Latar Belakang
Bali dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya berupa seni tari yang tumbuh dan berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat pendukungnya. Dalam kebudayaan Bali, tari tidak hanya dipandang sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upacara keagamaan Hindu. Berdasarkan fungsinya, tari Bali dibedakan menjadi Tari Wali (sakral), Tari Bebali (semi sakral), dan Tari Balih-balihan (hiburan).

Gambar 1. Foto Bersama Penari Baris Bandrangan
(dok: Made Sumaryadi)
Salah satu tari sakral yang masih dipertahankan keberadaannya adalah Tari Baris Bandrangan di Pura Sari Abangan, Banjar Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Tarian ini hanya dipentaskan pada saat pelaksanaan pujawali sebagai bagian dari rangkaian ritual keagamaan. Oleh masyarakat setempat, tari ini diyakini sebagai simbol pasukan suci yang mengiringi Ida Bhatara ketika berlangsungnya upacara.
Sebagai salah satu jenis Tari Baris, Tari Baris Bandrangan merepresentasikan sosok prajurit yang gagah berani. Namun, berbeda dengan Tari Baris pada umumnya yang lebih sering dipentaskan sebagai seni pertunjukan, Tari Baris Bandrangan di Pura Sari Abangan memiliki fungsi utama sebagai sarana upacara (wali). Masyarakat setempat meyakini bahwa tarian ini merupakan simbol pasukan suci yang mengiringi kehadiran Ida Bhatara serta menjaga kesucian jalannya upacara.
Keunikan Tari Baris Bandrangan terletak pada keterikatannya yang sangat kuat dengan sejarah dan tradisi Pura Sari Abangan. Berdasarkan tradisi lisan masyarakat serta dokumentasi Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, tarian ini dikaitkan dengan pasukan perang Ida Bhatara Dewa Agung Wayan yang berstana di Pura Sari Abangan. Oleh karena itu, setiap gerak tari tidak sekadar menjadi ekspresi estetis, melainkan mengandung makna spiritual sebagai pengiring persembahan kepada Ida Bhatara dan Ida Bhatari yang berstana di pura tersebut.
Di tengah perkembangan pariwisata dan modernisasi, banyak tari sakral mengalami perubahan fungsi menjadi seni pertunjukan. Namun demikian, Tari Baris Bandrangan tetap mempertahankan nilai kesakralannya sehingga menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Banjar Ancak yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan.
Rumusan Masalah
- Bagaimana sejarah keberadaan Tari Baris Bandrangan di Pura Sari Abangan?
- Apa fungsi Tari Baris Bandrangan dalam pelaksanaan pujawali?
- Apa keunikan Tari Baris Bandrangan dibandingkan Tari Baris lainnya?
- Bagaimana upaya pelestarian Tari Baris Bandrangan?
Tujuan Penulisan
- Mendeskripsikan sejarah Tari Baris Bandrangan.
- Menjelaskan fungsi sakralnya dalam upacara pujawali.
- Mengidentifikasi nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
- Menjelaskan bentuk pelestarian yang dilakukan masyarakat.
Sejarah Keberadaan Tari Baris Bandrangan
Keberadaan Tari Baris Bandrangan tidak dapat dipisahkan dari sejarah Pura Sari Abangan yang menjadi salah satu pura penting di Banjar Ancak. Berdasarkan tradisi lisan masyarakat, tari ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu sebagai bagian dari sistem upacara di pura tersebut.

Gambar 2. Foto Kostum Penari Baris Bandrangan
(dok: Made Sumaryadi)
Nama Bandrangan diyakini berkaitan dengan pasukan atau prajurit yang bertugas mengawal perjalanan suci Ida Bhatara. Oleh karena itu, seluruh gerakan tari menggambarkan kesiapsiagaan, keberanian, dan pengabdian seorang prajurit terhadap pemimpin spiritualnya.
Berbeda dengan tari pertunjukan, Tari Baris Bandrangan tidak memiliki orientasi hiburan, melainkan sepenuhnya merupakan media persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasi-Nya yang dipuja di Pura Sari Abangan.
Kedudukan Tari Baris Bandrangan Sebagai Tari Wali
Dalam konsep seni pertunjukan Bali, Tari Baris Bandrangan termasuk kategori Tari Wali, yaitu tari yang hanya dipentaskan untuk kepentingan ritual keagamaan.
Sebagai Tari Wali, pementasan Tari Baris Bandrangan memiliki beberapa ketentuan adat, antara lain:
- hanya dipentaskan ketika pujawali;
- diawali dengan upacara penyucian;
- penari wajib melaksanakan penyucian diri;
- tidak boleh dipentaskan di luar konteks ritual.
Ketentuan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap kesucian tarian sekaligus menjaga nilai spiritual yang diwariskan oleh leluhur.
Bentuk Penyajian Tari
Secara visual, Tari Baris Bandrangan menampilkan karakter keprajuritan yang kuat.
Ciri-cirinya meliputi:
- mengenakan kain poleng;
- menggunakan destar khas;
- membawa perlengkapan ritual seperti canang repe dan bandrangan;
- mengenakan selendang kuning sebagai simbol kesucian;
- menggunakan rias wajah sederhana yang mempertegas karakter;
- menggunkan kacamata Hitam.
