Menelusuri Sejarah, Keindahan, dan Kelestarian Rejang Gede Di Banjar Adat Tihingan, Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem

Pendahuluan

Pemajuan kebudayaan merupakan upaya penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Dalam kebudayaan Bali, seni memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan keagamaan, salah satunya melalui seni sakral sebagai bagian dari persembahan (yadnya) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu bentuknya adalah Tari Rejang yang termasuk genre Tari Wali (sakral), bersama Tari Bebali dan Tari Balih-balihan, yang ditetapkan UNESCO dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2015.

Salah satu bentuknya adalah Tari Rejang Gede atau Rejang Manda di Banjar Adat Tihingan, Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem. Tari ini merupakan bagian penting dari rangkaian Aci Rejang dan kehidupan keagamaan masyarakat, sekaligus merefleksikan nilai bhakti, kebersamaan, gotong royong, serta pewarisan tradisi antargenerasi. Keberadaannya tidak hanya memiliki fungsi ritual, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, Tari Rejang Gede penting untuk didokumentasikan dan dilestarikan sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan dan keberlanjutan warisan budaya Bali.

Sejarah Singkat

Keberadaan Tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan, Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem, berkaitan erat dengan sejarah Karaman Bahung Teringan, salah satu permukiman penting pada masa Bali Kuno. Sekitar tahun 1150 M terdapat Wihara Bahung di lereng Gunung Agung yang didirikan Danghyang Dwijakangka dan kemudian dirawat masyarakat Bahung Teringan (Gora Sirikan, 1956:142; Nyoman Jati, 2021:887). Sejarah masyarakat ini juga tercatat dalam Prasasti Bebandem tahun 1056 Saka (1134 M), ketika masyarakat mengalami kesulitan hingga tersisa 11 dari 60 kepala keluarga dan memperoleh pembebasan sejumlah kewajiban selama 40 tahun dari Sri Maharaja Jayasakti (Setiawan dan Ardika, 2013). Setelah berkembang, Bahung Teringan melahirkan sejumlah banjar, termasuk Tihingan, yang diperkirakan terbentuk sekitar abad ke-15. Tradisi lisan tentang Teruna Gede Bagus kemudian menjadi landasan pelaksanaan Aci-Aci Desa sebagai ungkapan syukur atas keberlangsungan kehidupan masyarakat (Nyoman Jati, 2021:889).

Aci-Aci Desa diperkirakan telah dilaksanakan sejak sekitar tahun 1500-an dan diwariskan secara turun-temurun. Dalam upacara ini dihaturkan Banten Prani serta dipentaskan Tari Rejang Gede, Tari Pendet, dan tetabuhan Gong Kebyar. Berdasarkan tradisi yang berkembang di masyarakat, Tari Rejang Gede tidak diketahui memiliki pencipta secara individual, melainkan merupakan hasil kreativitas para pemudi pada masa dahulu yang berkembang secara refleks dan spontan dalam pelaksanaan ritual, kemudian diwariskan antargenerasi. Rejang Gede menjadi bagian penting dari kelengkapan ritual yang merepresentasikan konsep satyam, siwam, sundaram, yaitu kebenaran, kesucian, dan keindahan, sekaligus mencerminkan kesinambungan tradisi, kepercayaan, kehidupan sosial, dan identitas budaya masyarakat Banjar Adat Tihingan. Tari ini dipentaskan dalam upacara keagamaan Aci Rejang yang dilaksanakan dua kali setahun setelah Hari Raya Kuningan di Pura Banjar dan Pura Panti Banjar Adat Tihingan, dengan tujuan memohon keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan kepada Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penganugerah kerahayuan alam semesta beserta isinya. Keberadaan Tari Rejang Gede juga diyakini berkaitan dengan upaya religius masyarakat dalam memohon keselamatan dan terhindar dari grubug atau mara bahaya melalui pelaksanaan upacara Dewa Yadnya dan persembahan caru (Yoga Sedana dkk., 2019:202).

