Di Desa Selulung, Kintamani, Bangli, ada sebuah tarian yang menyimpan percakapan panjang antara manusia, ladang, hutan, dan seekor lutung. Namanya Tari Baris Jojor Lutung Jenuk. Bagi masyarakat Selulung, tarian ini adalah bagian dari tata kehidupan keagamaan, diwariskan melalui masyarakat adat, dan dipentaskan dalam rangkaian upacara di Pura Kahyangan Desa. Tari ini bahkan memiliki posisi khusus dalam sistem sosial desa, dimana Banjar Sabang mendapat tanggung jawab untuk mewariskan dan menarikan Baris Jojor. Tarian ini menggunakan gerak-gerak yang sangat sederhana dengan peniruan terhadap bentuk-bentuk alam khususnya binatang Lutung. Secara musikal, iringan tarinya juga sangat sederhana namun harus menggunakan instrument reong Lingsir yang menjadi salah satu bagian dari Gong Duwe Desa Selulung. Selain itu tata pementasannya dipertahankan sebagai bagian dari tradisi yang wajib dipentaskan disetiap karya di pura Kahyangan Desa.
Tetapi di balik gerak para penari yang membawa tongkat, adegan mencari makanan, gerakan nyabit, mikul, ngoros, dan nyelat, terdapat sebuah cerita yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar cerita tentang monyet yang memakan tanaman. Cerita itu adalah cerita tentang ruang hidup. Dan mungkin, jika kita membacanya dari perspektif konservasi hari ini, pertanyaan yang paling penting bukan lagi tentang Bagaimana manusia mengusir lutung dari pertanian? Melainkan tentang Mengapa lutung datang ke pertanian?”
Ketika Lutung Datang ke Kebun
Konon, pada masa lalu Ki Dukuh Nyoman Sadri membuka kebun di wilayah yang sekarang menjadi Desa Selulung. Ia menanam jagung, umbi-umbian, dan pisang. Ketika tanaman mulai berbuah, datanglah sekelompok monyet dari arah Bantang Kedis dan merusak tanaman tersebut. Ketika tanaman dirusak, maka yang terganggu bukan hanya hasil panen, tetapi juga rasa aman manusia terhadap kehidupannya.
Dalam cerita tersebut, Ki Dukuh kemudian berhadapan dengan seekor monyet putih. Terjadi percakapan yang menarik: manusia ingin melindungi tanamannya, sementara sang monyet membawa pesan yang berbeda bahwa kaumnya membutuhkan makanan. Pada akhirnya, tercipta sebuah kesepakatan yang menghubungkan kebun, tempat suci, kesuburan, dan keberlangsungan kehidupan melalui pemberian Nasi Tawur kepada Lutung. Kisah tersebut kemudian diabadikan melalui Tari Baris Jojor Lutung Jenuk.
Leluhur Selulung tidak memilih jalan pemusnahan.
Lutung tidak dibunuh. Ia diusir. Lebih jauh lagi, keberadaannya dinegosiasikan melalui hubungan sakral. Bagi pembacaan konservasi masa kini, ini merupakan gagasan yang sangat penting. Tetapi, Apakah Lutung Memang Hama? Kata “hama” sesungguhnya selalu memiliki sudut pandang. Bagi petani yang jagungnya habis dimakan, lutung adalah hama. Tetapi bagi lutung, tanaman jagung itu bukan “tanaman milik manusia”. Ia adalah sumber makanan yang tersedia di dalam ruang yang sedang ia jelajahi.
Lutung tidak mengenal sertifikat kepemilikan tanah. Lutung tidak mengenal batas administratif desa. Lutung tidak memahami bahwa pohon tertentu telah ditanam, dipupuk, dirawat dan akan dipanen manusia tiga bulan kemudian. Ia hanya mengenali kebutuhan paling dasar tentang makan, bergerak, berlindung, berkembang biak, dan bertahan hidup.
Karena itu, menyebut lutung sebagai hama memang dapat benar dari perspektif ekonomi pertanian, tetapi menjadi problematis apabila label tersebut membuat kita lupa bahwa lutung juga merupakan bagian dari ekosistem. Dalam konteks konservasi, konflik manusia dan satwa liar sering kali tidak sesederhana pertentangan antara “petani baik” dan “satwa pengganggu”. Konflik muncul ketika ruang hidup kedua pihak bertumpang tindih.
Kajian tentang lutung menunjukkan bahwa fragmentasi habitat dan terputusnya koridor ekologis dapat membatasi pergerakan kelompok lutung. Ketika ruang hidup menyempit, batas antara habitat alami dan ruang produksi manusia menjadi semakin kabur.
Maka barangkali kita perlu membalik cara pandang. Bukan lutung yang tiba-tiba menjadi hama. Bisa jadi, kita yang perlahan-lahan mengubah habitatnya menjadi kebun.
Dari Hutan ke Ladang, Dari Ladang ke Konflik Manusia dan Lutung
Seekor lutung tidak bangun pada suatu pagi dan memutuskan “Jani Lakar Luwas ngalih amah di tegalan desa Selulunge” (Hari ini saya akan menjadi hama bagi petani Selulung). Ia hanya mengikuti lanskap yang tersedia. Ketika hutan menyediakan makanan, ia berada di hutan. Ketika pepohonan menyediakan jalur untuk berpindah, ia menggunakan pepohonan. Ketika ruang hidup terfragmentasi, ia mencari ruang baru. Dan ketika kebun manusia menjadi ruang yang menyediakan makanan, kebun itu pun menjadi bagian dari wilayah jelajahnya.
