal 50 tahun dan punya arti penting bagi peradaban, sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Tradisi menulis di atas daun lontar ditemukan pada beberapa wilayah di Indonesia khususnya di Jawa, Bali, Madura, Lombok, dan Sulawesi Selatan. Daun lontar dapat digunakan setelah mengalami beberapa tahap pengolahan hingga menjadi lembaran-lembaran yang siap ditulis. Di Jawa, Bali, dan Lombok naskah hasil tulisan di atas daun lontar disebut ntal sedangkan di Sulawesi Selatan disebut lontara atau lontarak. Meskipun lontar dikenal sebagai pohon palem Borassus Flabellifer, sampai saat ini istilah lontar diserap sebagai khasanah Bahasa Indonesia diartikan sebagai naskah kuna yang tertulis pada daun lontar (Pusat Bahasa, 2007:683).
Sejarah Manuskrip Lontar di Bali
Mengacu pada pengertian manuskrip yang merujuk pada naskah kuna hasil tulisan tangan manusia, awal mula manuskrip kemungkinan berupa tulisan tangan sederhana yang ditemukan di Nusantara sejak abad ke-4. Tulisan tangan ini umumnya ditulis di atas batu menggunakan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta. Jika mengacu pada cikal-bakal manuskrip di atas, di Bali juga ditemukan manuskrip tertua berupa tulisan tangan di atas batu pada beberapa tempat. Tulisan tangan yang dapat dibaca terdapat di Pura Penataran Sasih Desa Pejeng Kecamatan Tampaksiring Gianyar dan Banjar Blanjong Desa Sanur Kota Denpasar. Tulisan menggunakan bahasa Kawi dan Sansekerta diperkirakan berasal dari abad ke 9 atau permulaan abad ke-10. Sedangkan di Blanjong dibuat pada tahun 914 masehi (sekitar abad ke-10) menceritakan tentang raja wangsa Warmadewa yang memerintah di Bali. Tulisan tangan yang terdapat di Pura Penataran Sasih maupun di Banjar Blanjong Sanur dapat dikatakan sebagai tonggak munculnya tradisi menulis naskah atau manuskrip di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa budaya literasi, khususnya budaya membaca dan menulis di Bali telah berkembang sejak abad ke-9 yakni sejak zaman Kerajaan Bali Kuna.
Selain ditulis di atas batu, baik batu andesit maupun batu padas, manuskrip pada masa Kerajaan Bali Kuna juga ditulis di atas lempengan besi, tembaga, dan perunggu. Bukti-bukti manuskrip yang ditulis di atas lempengan logam (tembaga dan perunggu) ditemukan pada desa-desa kuna di Bali, seperti di Desa Sukawana, Trunyan, Gobleg, dan lain-lain. Pada masa Bali Kuna belum ditemukan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang menceritakan keadaan pada masa itu. Kemungkinan besar manuskrip yang ditulis di atas daun lontar pada masa tersebut telah hancur termakam waktu, yang masih bertahan hanya dalam bentuk salinan-salinan yang mengalami perubahan sesuai keadaan dan subjektivitas penulisnya.
Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, masyarakat Bali menjadi salah satu tempat pengembangan manuskrip yang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Ajaran agama, ilmu pengobatan, ilmu perbintangan, tatacara pembangunan rumah, kesusasteraan, dan kesenian, semua tertuang dalam manuskrip yang ditulis di atas ronntal yang lebih sering disebut ntal. Istilah ntal kemudian mengalami penyesuaian ke dalam Bahasa Indonesia menjadi lontar. Ntal adalah adalah daun lontar yang diproses dengan tahapan-tahapan tertentu sehinga dapat ditulis dan dapat disimpan dalam jangka waktu relatif lama. Naskah-naskah terkait ilmu pengetahuan tentang Agama Hindu dan Budha, tradisi masyarakat, pengobatan, sastra, kesenian, dan sebagainya tertuang dalam manuskrip lontar menjadi. Lontar inilah yang menjadi sumber rujukan perilaku dan budaya masyarakat. Salah satu lontar terkenal yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit ialah Negara Kertagama juga disalin dalam beberapa naskah lontar aksara Bali yang ditemukan di Lombok dan Karangasem Bali.