Bentuk Tari Rejang Gede di Pura Banjar Adat Tihingan Desa Bebandem

Secara bentuk, Tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan merupakan kesatuan unsur pertunjukan yang meliputi penari, ragam gerak, tata rias dan busana, serta iringan musik yang membentuk satu kesatuan ungkapan seni. Sebagai tari sakral, Rejang Gede dibawakan secara berkelompok oleh penari perempuan yang telah akil balik dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya di Pura Banjar Adat Tihingan. Geraknya sederhana, lemah gemulai, khidmat, dan dilandasi rasa tulus serta pengabdian kepada bhatara-bhatari, sebagaimana karakteristik tari Rejang yang dikemukakan Dibia (1999:10).

Unsur-unsur Tari Rejang Gede tidak hanya mendukung aspek estetis, tetapi juga fungsi ritual sebagai pelengkap upacara dan ungkapan bhakti masyarakat. Pelaksanaannya secara kolektif melalui ngayah memperkuat kebersamaan, solidaritas, dan hubungan religius masyarakat Desa Adat Tihingan. Dengan demikian, Rejang Gede menjadi bagian integral dari kehidupan ritual dan sosial budaya masyarakat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nenek Durati yang telah berusia 100an lebih, salah seorang warga masyarakat Desa Adat Tihingan yang sekaligus merupakan mantan penari Rejang Gede ketika beliau masih remaja, pada tanggal 26 Juni 2022 bahwa:

“Dulu waktu saya masih muda, saya bersama teman-teman sering ngayah gotong royong dan menari Rejang Gede saat piodalan di Pura Wates, Pura Banjar, maupun Pura Panti. Kami bersama-sama ngayah dari sebelum upacara dimulai sampai selesai. Waktu itu gerakan Rejang Gede belum serapi sekarang. Kami menari secara spontan, mengikuti irama gamelan dan gerakan teman-teman. Jadi tidak ada pola gerak yang benar-benar teratur seperti sekarang. Sekitar tahun 1950-an, gerakannya mulai ditata dan dirapikan, sehingga kami menari dengan pola yang lebih teratur dan bentuknya kemudian diwariskan sampai sekarang.”

Pelaksanaan piodalan di Pura Banjar Adat Tihingan menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat melalui ngayah selama rangkaian upacara, termasuk dalam pementasan Tari Rejang Gede. Krama dari Tihingan Kauh, Tihingan Tengah, dan Tihingan Kangin secara tulus mempersiapkan upacara, melaksanakan persembahyangan, serta menghaturkan Banten Prani yang disusun dari sarwa prani, berupa hasil kekayaan alam laut, sungai, sawah, dan kebun, seperti buah-buahan dan berbagai olahan lauk-pauk, sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan kemakmuran. Setelah Banten Prani dipuput oleh Jero Mangku, rangkaian Aci dilanjutkan dengan Rejang Cenik/Alit dan Tari Rejang Gede yang terdiri atas Rejang Pindrih, Rejang Lilit, dan Rejang Manda sebagai penutup. Keterlibatan bersama tersebut tidak hanya mendukung kelancaran upacara, tetapi juga mempererat hubungan sosial, keharmonisan, serta kehidupan religius masyarakat. Sebagai tari wali tanpa lakon, Rejang Gede menjadi bagian integral ritual sekaligus cerminan nilai kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Desa Adat Tihingan.

Gambar 1. Banten Prani 

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

Proses Pemilihan Penari

Pemilihan penari dilakukan secara khusus oleh Kelihan Banjar sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan Aci, dengan proses latihan selama kurang lebih dua minggu. Setiap banjar mendapat giliran dan menunjuk empat orang penari, sedangkan apabila penari yang ditunjuk berhalangan dapat digantikan oleh penari dari banjar lain atau warga yang bersedia. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan penari tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan menari, tetapi juga berkaitan dengan aturan dan kebutuhan ritual masyarakat. Sebelum pementasan, penari melakukan persiapan selama kurang lebih 3-4 jam untuk tata rias, busana, dan gelungan, kemudian memasuki jeroan pura dan melaksanakan persembahyangan bersama yang dipimpin pemangku sebagai bentuk kesiapan untuk ngayah.

