Di sebuah sudut Desa Bedulu, artefak-artefak itu tampak diam. Namun, mereka sesungguhnya saling bercerita. Sebuah cerita panjang perjalanan manusia di Pulau Dewata. Bisik-bisik ragam dongengnya, seolah mampu mengajak setiap pengunjung berjalan melintasi berbagai peradaban jaman. Arkeolog terdahulu merajut kisah tentang berbagai temuan di dalamnya, dan menjadi salah satu destinasi dimana para pengunjung merasakan sebuah dimensi yang jarang ditemui di era modern.

Gambar 1. Tampak Depan Museum Sarkofagus yang berdampingan dengan Kantor Balai Kebudayaan Bali
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Pada mulanya, ia ditetapkan pada 14 September 1974 dengan nama Museum Arkeologi Gedong Arca. Gagasan pendiriannya bermula dari banyaknya temuan benda purbakala yang berhasil dikumpulkan dari berbagai wilayah Bali. Dikisahkan setelah masa kemerdekaan, Jawatan Purbakala mulai membuka kantor di beberapa daerah seperti Yogjakarta dan Makassar. Kala itu, pada 1951 Jawatan Purbakala dilebur menjadi Dinas Purbakala yang berada di bawah naungan administrasi Jawatan Kebudayaan Kementerian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan. Bersamaan dengan itu di Bali dibentuk Dinas Purbakala Seksi Bangunan yang berlokasi di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali dibawah pimpinan J.C Krijgman. Pemilihan lokasinya pun disebabkan karena banyaknya temuan peninggalan purbakala yang terdapat di sekitar Desa Bedulu. Ketika itu, banyaknya temuan hasil penyelamatan ini akhirnya disimpan oleh Dinas Purbakala dan mulai terpikirkan sebuah ide untuk membangun sebuah museum.
Pada akhir 1950-an, pembangunan museum mulai dirintis. Salah satu tokoh penting di balik gagasan tersebut adalah arkeolog R. P. Soejono, bersama Soekarto Atmojo. Keberadaannya berawal dari benda-benda hasil penyelamatan dari lapangan yang ditempatkan di bangunan sederhana. Benda-benda ini kemudian diberdayakan dengan tujuan menyelamatkan, merawat, memamerkan, dan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai benda-benda cagar budaya yang ditemukan melalui kegiatan arkeologi di Bali. Dan kini, pasca aktivasi oleh Menteri Kebudayaan pada 27 Februari 2025, museum ini dikenal dengan nama Museum Sarkofagus.

Gambar 2. Suasana Salah Satu Gedung Yang Menyimpan Artefak di Museum Sarkofagus
(dok: Dewa Ayu Windu 2026)
Benda-benda hasil penyelamatan di sini, dipajang sedemikian rupa dengan runut, bercerita dari masa prasejarah hingga peradaban masa klasik di Pulau Bali. Batu dan logam di sini mendongeng tentang pembabakan masa batu, hingga peradaban Hindu-Budha yang sempat menjamah Pulau Dewata. Suasana yang ditawarkan sangat lekat dengan suasana kebanyakan rumah masyarakat Bali, yakni bangunan khas Bali berupa gedong-gedong yang beradu dengan tata taman yang indah. Bedanya, gedong-gedong di sini menyimpan artefak-artefak dengan nilai arkeologi. Tak seperti kebanyakan museum yang berupa satu gedung besar, di sini pengunjung justru dapat merasakan suasana nyaman di area taman. Pun sesekali udara asri desa Bedulu membelai lembut saat menapaki langkah demi langkah di Museum Sarkofagus.
Awal Perjalanan Melintasi Linimasa
Museum ini beralamat di Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, berdampingan dengan Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Bali. Awal memasuki area Museum Sarkofagus kita sudah disambut oleh sebuah bangunan wantilan, yakni bangunan terbuka khas tradisional Bali yang berdiri megah tanpa dinding besar dengan atap bertingkat. Bangunan ini dapat digunakan sebagai area peristirahatan sementara atau pun ruang tunggu yang aman. Meski tanpa dinding, tanpa pendingin ruangan, area ini tetap nyaman sebab sesekali disapa oleh sepoi-sepoi udara Desa Bedulu. Tempat ini pun kerap menjadi titik kumpul pengunjung dan siswa saat mendapat pembekalan sebelum memasuki dan berkunjung ke area inti Museum Sarkofagus.