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 (sekitar tahun 1522), masyarakat Bali berada di bawah pemerintahan Kerajaan Gelgel dengan Raja Dalem Waturenggong. Pada masa ini masyarakat Bali mengalami masa keemasan. Tradisi literasi mengalami kemajuan pesat dengan banyaknya karya-karya sastra ditulis di atas daun lontar. Beberapa sumber menyebutkan bahwa setelah Kerajaan Majapahit runtuh, banyak orang Jawa berpindah ke Bali karena terdesak dengan masuknya Agama Islam yang disebarkan Kerajaan Demak. Masyararakat migran dari Jawa membawa serta manuskrip dan tradisi menulis naskah di atas daun lontar.
Pada masa kerajaan di Bali, lontar adalah semacam kepustakaan yang dimiliki berbagai kalangan terutama kalangan pendeta selaku purohita (penasehat spiritual kerajaan), pemimpin agama, dan pusat pengajaran Agama Hindu. Naskah lontal dibuat dan disusun menjadi sebuah cakep atau cakepan (bendel naskah lontar). Cakepan lontar berisi berbagai naskah tulisan tangan yang membahas tentang suatu masalah seperti tatwa (ajaran-ajaran agama dan filsafat), satua (cerita rakyat), babad (cerita yang memuat sejarah atau silsilah keturunan, tambo), wariga (ilmu astronomi, ilmu tentang perhitungan baik buruknya hari), dan sebagainya. Lontar yang memuat tatwa sangat dibutuhkan para pendeta sebagai rujukan dalam pelaksanaan upacara adat, memberi pedoman hidup, nasehat, dasar-dasar pengambilan keputusan bagi raja, dan sebagainya. Lontar juga dimiliki oleh kalangan raja yang memposisikan puri (rumah kediaman raja) sebagai pusat kebudayaan Bali. Raja memproduksi dan menyimpan naskah lontar sebagai sumber ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kesenian yang diterapkan dalam tatanan kehidupan masyarakat.
Lontar tertua yang berhasil ditemukan di Bali adalah yang memuat filsafat agama atau ajaran Agama Hindu seperti Buana Kosa yang berisi tentang filsafat terciptanya dunia. Lontar ini diperkirakan telah disusun sejak tahun 1547 saka atau 1625 Masehi, digunakan untuk memberi tuntunan kepada umat manusia tentang awal mula penciptaan dunia. Lontar Sang Hyang Tatwa Jnana berisi tentang filsafat kedharman (ajaran dharma atau kebajikan) diperkirakan disusun sekitar tahun 1763 Saka atau 1841 Masehi. Ada pula manuskrip kuna seperti Sang Hyang Kamahayanikan, Tantu Pagelaran, Brahmanda Purana, Dewa Tatwa, dan sebagainya (Ardana, dalam Lontar Nomor 1/Triwulan I/1996:23). Semua jenis lontar tersebut memuat filsafat atau ajaran Agama Hindu, digunakan oleh para purohita (penasehat spiritual kerajaan masa lampau) maupun para pedanda (pendeta) untuk mengajarkan dharma atau sastra Agama Hindu kepada masyarakat.
Pada masa penjajahan Belanda, pemakaian lontar sebagai sumber ilmu pengetahuan tetap berjalan dengan baik. Sebagai sumber ilmu pengetahuan, lontar juga dipelajari oleh orang-orang yang bertugas sebagai misi dan zending (bertugas menyebarkan Agama Kristen). Tujuan akhir mereka mempelajari lontar adalah untuk mempelajari aksara dan bahasa Bali untuk selanjutnya digunakan untuk menerjemahkan Bible (Bibel, kitab suci Agama Kristen, Alkitab). Penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Bali bertujuan untuk menyebarkan Agama Kristen dan memudahkan memberikan pelajaran Agama Kristen kepada masyarakat Bali. Namun, usaha Belanda mengkristenkan masyarakat Bali tidak tidak dilaksanakan secara masif karena pihak Belanda mengangnggap budaya Bali merupakan live museun (museum hidup)tempat berlangsungnya suatu kehidupan yang tidak ada di tempat lain sehingga perlu dilestarikan. Berita tentang keunikan budaya Bali pun mulai tersebar dari mulut ke mulut sehingga banyak orang-orang Eropa tertarik untuk datang ke Bali yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya pariwisata di Bali.