Tata Rias Dan Tata Busana.

Adapun tata busana dan tata rias Tari Rejang Gede Banjar Adat Tihingan  adalah sebagai berikut :

Tata Rias

Tata rias merupakan elemen penting dalam tari untuk mempertegas karakter sekaligus memperindah penampilan penari. Menurut Dibia (2013:66–67), tata rias tari Bali dibedakan menjadi rias natural dan teatrikal. Rias natural tidak mengubah wajah asli penari, tetapi hanya mempertegas bagian tertentu seperti alis, bibir, dan garis mata, sedangkan rias teatrikal mengubah wajah sesuai karakter yang dibawakan. Berdasarkan klasifikasi tersebut, penari Tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan menggunakan tata rias natural dengan warna soft (lembut) yang tidak mencolok, sehingga tetap mempertahankan kesan alami penari.

Gambar 2. Tata Rias Wajah Penari

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

Selain tata rias wajah, penari Rejang Gede juga menggunakan tapak dara atau tampak dara/tatorek, yaitu tanda berbentuk tambah (+) yang dibuat mengelilingi bagian dada hingga punggung menggunakan batang daun sirih atau bunga kamboja. Simbol ini merupakan bentuk sederhana dari swastika yang melambangkan penyatuan dualitas kehidupan (Rwabhineda). Dalam konteks pementasan Rejang Gede, tapak dara dimaknai sebagai simbol perlindungan untuk menolak marabahaya serta memberikan ketenangan kepada penari selama menjalankan tugas ritual.

Gambar 3. Tapak Dara Pada Punggung Penari

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

Tata Busana

Tata busana merupakan bagian penting dalam penyajian tari karena menjadi penanda identitas dan karakter tarian sekaligus memperkuat nilai estetisnya (Dibia, 2013:81). Busana Tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan telah digunakan secara turun-temurun dengan bentuk yang relatif tetap dan diseragamkan. Kostum lengkap berjumlah empat set dan disimpan oleh Kelihan Banjar serta tidak diperkenankan dibawa pulang oleh penari. Seiring meningkatnya perhatian masyarakat, pengempon pura, dan Pemerintah Kabupaten Karangasem, serta semakin luasnya publikasi melalui media sosial dan media massa, keberadaan busana Tari Rejang Gede semakin dikenal sebagai salah satu ciri khas yang membedakannya dari Tari Rejang di daerah lainnya.

Adapun tata busana yang digunakan oleh penari  tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan terdiri dari 8 elemen. Penjelasan secara detail dari masing-masing elemen terurai pada gambar di bawah ini :

  • Kain (Kamen)
    Kamen adalah kain yang berukuran sekitar 2,5 meter. Kamen digunakan sebagai kostum bagian bawah yang ujung sebelah kiri berada pada bagian atas depan, sebagai simbol bentuk kain perempuan. Jenis kain yang digunakan tari Rejang Gede ini sejak dahulu hingga saat ini adalah kain berwarna merah merupakan kain tenun hasil dari Karangasem Tenganan, Pegringsingan  bermotif garis-garis lurus ke bawah yang sangat sederhana disebut Kamen Karah.