Gambar 3. Wantilan Yang Kerap dijadikan Tempat Pembekalan Siswa Sebelum Berkunjung ke Area Inti Museum Sarkofagus
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Gedung A
Perjalanan di museum sarkofagus dimulai dari masa prasejarah. Barisan vitrin di gedung A dari kiri bercerita tentang pembabakan masa batu hingga masa logam. Di sini kita berjumpa dengan beberapa buah batu yang masih kasar hingga halus. Batu ini berkisah tentang alat sederhana yang digunakan oleh manusia prasejarah dalam menggunakan peralatan sederhana dalam kesehariannya. Batu yang masih kasar ini berkisah tentang zaman batu tua (paleolitikum), dimana keseharian manusia masih berpindah-pindah dan kebutuhan hidup dipenuhi dengan berburu dan meramu. Sedang alat batu yang mulai disempurnakan dan sedikit lebih halus bercerita tentang manusia yang mulai menetap serta mengenal bercocok tanam dasar yang kerap kita sebut dengan zaman batu tengah (mesolitikum). Tak kalah dengan sebelumnya, tinggalan masa batu muda (neolitikum) diwakilkan oleh tinggalan seperti kapak lonjong dan kapak persegi. Batu-batu yang melintasi beberapa pembabakan masa ini tak hanya bercerita tentang alat sederhana, namun juga bagaimana nalar manusia yang masih sederhana mulai memiliki upaya dalam mengubah batu sederhana menjadi semakin berdaya. Vitrin lainnya, menyimpan tinggalan perunggu yang menggambarkan manusia sudah mulai mengenal aksesoris sederhana. Pada sisi paling kanan, perwakilan zaman batu besar (megalitikum) yaitu sebuah arca sederhana kembar yang bersanding bersama dalam batas kaca.

Gambar 4. Beberapa Jenis Artefak Yang Bisa Dijumpai di Gedung A
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Gedung B
Memasuki area ini, kita disuguhi dengan kisah di balik peradaban manusia prasejarah di Gilimanuk. Tinggalan arkeologi dari Bali Barat ini, banyak berupa bekal kubur serta periuk berbahan tanah liat. Barisan periuk dan pola-pola diantara kereweng menggambarkan betapa nalar seni manusia mulai tumbuh dan merekah dari waktu ke waktu. Jika sekarang kita melihat lukisan yang indah di sebuah perabotan rumah tangga, mungkin ini lah akar dari ide sederhana itu. Motif jala dan motif garis yang menghiasi kereweng yang ada, mungkin adalah percikan seni yang mulai bertunas dari sebuah pikiran sederhana.
Ada satu buah benda yang cukup menarik perhatian di bagian pojok disimpan pada sebuah kotak kaca. Pengunjung anak-anak banyak yang menyebutnya “telur dinosaurus”, namun sesungguhnya itu adalah tempayan. Tempayan besar ini merupakan wadah tulang belulang manusia yang kala itu untuk dikuburkan ke dalam tanah. Para ahli bercerita, bahwa tata cara penguburan jaman itu sangat unik, ada yang memperkirakan itu khusus diwadahkan untuk tulang belulang yang tersisa setelah penguburan, kemudian digali, dan dikuburkan lagi ke dalam tanah dengan wadah tempayan tersebut.

Gambar 5. Beberapa Jenis Artefak Yang Bisa Dijumpai Di Gedung B
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Area Sarkofagus
Area sarkofagus ditata menyerupai taman dengan sebuah kolam ikan di bagian tengahnya. Suara gemericik air dari pancuran yang menghias kolam acapkali beradu dengan suara burung gereja yang bertengger di antara pohon kamboja dan membuat pengunjung merasakan sebuah vibrasi baru di sisi lain museum ini. Memasuki area ini, kita akan disambut dengan puluhan sarkofagus yang berjajar rapi. Mereka duduk diantara balai patok seolah menyiratkan kesiapannya untuk saling bercerita tentang salah satu tinggalan jaman batu besar. Ya, mereka adalah tinggalan jaman batu besar yang masih dapat kita saksikan di sini. Bentuknya unik, nyaris tak ada yang sama antara satu dengan yang lainnya. Beberapa sarkofagus yang dapat kita jumpai adalah tinggalan yang berasal dari Ambyarsari. Masing-masing sarkofagus memiliki cerita dengan berbagai hiasan kedok muka yang tak sama. Tonjolan dan guratan-guratan yang ada pun bergaya khas, karakteristiknya berbeda, serta mungkin memiliki filosofi masing-masing. Area tinggalan megalitikum ini berkisah tentang sebuah peralihan jaman, dari masa prasejarah ke masa sejarah, masa peralihan manusia mulai mengenal aksara.