Setelah puputan Badung tahun 1906 dan puputan Klungkung tahun 1908, semua raja-raja dan wilayah Bali berhasil dikuasai Belanda. Belanda mulai melakukan konsolidasi dan penataan sistem pemerintahannya, kemudian menerapkan sistem pendidikan Belanda. Kota Singaraja ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Bali-Lombok yang dilengkapi fasilitas pendidikan moderen. Terkait pendidikan moderen, Belanda mulai memperkenalkan tradisi menulis dengan huruf Latin, penggunaan Bahasa Melayu, dan Bahasa Belanda. Meskipun menerapkan sistem pendidikan moderen, pengajaran Bahasa Bali, Aksara Bali, serta pemakaian lontar sebagai sumber kepustakaan pada masyarakat Bali masih tetap berjalan dengan baik. Pelestarian budaya Bali didukung para pejabat pemerintah Belanda yang menaruh perhatian terhadap budaya Bali.
Pejabat Belanda yang menaruh perhatian besar terhadap budaya dan sastra Bali ialah F. A. Liefrinck dan Herman Neubronner van der Tuuk. F.A. Liefrinck adalah seorang pembantu residen Bali dan Lombok yang memiliki minat besar dalam budaya Bali. Leifrinck banyak menulis adat-istiadat masyarakat dan sistem pemerintahan kerajaan di Bali dan Lombok. Sedangkan Dr. H. N Van der Tuuk mendapat tugas tugas menerjemahkan Injil ke dalam Bahasa Bali untuk memudahkan penyebaran Agama Kristen di Bali. Tetapi van der Tuuk tidak ingin menyebarkan Agama Kristen justru mempelajari bahasa dan aksara Bali dalam berbagai manuskrip lontar untuk melestarikan budaya Bali. Van der Tuuk pun menentang program pihak misi dan zending untuk mengkristenkan masyarakat Bali (https://id.wikipedia.org/ wiki/Herman_Neubronner_van_der_Tuuk, diunduh tanggal 26 Februari 2020 pukul 14.11).
Lembaga Penyimpanan Manuskrip Lontar di Bali
Diperkirakan jumlah lontar yang disimpan di berbagai lembaga di Bali paling sedikit 8.000 naskah. Koleksi lembaga- lembaga tersebut belum termasuk lontar milik pribadi yang disimpan di rumah-rumah penduduk. Lembaga-lembaga penyimpanan lontar yang memiliki koleksi cukup bervariasi adalah sebagai berikut.
- Perpustakaan lontar UPTD Gedong Kirtya
Perpustakaan lontar UPTD Gedong Kirtya merupakan museum lontar tertua di Bali. Berdiri pada masa penjajahan Belanda yakni tanggal 2 Juli 1928, mulai dibuka untuk masyarakat umum pada tanggal 14 September 1928. Pembangunan museum Gedong Kirtya tidak terlepas dari jasa f.A. Leifrinck dan Herman Neubronner Van der Tuuk dalam menjalankan tugas di Bali. Liefrinck adalah seorang pejabat Belanda yang bermukim di Bali sekitar tahun 1880-an.