Gambar 4. Kain/Kamen

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

  • Angkin /Kemben Gringsing (Penutup Badan)
    Sejak awal keberadaannya, tata busana Tari Rejang Gede di Pura Banjar Adat Tihingan relatif tidak mengalami perubahan, kecuali pada penggunaan angkin sebagai penutup tubuh bagian dada hingga pinggul. Dahulu, penari menggunakan kain rembang yang diperoleh dengan cara meminjam atau membeli secara mandiri karena Desa Bebandem belum memiliki produk sandang khas. Seiring semakin langka dan mahalnya kain rembang, masyarakat kemudian menggantinya dengan kain bebali, seperti songket dan kain gringsing. Penggunaan kain bebali mulai terwujud sekitar tahun 1980, meskipun pada awalnya penari masih harus meminjamnya dari keluarga, tetangga, bahkan geria terdekat. Kini, angkin yang digunakan berupa kain tenun ikat asli Tenganan Pegringsingan, yang sekaligus memperkuat karakter visual dan identitas budaya Tari Rejang Gede.
    Kemudian sepakatlah diganti dengan kain tenun asli yang berasal dari Karangasem Tenganan, Pegringsingan. Kain tenun Gringsing adalah salah satu warisan budaya kuno Bali yang masih bertahan sampai saat ini. Kata gringsing terdiri dari kata gring yang berarti ‘sakit’ dan sing yang berarti ‘tidak’ sehingga dapat dimaknai bahwa kain gringsing merupakan kain magis yang membuat para pemakainya terhindar dari segala bala. Kain ini menggunakan teknik ikat ganda dan memerlukan waktu rata-rata lima tahun untuk menyelesaikannya. Proses tenunnya sendiri membutuhkan waktu sekitar dua bulan, tetapi proses pembuatan motif ikat gandanya memerlukan waktu yang lama. Motif kain Tenun Gringsing yaitu berbentuk lambang Swastika yang artinya kesejahteraan, kemakmuran atau keberuntungan dan keseimbangan. Motif ini merupakan perkembangan dari bentuk tanda (+) plus yang di Bali di sebut dengan tapak dara. Gambar  ini di Bali biasanya digunakan untuk menolak marabahaya. Dan bentuk bulat di tengah di artikan sebagai sumbu perputaran alam semesta. Sehingga sampai saat ini kain ini digunakan sebagai kostum utama dalam menarikan Tari Rejang Gede di Pura Banjar adat Tihingan tersebut.

Gambar 5. Tenun Gringsing

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

  • Selendang (Oncer)
    Selendang atau Oncer adalah kain yang digunakan untuk menari yang cara penggunaanya diikat di pinggang dibagian samping kanan dan kiri. Pada Tari Rejang Gede tersebut selendang yang digunakan tidak hanya satu namun digunakan beberapa buah selendang dengan berbagai macam warna.  Ada warna putih, merah, kuning, hijau, ungu, biru dan merah muda. Warna-warna tersebut menggambarkan keceriaan, ketulusan, keikhlasan para penari dalam menghaturkan tarian Rejang Gede pada serangkaian acara Aci Rejang di Pura Banjar Adat Tihingan tersebut.
    Namun selendang (Oncer) yang berwarna putih diletakkan paling depan di kedua sisi kanan dan kiri sebab warna putih dianggap sebagai simbol kesucian maka dari itu diletakkan di sisi bagian depan. Selain merupakan bagian dari kostum , selendang putih juga dapat digunakan sebagai property sebab pada saat menari selendang putih pada sisi kiri akan dikaitkan ke bagian jari tengah tangan kiri penari dan digunakan untuk menari. Biasanya para penari terlebih dahulu menggunakan cincin yang diletakkkan di jari tengahnya kemudian ujung oncer putih diikat di cincin tersebut.

Gambar 6. Selendang (Oncer ) Warna Putih

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

  • Tepi (Hiasan Pinggang)
    Tepi adalah kain bermotif bunga kecil-kecil, dengan panjang hampir 3-5 meter dengan lebar + 5 cm. Tepi ini digunakan pada bagiang pinggang dan perut, letaknya menutupi bagian atas selendang (Oncer) dan sebagian lagi ada dibawah selendang (Oncer) untuk menutupi kemben bagian perut. Dililitkan dengan rapi agar menyatu dengan kostum yang lainnya.