Penelitian mengenai habitat lutung di berbagai wilayah Indonesia, termasuk keberadaanya di wilayah pegunungan Kintamani menunjukkan betapa pentingnya vegetasi, pohon pakan, dan konektivitas habitat bagi keberlangsungan populasi lutung. Fragmentasi habitat dan perubahan penggunaan lahan menjadi salah satu persoalan penting dalam konservasi primata. Dengan demikian, konflik antara lutung dan petani sesungguhnya adalah konflik ekologis yang memiliki akar pada perubahan lanskap.
Di sinilah cerita lama Selulung menjadi relevan kembali. Karena masyarakat leluhur ternyata telah menyimpan cara pandang yang tidak sepenuhnya bersifat konfrontatif. Mereka tidak hanya mengatakan “Ulah ba Lutunge To “ (usir monyet itu), Mereka menciptakan cerita. Mereka membuat ritual. Mereka membangun ruang sakral. Mereka menciptakan tari. Dan yang paling penting, mereka mengubah konflik menjadi pengetahuan yang diwariskan.
Tari sebagai Arsip Ekologi
Barangkali kita terlalu sering melihat tari tradisional hanya dari sudut bentuk, Geraknya Busananya, Musiknya, Jumlah penarinya, waktu penmentasannya, semua hal itu penting, tetapi dalam Tari Baris Jojor Lutung Jenuk menawarkan pertanyaan lain, yaitu Pengetahuan apa yang sedang disimpan oleh tubuh penari?
Ketika penari menirukan gerak lutung, sebenarnya tubuh manusia sedang mencoba memahami tubuh makhluk lain. Ini menarik. Sumber lokal yang dicatat dalam Penelitian Wulandari (2015) dan laporan Penelitian Mahasiswa Antropologi tahun 2024 mengenai tari Jojor Lutung Jenuk tersebut mencatat bahwa sejumlah gerak Baris Jojor justru lahir dari pengamatan terhadap gerak monyet. Penari menirukan perilaku mencari makanan dan aktivitas lutung melalui tubuh mereka.
Dengan kata lain, manusia tidak hanya bercerita tentang lutung. Manusia meminjam tubuhnya. Di sinilah tari dapat dibaca sebagai bentuk pengetahuan ekologis. Penari mengamati. Penari meniru. Penari mengingat. Kemudian masyarakat mengulangnya dalam upacara.
Konservasi yang Tidak Berawal dari Larangan

Gambar 1. Adegan Ngaturang Nasi pada Pertunjukan Tari Baris Jojor Lutung Jenuk di Pura Pucak Penulisan tahun 2023
Tari Baris Jojor Lutung Jenuk merupakan contoh menarik dari mekanisme konservasi dengan mitos, ritual, kesenian dan kewajiban sosial. Penelitian sebelumnya oleh Wulandari (2015) menunjukkan bahwa tari ini memiliki fungsi keagamaan sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat. Ia berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen dan harapan agar masyarakat dijauhkan dari serangan hama. Bahkan dalam pemaknaan masyarakat, tarian ini berkaitan dengan cara menghalau hama tanpa membunuhnya. Kalimat terakhir ini layak kita berhentikan sejenak.
Tanpa membunuhnya.
Di dalamnya terdapat sebuah etika.
Manusia tetap boleh mempertahankan ladangnya.
Tetapi kehidupan lain tidak harus dimusnahkan.
Bukankah ini salah satu prinsip penting konservasi?
Jika Tari Baris Jojor Lutung Jenuk dibaca kembali dalam perspektif konservasi, maka makna “mengusir hama” dapat diperluas menjadi mengelola konflik manusia dan satwa liar. Perbedaannya tampak kecil, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Mengusir hama berangkat dari logika bahwa satwa adalah masalah.
Namun, dalam kaca mata mengelola konflik berangkat dari kesadaran bahwa manusia dan satwa memiliki kebutuhan yang bertemu pada ruang yang sama. Perubahan sudut pandang ini membuat tarian menjadi semakin relevan. Ia tidak harus dipaksa menjadi kampanye konservasi modern. Justru kekuatannya terletak pada kenyataan bahwa ia telah memiliki logika ekologis sendiri.
Membaca Kembali Jojor Lutung Jenuk

Gambar 2. Adegan Menirukan Lutung sedang mencari Makan dalam Tari Baris Jojor Lutung Jenuk di Pura Pucak Penulisan tahun 2023
Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat Tari Baris Jojor Lutung Jenuk hanya sebagai tari sakral yang menceritakan gangguan monyet terhadap tanaman. Pembacaan seperti itu memang benar, tetapi belum selesai.
Tarian tersebut dapat dibaca sebagai arsip ekologis masyarakat Selulung, sebuah arsip yang merekam cara masyarakat memahami hubungan antara pertanian, satwa, ruang hidup, kesuburan, leluhur, dan dunia sakral. Dalam arsip itu, lutung memang pernah menjadi hama. Tetapi ia tidak berhenti sebagai hama. Ia berubah menjadi tokoh cerita. Ia menjadi lawan dialog. Ia menjadi sumber gerak. Ia menjadi bagian dari ritual. Bahkan, melalui tubuh para penari, ia menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Maka, Jika manusia ingin terus hidup dari tanah, seberapa jauh manusia bersedia memberi ruang bagi kehidupan lain untuk tetap hidup bersamanya?
Pertanyaan itu dijawab melalui setiap kali para penari kembali bergerak sebagai lutung, sebuah pengetahuan lama kembali mengingatkan kita bahwa alam bukan halaman belakang kehidupan manusia. Alam adalah rumah yang kita bagi bersama.
“Seluruh isi, keaslian data, dan argumen yang tersaji dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penuh penulis.”