Perpustakaan lontar Gedong Kirtya memiliki koleksi lontar sejumlah 1.808 cakep (naskah, berkas, bendel) terdiri atas naskah Weda (ajaran agama Hindu), agama (undang- undang dan peraturan tentang budi pekerti yang berlaku pada zaman kerajaan di Bali), wariga (ilmu astronomi dan menentukan baik buruknya waktu), itihasa (seni sastra), babad (riwayat yang mengandung unsur sejarah, asal-usul keluarga dan silsilah), tantri (sejenis cerita berbingkai), lelampahan (lakon yang digunakan dalam suatu pementasan kesenian). Selain naskah lontar warisan masa lampau, pihak Gedong Kirtya memiliki salinan lontar berjumlah 5200, buku perpustakaan 3500, judul yang berbahasa asing, dan koleksi lontar di Gedong Kirtya berjumlah, 2022 cakep. `
Disusun menjadi tujuh klasifikasi diantaranya:
I. Weda terdiri dari : Weda, Mantra dan Kalpasastra
II. Agama terdiri dari : Palakerta, Sasana dan Niti Sastra
III. Wariga terdiri dari: Wariga (Astrologiesche warken), Tutur (Onderricht), Kanda, (Handboeken) dan Usada
IV. Ithihasa terdiri dari : Parwa, Kakawin, Kidung, dan Gaguritan
V. Babad terdiri dari : Pamancanan, Riwayat runtuhnya kerajaan-kerajaan dan Gaguritan.
VI. Tantri terdiri dari tantri, satwa dan surat pangeling – eling
VII. Lalampahan
2. Museum Negeri Provinsi Bali
Museum Bali beroperasi secara resmi tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum. Bali Museum didirikan dalam rangka melindungi benda- benda budaya yang hampir punah. Pembentukan Bali Museum berawal dari ide W.f.J. Kroon, Asisten Residen Bali Selatan di Denpasar yang menjabat tahun 1909-1913. Kroon mendapat saran dan masukan dari Th.A. Resink seorang peneliti budaya Bali agar melindungi benda-benda budaya dari kepunahan. Atas saran Resink, Kroon memulai pembuatan museum tahun 1910 dengan dukungan dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan raja-raja seluruh Bali.
Museum Bali sebagai museum etnografi menyimpan berbagai macam jenis koleksi yang diklasifikasikan menjadi 10 jenis, yaitu: geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa dan teknologi modern. Dalam laporan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Bali yang dibacakan pada pembukaan seminar bertema ”Piranti Pengastawa Sulinggih” di kompleks Museum Bali, Kota Denpasar, Selasa (10/5/2022), disebutkan, Museum Bali memiliki lebih dari 14.540 benda koleksi. Dari keseluruhan koleksi tersebut, sekitar 13.400 benda koleksi sudah diregistrasi dalam basis data museum.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Gede Arya Sugiartha mengatakan, Museum Bali mengelola koleksi benda karya budaya sejak masa lampau sampai masa kini. Belasan ribu benda koleksi Museum Bali ataupun tidak kurang 4.000 lontar koleksi Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali perlu terus dikaji dan keberadaannya diaktualisasikan dengan kondisi saat ini, selain dikonservasi https://www.kompas.id/baca/dikbud/2022/05/10/
Data ribuan koleksi tersebut saat ini sudah bisa diakses pengunjung melalui perangkat komputer yang disiapkan di area museum yang terletak di pusat Ibu Kota Provinsi itu. Selama proses digitalisasi melewati proses panjang identifikasi melalui penelitian dan pengkajian mengenai jenis karya, siapa penciptanya, apa karakternya, termasuk kategori sakral atau tidaknya.
3. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana bermula dari pembentukan Fakultas Sastra sebagai bagian dari Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya pada tahun 1958. Sejak tahun 1962 dibentuk satu perguruan tinggi negeri di Bali bernama Universitas Udayana dan fakultas Sastra menjadi salah satu bagiannya. Awal mula terbentuknya Fakultas Sastra tidak terlepas dari ide-ide para budayawan yang menaruh minat besar terhadap pelestarian budaya Bali seperti Presiden RI Ir. Soekarno, Dr. Reolof Goris, Dr. Ida Bagus Mantra, I Gusti Ketut Ranuh, dan para ahli budaya lainnya. Pembangunan Universitas Udayana dilengkapi dengan ruang penyimpanan lontar untuk mendukung pemeliharaan dan pelestarian manuskrip lontar di Bali.