Gambar 7. Tepi

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

  • Gelang Perak (slake)
    Gelang Perak atau Slake merupakan salah satu aksesori penari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan yang telah digunakan secara turun-temurun dan khusus diperuntukkan dalam pementasan Rejang Gede. Gelang ini dirawat dan disimpan oleh Kelihan Banjar sebagai bagian dari kelengkapan busana sakral yang diwariskan leluhur. Secara simbolis, gelang yang melingkar dapat dimaknai sebagai lambang ikatan, kesinambungan, dan keterhubungan masyarakat dengan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Gambar 8. Gelang Perak (slake)

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

  • Rantai Perak (Ante)
    Rantai perak merupakan salah satu bagian busana Tari Rejang Gede yang telah digunakan sejak awal keberadaan tarian ini di Banjar Adat Tihingan. Berwarna putih dengan panjang sekitar tiga meter, rantai perak dikenakan melingkari bagian pinggang penari. Hiasannya berbentuk rangkaian rantai dengan motif belah ketupat atau jajar genjang kecil pada bagian tengah yang di dalamnya terdapat motif bunga mawar. Secara simbolis, bentuk rantai dapat dimaknai sebagai gambaran ikatan dan keterhubungan, baik antarmanusia maupun antara masyarakat dengan tradisi yang diwariskan leluhur. Sementara motif bunga memberikan kesan keindahan dan kesucian yang selaras dengan karakter Tari Rejang Gede sebagai tari sakral dalam rangkaian upacara keagamaan.

Gambar 9. Rantai Perak (Ante)

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

Subeng (Hiasan Telinga)

Subeng adalah hiasan atau aksesoris yang digunakan ditelinga, terbuat dari perak dengan sepuh emas atau bahkan bisa terbuat dari emas asli tergantung kemampuan dari si penari. Telinga akan terlihat jauh lebih indah saat menggunakan subeng tersebut.  Subeng  mengandung filosofi yaitu mendengarkan ucapan atau suara yang indah dan suci, serta tidak terpengaruh oleh kata-kata yang kotor sehingga mengganggu rasa kesucian seperti saat saat menari Tari Rejang Gede di Pura Banjar Adat Tihingan sebagai persembahan kehadapan Tuhan Yang Maha Suci.

Gambar 10. Subeng/ Hiasan Telinga

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

  • Hiasan Kepala (Gelungan Kekompol)
    Hiasan kepala yang digunakan pada saat pementasan tari Rejang Gede adalah hiasan kepala teatrikal sebab menggunakan Gelungan yang disebut Gelung Kekompol. Gelungan sebagai hiasan kepala penari Tari Rejang Gede memiliki bentuk dan ornamen yang khas. Bagian depannya dilengkapi petitis atau deling yang dihias motif patra menggunakan prada emas, dengan daun girang-girang dan bunga cempaka atau bunga lainnya sebagai pelengkap. Dasar gelungan berbahan beludru berwarna merah berbentuk setengah lingkaran, dengan ornamen manggar berbentuk segitiga runcing sebanyak tujuh buah pada masing-masing sisi. Bagian atas dihiasi onggar-onggar berbentuk bunga warna-warni dari kertas minyak yang dipadukan dengan bunga segar seperti cempaka putih, kamboja, gumitir, dan bunga lainnya.

Gambar 11. Hiasan Kepala

( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

Ragam Gerak

 Tari Rejang Gede mempunyai tiga bagian bentuk penyajian, pada masing-masing bagian mempunyai gerak tersendiri. Adapun gerak pada setiap bagian tersebut yaitu:

  1. Rejang Pindrih dan Rejang Lilit
    Kedua tari Rejang ini memiliki gerak tangan dan badan yang sama, hanya saja yang membedakan gerak kakinya.
  • Pertama, seluruh penari dalam posisi berdiri menghadap ke arah utara (pelinggih) dengan posisi tangan kiri memegang selendang putih yang dikaitkan pada jari tengah. Tangan kanan bersiap dengan jari lentik mengarah ke atas didepan dada. Pandangan menghadap pojok bawah lurus dan tidak diperkenankan pandangan mengarah ke sekeliling. Tujuannya agar lebih fokus dan lebih khidmat karena penari sadar telah membawakan tari Rejang Gede yang sakral.

