Tari Baris merupakan ikon yang lekat dengan kebudayaan Bali yang menyatukan gerak-gerak yang mengandung unsur-unsur ritual dan teatrikal dari masyarakat Hindu-Bali. Di samping itu tari Baris juga melambangkan jiwa kepahlawanan para pemuda Bali dengan kejantanan serta jiwa kepemimpinannya, sehingga biasanya didominasi oleh sekelompok penari laki-laki, karena memiliki ciri khas menggunakan properti berupa senjata dalam pementasannya. Salah satu tari Baris yang sangat unik ada di Dusun Dukuh Penaban Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem adalah Tari Canglongleng, yaitu sebuah tari Baris yang penampilannya mengenakan busana hitam-putih (wastra poleng), dan memiliki fungsi sebagai tarian sakral untuk mengusir penyakit (merana) di desa tersebut. Tari Canglongleng keberadaannya sudah sangat tua sekali dan dipentaskan pada waktu Purnama Kapat, Purnama Kapitu, Purnama Kedasa, Umanis Kuningan dan Pahing Kuningan. Keberadaan Tari Canglongleng hanya satu-satunya tari baris yang ada di Bali di Kabupaten Karangasem tepatnya di Desa Adat Dukuh Penaban karena Tari Canglongleng ini berbeda dengan tari baris pada umumnya yang ada di kabupaten lain di Bali. Tari Canglongleng merupakan sebuah tari sakral yang keberadaanya masih dilestarikan dan dipertahankan sampai saat ini oleh masyarakat Desa Adat Dukuh Panaban. Pada setiap piodalan di Pura Puseh tarian ini wajib dipentaskan karena merupakan ilen-ilen Ida Bhatara Gede Munggah Sakti yang bersthana di Pura Puseh. Keterkaitan Tari Canglongleng ini dengan keberadaan Ida Bhatara Gede Munggah Sakti sangat erat yang dapat dilihat dari kostum penari yang dikenakan yakni berupa saput atau kampuh, dan destar (udeng) yang berwarna poleng (hitam putih). Hal ini senada dengan busana dari Ida Bhatara Gede Munggah Sakti yang juga berwarna poleng. Penari Tari Canglongleng mengenakan saput/kampuh panjang berwarna poleng dari dada menjuntai sampai menutupi mata kaki, sedangkan bagian atasnya terdapat tali yang tersambung dengan saput yang diikatkan kebagian leher. Di bagian kepala memakai destar juga berwarna poleng (hitam putih) dilengkapi dengan daun andong merah yang diselipkan di belakang kepala, dan bunga pucuk bang (kembang sepatu warna merah) disematkan ditelinga kanan yang menandakan keberanian. Tanpa memakai baju dan tidak memakai hiasan muka. Tari Canglongleng memiliki gerak tari yang cukup sederhana. Dalam menarikan tari ini para penari ini tidak harus belajar secara khusus layaknya tari Bali pada umumnya, hanya dengan melihat secara langsung para seniornya mereka akan bisa menarikan. Hal ini disebabkan karena gerakan yang mereka tarikan merupakan gerakan sederhana dan sifatnya spontan tidak harus meniru pakem tertentu namun tetap harus mengikuti melodi dari irama gamelan yang mengiringi. Di dalam menari penari akan membawa properti berupa keris yang disematkan dipunggung, dan tamiang (perisai) yang terbuat dari kayu (kayu dadap) dibawa ditangan kanan. Kedua properti tersebut akan dimainkan tatkala menari, terkadang secara bergiliran keris akan dicabut dari werangkanya dan dimainkan sambil menari, kemudian perisai dimainkan ketika menari, serta perisai dan keris dimainkan secara bersamaan. Ketika gambelan pembuka dibunyikan, para penari sudah siap dengan busana lengkap menunggu di jaba pura. Begitu menginjak pada gamelan Tari Canglongleng, satu orang penari masuk melalui candi bentar menuju Jaba Tengah pura sambil menari mengikuti irama gamelan, kemudian disusul oleh penari lainnya satu persatu menari dari Jaba Sisi pura menuju Jaba Tengah sampai keenam penari memasuki Jaba Tengah. Setiap pergantian atau giliran para penari memasuki areal menari atau Jaba Tengah ditandai dengan empat ketukan kempul. Setelah lengkap enam orang, barulah gerakan penari terlihat seragam. Penari akan menari mengikuti irama gamelan di Jaba Tengah, sedangkan di Utama Mandala pura sudah bersiap tarian pamendak (menyambut) menghadap ke penari Canglongleng. Penari pamendak ini mulai dari yang membawa segehan dialasi dengan kelatkat, toya anyar, kelungah, tuak, arak, dan berem, serta dilengkapi dengan api takepan yang dibuat dengan sambuk (serabut buah kelapa sebagai pemisah). Para penari bergerak dengan gerakan tarian menyuguhkan apa yang mereka bawa, gerakan Tari Canglongleng pada saat menerima pamendak adalah kaki kanan berada di depan dan kaki kiri berada di belakang. Kemudian tangan kanan memegang tamiang yang diletakkan di depan dada. Sedangkan tangan kiri diayun ke belakang, posisi badan agak dibungkukkan, kemudian kaki dihentakkan sebanyak tiga kali, lalu dilanjutkan dengan bersorak iiiiiiiih….uuuuuuuh. Sorakan itu mengandung makna tertentu. sorakan ‘Iiiiiiih’ berarti memanggilSang Bhuta Kala untuk menerima suguhan yang disajikan seperti segehan (dialasi dengan kelatkat), toya anyar, klungah, tuak, arak, dan berem. Kemudian sorakan ‘Uuuuh’ berarti meminta ke hadapan Sang Bhuta Kala segera meninggalkan tempat itu setelah menerima suguhan dan tidak mengganggu jalannya upacara. Setelah para penari pamendak selesai menyuguhkan upakara pamendak keenam penari menuju jeroan pura untuk melanjutkan tariannya. Penari menari dengan memutar tamiang, menghadap ke utara, tiga kali pukulan gong dan menghadap ke selatan, tiga kali pukulan gong. Setelah menghadap ke utara, penari berjongkok menghunus keris, selanjutnya mereka menari seperti keadaan sedang berperang. Menari dengan menggunakan keris yang diputar-putar menghadap ke utara tiga kali pukulan gong dan menghadap ke selatan tiga kali pukulan gong, disertai juga dengan sorakan ‘iiiiiiiiih…….. uuuuuuuh’. Setelah itu, para penari menyarungkan kembali kerisnya. Fase yang terakhir penari kembali dengan gerakan yang pertama dengan gerakan kaki diangkat bergantian juga gerakan tangannya. Bila kaki kanan yang diangkat, tangan kanan yang memegang tamiang diayun ke depan dan diangkat ke atas, tangan kiri diayunkan ke belakang. Selanjutnya bila kaki kiri yang diangkat, tangan kiri diayun ke depan atas sedangkan tangan kanan yang memegang tamiang ditekuk sehingga tamiang tepat berada di depan dada kiri penari. “Tarian berakhir setelah semua penari bersorak iiiiiiiiih……. uuuuuh sebagai penutup tarian.