Sejak berdiri hingga saat ini fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana memiliki koleksi manuskrip lontar yang cukup banyak yakni 950 cakep (bendel). Koleksi lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana meliputi hampir semua jenis lontar seperti lontar tatwa (lontar jenis ini memuat ajaran ketuhanan, alam semesta, dan sebagainya), wariga (ilmu astronomi dan menentukan baik buruknya waktu), itihasa yakni seni sastra berupa kidung maupun geguritan (cerita yang berbentuk tembang seperti Arjunawiwaha dan Semara Dana), lontar usada (ilmu pengobatan tradisional Bali), dan sebagainya.
Selain mengoleksi manuskrip lontar, tempat penyimpan tersebut juga memiliki beberapa kegiatan yang berkaitan dengan upaya pelestarian manuskrip lontar sebagai berikut.
1) Inventarisasi lontar
Berupa kegiatan untuk mendata lontar yang ada di masyarakat meliputi kegiatan perawatan, pembersihan, dan pembacaan lontar.
2) Lomba Nyastra Bali
Kegiatan ini menyasar generasi muda usia sekolah bertujuan untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk mempelajari dan mencintai budaya Bali.
3) Konservasi lontar
Merupakan kegiatan rutin berupa proses pemeliharaan dan perawatan lontar maupun salinan lontar koleksi.
4) Pelayanan
Sebagai salah satu tugas pokok memberi pelayanan maksimal kepada masyarakat yang ingin mempelajari isi manuskrip lontar. Masyarakat yang yang memiliki ketertarikan terhadap budaya Bali, para pelajar, mahasiswa, peneliti, dan orang-orang asing yang ingin mempelajari budaya Bali khususnya manuskrip lontar.
Seperti contoh Koleksi Museum Bali dieksplorasi sebagai bahan kajian yang hasilnya disosialisasikan dan didiseminasikan. Hal ini agar museum dan koleksinya semakin dikenal masyarakat. Demikian pula, Museum Lontar Gedong Kirtya sebagai unit kebudayaan berperanan melestarikan dan memanfaatkan benda cagar budaya berupa lontar, salinan lontar, dan terjemahannya termasuk yang sudah dibukukan. Sangat penting karena mengandung nilai budaya tradisional Bali lengkap, tentang sejarah dan kehidupan, termasuk masalah kehidupan beragama, sastra dan agama, filsafat, kidung dan yang lain, bermanfaat sebagai cermin kehidupan bermasyarakat/menempa karakter luhur generasi muda.
Pemerintah Provinsi Bali selaku pemegang kebijakan daerah telah melakukan berbagai kegiatan guna melestarikan keberadaan manusktip lontar. Salah satu di antaranya yakni memasukkan pelajaran Bahasa Bali sebagai muatan lokal dari usia sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Muatan lokal bahasa Bali dikuatkan dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali pada tahun 1988 dan tetap berlanjut sampai saat ini. Sebagai muatan lokal di sekolah, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Bahasa Bali pun sering dilaksanakan, seperti lomba menulis aksara Bali di atas daun lontar, lomba membaca geguritan (tembang) dari naskah lontar, yang dilaksanakan di tingkat kabupaten, provinsi, maupun dalam kegiatan Pesta Kesenian Bali. Di samping itu pemerintah juga melaksanakan program Utsawa Dharma Gita baik di tingkat lokal maupun nasional. Utsawa Dharma Gita merupakan suatu kegiatan menyanyikan tembang-tembang suci yang tertulis dalam lontar.