      Gambar 12. Gerak Pertama Tari Rejang Pindrih dan Lilit

      ( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

      • Kedua, penari menggerakkan tangan beserta selendang putih , dengan telapak tangan sebelah kiri menghadap ke depan seajar didepan dada. Setelah itu gerak tangan ngukel. Ngukel artinya gerak tangan memuter ke arah dalam.

      Gambar 13. Gerak Kedua Tari Rejang Pindrih dan Lilit

      ( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

      • Ketiga, penari memutar badannya secara luwes hingga menghadap kekanan, diikuti dengan alunan tangan kiri membawa selendang putih. Dengan posisi siku agak ditekuk.

      Gambar 14. Gerak Ketiga Tari Rejang Pindrih dan Lilit

      ( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

      • Keempat, selain tangan kiri yang membawa selendang putih kemudian disusul dengan tangan kanan mengambil selendang warna-warni. Lalu selendang tersebut perlahan dilepaskan satu persatu. Posisi badan agem kanan yaitu sikap pokok dalam tari Bali dengan merebahkan badan agak kekanan dengan posisi kaki kiri didepan.

      Gambar 15. Gerak Keempat Tari Rejang Pindrih dan Lilit

      ( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

      • Kelima, kaki kanan menyilang di depan kaki kiri , badan berputar ke arah kiri. Sampai menghadap kekiri, tangan kiri mengambil selendang warna warni , tangan kanan tidak memegang apa-apa dengan posisi agem kiri, tangan kanan agak menekuk. Tangan kiri mulai melepas selendang warna warni secara perlahan. Kemudian kembali badan berputar ke arah kanan. Begitu seterusnya hingga tabuh Mande selesai dimainkan.

      Gambar 16. Gerak Kelima Tari Rejang Pindrih dan Lilit

      ( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

      Gerak tangan dan badan pada Rejang Pindrih dan Rejang Lilit relatif sama, dengan perbedaan pada gerak kaki. Rejang Pindrih menggunakan gerak kaki nanjek ke depan satu kali dan ke belakang dua kali secara berulang hingga perlahan bergerak maju, sedangkan Rejang Lilit dilakukan tetap di tempat dengan gerakan kaki bergantian seolah-olah melilit. Kedua bagian tari ini menggunakan gerak sederhana, lemah gemulai, dan dilakukan dengan tulus sebagai wujud bhakti kepada Tuhan. Gerakan dilakukan menghadap pelinggih dan diulang hingga iringan musik selesai, sebagai simbol penyambutan dan penghiburan bagi para Dewa, Dewi, serta Bhatara-Bhatari, dengan karakter gerak yang menarik dan dinamis.

      2. Rejang Mande

      Rejang Mande merupakan bagian penutup rangkaian Aci Rejang. Gerak utamanya menggunakan langkah kaki nyeregseg, yaitu bergeser ke arah kanan sambil mengangkat selendang warna-warni sejajar bahu, sehingga penari bergerak mengitari caru dari satu arah ke arah berikutnya. Gerakan tersebut dilakukan berulang-ulang hingga prosesi menghaturkan caru dan Tabuh Mande selesai secara bersamaan. Gerak memande yang dinamis dan kokoh menjadi simbol berakhirnya rangkaian ritual sekaligus mencerminkan kekuatan dan keseimbangan.

      Gambar 17. Gerak  Tari Rejang Mande

      ( Dok. I Gusti Ayu Agung Sumarheni)

      Gerak dilakukan dengan konsep prasawya, yaitu berputar dari kanan ke kiri, yang dimaknai sebagai simbol peleburan dan pengembalian. Empat penari menempati posisi nyatur yang merepresentasikan Catus Pata, yaitu timur (Purwa), selatan (Daksina), barat (Pascima), dan utara (Uttara). Setiap putaran disertai persembahan tetabuhan, mulai dari tuak dan berem, sajeng rateng (arak), hingga toya anayar (air), yang dimaknai sebagai perjalanan dari kondisi keruh menuju kejernihan serta harapan akan kehidupan yang semakin baik. Proses tersebut merupakan bagian dari samhara, yaitu upaya penyucian dan harmonisasi manusia serta alam. Rejang Mande diiringi Tabuh Mande atau gending pekaad dan menjadi penutup rangkaian yang diakhiri dengan persembahyangan bersama. Ketiga bagian tersebut menunjukkan tahapan yang saling berkesinambungan, yaitu Rejang Pindrih sebagai pembuka dan ungkapan bhakti, Rejang Lilit sebagai proses penyucian, dan Rejang Mande sebagai penutup berupa ungkapan syukur serta harmonisasi kehidupan