Gambar 6. Suasana Area Tengah Museum Sarkofagus
(dok: Dewa Ayu Windu 2026)
Sarkofagus Ambyarsari
Ia ditemukan di Banjar Ambyarsari, Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Hal inilah yang membuatnya dikenal dengan nama “Sarkofagus Ambyarsari”. Jika diperhatikan lebih cermat, bentuknya menyerupai alat genetalia bagian luar wanita. Beberapa arkeolog meyakini mayat yang disimpan di dalamnya akan ditekuk menyerupai pose bayi dalam kandungan. Di sinilah dipahami, sarkofagus ini menggambarkan perjalanan manusia yang dilahirkan oleh seorang wanita, saat meninggal akan dikembalikan lagi seperti posisi saat masih dalam kandungan. Kisah sebuah perjalanan manusia dari awal mula kemunculan, dan ketika jiwa melepas badan kasar, ia akan dibuat seolah-olah kembali ke tempat ia berasal.

Gambar 7. Beberapa Koleksi Sarkofagus Yang Berhasil Diselamatkan oleh BP Kebudayaan Bali
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Balai Patok Utara
Perjalanan pembangunan kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Bali pun tak lepas dari berbagai temuan-temuan penting. Di sini, dikumpulkan artefak-artefak yang ditemukan secara tidak sengaja saat para undagi membangun kantor yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Kantor Purbakala ini. Adapun barisan arca-arca yang dapat ditemui di sini berupa lingga, lapik, arca garuda dan lainnya. Keberadaannya menyiratkan bahwa, tempat kantor ini berdiri pun tak luput dari jejak peradaban manusia masa lalu.

Gambar 8. Beberapa Jenis Artefak Yang Bisa Dijumpai Di Gedung Balai Patok Utara
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Gedung J
Memasuki area gedung J, kita akan disambut oleh barisan stupika dan juga prasasti-prasasti logam. Barisan stupika dan materai tanah liat mengisahkan tentang tinggalan masa Hindu-Budha. Tinggalan stupika dan materai tanah liat ini ditemukan pada sisa-sisa situs yang dulunya berdiri candi-candi Budha Bali Kuno seperti situs Candi Pegulingan dan situs Candi Budha Kalibukbuk. Guratan inskripsi di atas logam pun berkisah tentang perjalanan masa lalu tempatnya ditemukan. Adapun salah satu contoh prasasti yang ditampilkan di sini adalah prasasti Bedulu.

Gambar 9. Beberapa Jenis Artefak Yang Bisa Dijumpai Di Gedung J
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Gedung K
Tak terasa, sudah akhir cerita di museum ini yang ditapaki satu per satu. Barisan artefak yang bercerita bak linimasa peradaban Pulau Dewata sudah mencapai di barisan ujung. Di sini, dalam waktu singkat kita sudah mengeja perjalanan dari masa prasejarah ke masa klasik Hindhu-Budha. Gedung K banyak menyajikan tinggalan yang lebih bergaya masa keemasan dan sudah sarat dengan makna. Barisan genta kuno mungkin asal mula model genta yang banyak dilantunkan oleh pemangku di banyak upacara di Bali. Mata uang logam mungkin juga asal mula uang kertas dan logam yang kita kenal sekarang. Hiasan-hiasan perunggu yang lebih bergaya dan sarat estetika pun tak mau kalah mengisahkan saat tradisi sudah beradu dengan nalar dan seni.

Gambar 10. Beberapa Jenis Artefak Yang Bisa Dijumpai Di Gedung K
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Museum Sarkofagus usianya sudah lebih dari setengah abad. Namun, ia menyimpan sesuatu yang lebih tua. Di sini, artefak yang diselamatkan belum purna tugas dan masih bekerja. Mereka bertransformasi dari objek yang diselamatkan menjadi sesuatu yang bergerak pada ranah pemanfaatan. Barisan artefak ini bercerita kepada pengunjung, kepada siswa, kepada wisatawan, kepada kita semua. Mereka masih mengisahkan perjalanan manusia bak linimasa lintas waktu. Mereka mengenalkan sejarah lewat tampilan visual, dan masih bercerita dalam diam.
“Seluruh isi, keaslian data, dan argumen yang tersaji dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penuh penulis.”