Pada masa Kerajaan Jembrana diyakini sudah ada perajin tenun atau kemahiran tenun cag cag untuk membuat kain yang digunakan untuk keperluan upacara maupun kebutuhan dari kerajaan. Semua perempuan diwajibkan dapat menenun cagcag, sehingga setelah pubertas perempuan Bali yang hendak merambah pernikahan otomatis kamben (songket) yang mereka tenun akan dipakai kala upacara pernikahan mereka. Apalagi sampai di akhir hayatnya kain songket itu hendak turut dibakar dikala upacara pengabenan mereka.