Upaya pemerintah dalam rangka membina dan menumbuhkembangkan penggunaan Bahasa Bali diperkuat dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Berdasarkan Peraturan Gubernur Bali No. 80 Tahun 2018 ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan, salah satu di antaranya lomba nyurat (menulis) aksara Bali di atas lembaran daun lontar. Lomba ini dilakukan di kalangan generasi muda usia sekolah dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas. Lomba nyurat aksara Bali bertujuan untuk melestarikan tradisi menulis di atas daun lontar serta menggalakkan minat generasi muda terhadap keberadaan manuskrip lontar. Hal ini tentunya dari berbagai kegiatan tersebut di atas sesuai dengan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
4. Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban
Museum Lontar Desa Adat Dukuh Penaban terletak di Desa Dukuh Penaban Karangasem Bali. Terbentuknya Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban Karangasem dilatarbelakangi kondisi masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban yang sebagian besar pergi merantau ke luar desa. Masyarakat yang terlibat aktif dalam kegiatan desa sangat sedikit, sehingga muncul ide untuk memberi peluang kepada masyarakat untuk bekerja di desa agar tidak semua pergi merantau ke luar desa. Kebetulan saat itu di Bali sedang maraknya pembentukan desa wisata. Maka, ide pembentukan desa wisata mulai digagas untuk memberi peluang kepada masyarakat mengelola potensi pariwisata di desanya. Secara kebetulan juga, masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban banyak yang memiliki lontar sehingga muncul ide untuk membangun desa wisata yang menonjolkan manuskrip lontar. Kemudian, pada tanggal 11 April 2017 masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban mendeklarasikan pembentukan Desa Wisata Dukuh Penaban dengan ikon Museum Pustaka Lontar.
Langkah awal kegiatan Museum Pustaka Lontar adalah mengumpulkan lontar yang ada di masyarakat. Seluruh masyarakat yang memiliki naskah lontar diminta untuk menaruh lontar di museum pustaka lontar. Langkah ini ditanggapi positif oleh masyarakat, banyak lontar-lontar milik pribadi diserahkan ke museum. Lontar yang disimpan di museum dicatat nama pemiliknya, judul lontar, maupun jumlahnya. Namun ada pula lontar yang tidak diserahkan ke museum, tetapi disimpan sendiri di rumah-rumah pribadi. Dengan demikian, koleksi lontar Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban terbagi menjadi dua yaitu; 1) koleksi masyarakat yang ditaruh di museum pustaka lontar; 2) koleksi masyarakat yang dipegang sendiri oleh pemiliknya tetapi dicatat oleh museum pustaka lontar.
Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban ini dibangun di atas tanah milik desa, menggunakan dana desa, dan dikelola bersama oleh masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban. Cara kerja Museum Pustaka Lontar Desa Dukuh Penaban menerapkan pola kolektif (melibatkan seluruh masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban) dan partisipatif (melibatkan masyarakat luar seperti pemerhati budaya, peneliti, kurator, pemerintah, dan lain-lain).
Jumlah koleksi lontar Museum Pustaka Lontar Desa Dukuh Penaban terdiri beberapa lontar.
1) L ontar milik masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban 700 cakep.
2) Salinan lontar milik masyarakat maupun sumbangan 4.000 cakep.
3) Buku-buku cetakan berjumlah 100 judul.
Jenis koleksi lontar cukup beragam seperti lontar usada (ilmu pengobatan tradisional Bali), babad (silsilah atau sejarah), astakosala (arsitektur bangunan tradisional Bali), asta brata (tata cara kepemimpinan), dharma caruban (kuliner tradisonal Bali), dolanan (permainan rakyat), dharma pemaculan (ilmu dan tatacara pengolahan lahan pertanian), kakawin (karya sastra berbentuk tembang seperti Ramayana dan Mahabharata), dan masih banyak lagi jenis-jenis lontar lainnya. Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban juga berhasil mencatat manuskrip lontar berusia ratusan tahun seperti lontar Buana Kosa ditulis tahun 1547 Saka (1625 Masehi) yang memuat filosofi terciptanya dunia. Lontar Tatwa Jnana berangka tahun 1763 Saka (1841 Masehi) memuat filsafat kedharman atau perilaku yang baik. Kakawin Semarandhana dan Tutur Gumi tahun 1762 Saka (1840 Masehi), dan beberapa lontar tua lainnya (wawancara dengan Bapak I Dewa Gede Catra, di Karangasem Bali, Jumat 20 Maret 2020)