Gerakan tari didominasi langkah tegas, sikap siaga, gerakan mata yang tajam, serta formasi yang menggambarkan pasukan perang.
Musik pengiring menggunakan gamelan Bali yang dimainkan secara khusus mengikuti jalannya upacara.
Fungsi Tari Baris Bandrangan
Fungsi Religius
Fungsi utama tari adalah sebagai persembahan kepada Ida Bhatara. Masyarakat percaya bahwa kehadiran tari menjadi bagian dari penyempurna pelaksanaan pujawali.
Fungsi Ritual
Tarian mengiringi prosesi tertentu dalam rangkaian pujawali sehingga menjadi media komunikasi simbolik antara manusia dan Tuhan.
Fungsi Sosial
Pementasan melibatkan seluruh masyarakat Banjar Ancak melalui sistem ngayah dan luputan.
Kegiatan tersebut memperkuat solidaritas sosial dan mempererat hubungan antarwarga. Sistem ngayah adalah krama pengempon di Pura Sari Abangan secara sukarela untuk menarikan tarian Tari Baris Bandrangan dan tidak dikenai Urunan/sumbangan wajib Adat (luputan) manakala dilaksanakan pujawali di ura Sari Abangan setiap Tahunnya atau setiap 5 tahun. Dan yang sudah tercatat sebagai penari sakral di Pura sari Abangan ridak boleh ada krama yang lain untuk menarikannya lagi.
Fungsi Pendidikan
Melalui regenerasi penari, generasi muda belajar mengenai:
- nilai religius;
- etika adat;
- tanggung jawab;
- disiplin;
- pelestarian budaya.
Nilai-Nilai Budaya
Tari Baris Bandrangan mengandung berbagai nilai budaya.
- Nilai Religius
Menjadi media bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. - Nilai Historis
Menjadi bukti kesinambungan tradisi masyarakat Banjar Ancak sejak masa lampau. - Nilai Filosofis
Melambangkan pengabdian, keberanian, kesetiaan, dan perlindungan terhadap kesucian pura. - Nilai Sosial
Memperkuat rasa kebersamaan melalui tradisi ngayah. - Nilai Estetika
Terlihat pada harmonisasi gerak, busana, iringan gamelan, dan tata upacara.
Keunikan Tari Baris Bandrangan
Beberapa keunikan Tari Baris Bandrangan antara lain:
- Hanya terdapat di Banjar Ancak.
- Tidak dipentaskan untuk hiburan.
- Menjadi bagian wajib dalam pujawali.
- Tetap mempertahankan bentuk tradisionalnya.
- Penari berasal dari masyarakat adat.
- Regenerasi dilakukan secara turun-temurun.
- Menjadi identitas budaya Banjar Ancak.
Keunikan tersebut menjadikan Tari Baris Bandrangan sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi sejarah kebudayaan Bali.
Pelestarian Tari Baris Bandrangan
Pelestarian dilakukan melalui beberapa upaya, yaitu:
Pelestarian oleh Desa Adat
- mempertahankan awig-awig;
- menjaga kesakralan tarian;
- menyiapkan generasi penerus.
Pelestarian oleh Masyarakat
- aktif ngayah;
- menjaga perlengkapan tari;
- mempertahankan tata cara pementasan.
Pelestarian oleh Pemerintah
- pendokumentasian;
- penelitian;
- inventarisasi warisan budaya;
- pembinaan seniman tradisional.
Pelestarian Akademik
- penyusunan buku;
- penelitian ilmiah;
- publikasi jurnal;
- digitalisasi dokumentasi.
KESIMPULAN
Tari Baris Bandrangan merupakan salah satu warisan budaya sakral masyarakat Banjar Ancak yang masih lestari hingga saat ini. Keberadaannya tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga mengandung dimensi religius, historis, sosial, filosofis, dan budaya yang sangat kuat. Sebagai Tari Wali, pementasannya hanya dilakukan dalam rangkaian pujawali di Pura Sari Abangan sehingga kesakralannya tetap terjaga.
Keunikan Tari Baris Bandrangan terletak pada keterikatannya dengan tradisi lokal Banjar Ancak, sistem regenerasi berbasis adat, serta fungsinya sebagai media persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial, masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur sehingga tarian ini tetap hidup sebagai identitas budaya sekaligus simbol pengabdian spiritual.
Pelestarian Tari Baris Bandrangan memerlukan sinergi antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan generasi muda agar keberadaannya tidak hanya terdokumentasikan, tetapi juga tetap diwariskan secara autentik kepada generasi mendatang. Dengan demikian, Tari Baris Bandrangan akan terus menjadi bagian penting dari khazanah budaya Bali dan memperkaya keberagaman warisan budaya Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Bandem, I Made. 1983. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar: Akademi Seni Tari Indonesia.
Bandem, I Made dan Fredrik Eugene deBoer. 2004. Kaja dan Kelod: Tarian Bali dalam Transisi. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.
Dibia, I Wayan. 1999. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Dibia, I Wayan. 2012. Geliat Seni Pertunjukan Bali. Denpasar: Arti Foundation.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Pitana, I Gde. 1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Soedarsono. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng. 2023. Profil Warisan Budaya Kabupaten Buleleng. Singaraja.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV. 2024. Dokumen Inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan Provinsi Bali. Denpasar.
“Seluruh isi, keaslian data, dan argumen yang tersaji dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penuh penulis.”