Masyarakat menggunakan berbagai sistem tanda dalam seni tradisi Okokan untuk mengungkap jati diri dan membangun keharmonisan dengan alam. Pierce (dalam Endraswara, 2008:65) membagi tanda berdasarkan hubungan antara tanda dan maknanya menjadi tiga jenis, yaitu ikon, indeks, dan simbol.
Ikon menunjukkan kesamaan antara tanda dan objek yang diwakilinya. Dalam tradisi Okokan, masyarakat menggunakan bunyi dan bentuk Okokan sebagai media untuk membangun harmonisasi antara manusia dan lingkungan alam, termasuk dengan makhluk tak kasat mata yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia.
Indeks menunjukkan hubungan sebab-akibat antara tanda dan objek yang diwakilinya. Masyarakat memanfaatkan bunyi Okokan sebagai media penghubung antara manusia dan Tuhan. Vibrasi gelombang suara Okokan membawa energi positif yang menciptakan harmonisasi antara swah loka sebagai alam kedewataan dan bhaw loka sebagai alam manusia.
Simbol menunjukkan makna yang lahir dari kesepakatan dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat menjadikan Okokan sebagai media untuk memperkuat hubungan sosial, membangun ketenteraman, solidaritas, persatuan, rasa senasib sepenanggungan, dan sikap saling menolong.
Melalui ketiga sistem tanda tersebut, masyarakat memaknai seni tradisi Okokan sebagai media yang menghubungkan manusia, alam, makhluk tak kasat mata, dan Tuhan. Tradisi ini mencerminkan upaya masyarakat menjaga keseimbangan dan mencapai keharmonisan kehidupan.
(2) Indeks menunjukkan tanda yang memiliki hubungan kausal dengan objek yang ditandakan. Masyarakat menggunakan Okokan sebagai media penghubung antara manusia dan Tuhan melalui vibrasi gelombang suara Okokan yang mengandung energi positif. Vibrasi tersebut menciptakan harmonisasi antara alam atas (swah loka) sebagai alam kedewataan dan alam madya (bhaw loka) sebagai alam manusia.
(3) Simbol menunjukkan tanda yang memiliki hubungan makna berdasarkan kesepakatan dalam lingkungan sosial tertentu. Masyarakat juga menggunakan Okokan sebagai media untuk membangun kehidupan sosial antarmanusia sehingga tercipta ketenteraman, solidaritas, persatuan, rasa senasib sepenanggungan, dan sikap saling menolong dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, masyarakat memaknai seni tradisi Okokan sebagai media yang menghubungkan kehidupan manusia, makhluk tak kasat mata, dan Tuhan untuk mencapai kehidupan universal yang harmonis.