SEKILAS TENTANG
Pura Natar Jemeng merupakan salah satu pura kuno di Desa Adat Pinge yang memiliki nilai sejarah, dan spiritual tinggi. Beberapa data kesejarahan seperti lontar Usana Bali, Khutara Dewa Purana, serta tradisi lisan masyarakat setempat memberikan gambaran mengenai keberadaan pura ini berkaitan dengan perjalanan Sri Jaya Sakti yang mendirikan sejumlah pesraman sebagai tempat yoga dan pembinaan spiritual di wilayah pegunungan. Salah satu kawasan yang kemudian berkembang menjadi permukiman adalah Pinge, yang selanjutnya menjadikan Pura Natar Jemeng sebagai pusat pemujaan.
Dalam tradisi masyarakat setempat, Pura Natar Jemeng diyakini sebagai tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Wisnu, pelindung dan pemelihara kehidupan. Lebih lanjut, sebelum berkembangnya ajaran Hindu, masyarakat Pinge telah menganut kepercayaan terhadap roh leluhur, benda-benda alam, serta hewan-hewan yang dianggap memiliki kekuatan suci. Tradisi tersebut kemudian disempurnakan dengan penyebaran ajaran Hindu oleh Rsi Madura, yang memperkuat nilai-nilai keagamaan tanpa menghilangkan kearifan lokal yang telah hidup di masyarakat.
Eksistensi Keberadaan Pura Natar Jemeng juga didukung oleh berbagai tinggalan arkeologi yang mencerminkan kesinambungan sejarah dari masa prasejarah hingga Bali Kuna. Beberapa peninggalan yang masih dapat dijumpai seperti menhir, arca Dwarapala, lingga dan yoni, arca Durga Mahisasuramardini, arca Ganesha, miniatur candi, dan lain sebagainya. Kekayaan tinggalan tersebut menjadikan Pura Natar Jemeng tidak hanya sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang penting dalam perjalanan sejarah dan perkembangan peradaban Hindu di Bali.