      Musik Pengiring

      Dahulu Tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingantersebut diiringi dengan seperangkat gamelan Gong Gede, namun kira-kira sejak tahun 1970-an mulai dirubah menjadi gamelan Gong Kebyar yang berlaras pelog lima nada besar dan kecil yang jumlah nadanya sepuluh buah. Gending yang digunakan pada tari Rejang Gedeini terdiri dari empat bagian (kawitan, pengawak, pengisep dan pekaad). Pada bagian kawitan merupakan tanda persiapan penari Rejang Gede diluar halaman pura. Para penari mempersiapkan diri berbaris secara berurutan, Setelah bagian iringan musik pengawak hingga pekaadberakhir. Adapun instrumen musik pengiring yang dipergunakan dalam gong kebyar tari Rejang Gede terdiri dari :

      – Gangsa 4 buah, Ugal 2 buah, Penyacah 2 buah, Jublag 2 buah, Jegogan 2 buah, Reong satu set, Terompong satu set, Kendang 2 buah (Lanang Wadon), Gong (Lanang Wadon), Kempur, Pende, Kajar, Kempluk, Kecek, dan beberapa buah instrumen suling.

      Simpulan

      Tari Rejang Gede di Banjar Adat Tihingan, Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem merupakan warisan budaya yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian integral dari pelaksanaan Aci Rejang dan upacara Dewa Yadnya. Keberadaannya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah masyarakat Tihingan yang pada masa lalu dikenal sebagai Karaman Bahung Teringan, serta berkembang dalam kehidupan masyarakat agraris melalui tradisi Ngaturang Prani Tari Rejang Gede memiliki fungsi sakral sebagai bagian integral dari rangkaian Aci Rejang dan Dewa Yadnya. Tarian ini menjadi wujud bhakti dan persembahan kepada Tuhan, sekaligus sarana penyambutan dan penghiburan bagi para Dewa, Dewi, serta Bhatara-Bhatari. Selain nilai religius, Rejang Gede juga mengandung nilai sosial, estetis, dan budaya melalui pelaksanaan ngayah, gotong royong, serta pewarisan tradisi antargenerasi.

      Bagi masyarakat pendukung, tidak dilaksanakannya Tari Rejang Gede dipandang menyebabkan rangkaian Aci Rejang menjadi tidak lengkap karena tarian merupakan bagian penting dari ritual. Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat berupa berkurangnya keterlibatan masyarakat dalam ngayah, melemahnya proses pewarisan pengetahuan dan nilai budaya kepada generasi muda, serta berkurangnya rasa kebersamaan dan identitas budaya masyarakat Desa Adat Tihingan. Dengan demikian, keberlangsungan Rejang Gede tidak hanya penting bagi pelaksanaan ritual, tetapi juga bagi keberlanjutan kehidupan sosial dan budaya masyarakat pendukungnya. Keberadaan dan nilai penting Tari Rejang Gede tersebut telah memperoleh pengakuan melalui penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2023, sehingga menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu terus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

      DAFTAR PUSTAKA

      Balai Pelestarian  Nilai Budaya Bali. 2017. Sembilan Tari Bali. Badung : BPNB Bali.

      Dibia, I Wayan. 1978. Tari Wali, Sang Hyang, Rejang, dan Baris. Denpasar : Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

      __________. 1999/2000. Tari Wali Sanghyang, Rejang, Baris. Denpasar:   Perc. Bali.       Indonesia dan Arti.line.

      __________. 2013. Puspasari Seni Tari Bali. Denpasar: UPT. Penerbitan ISI        Denpasar.

      Jati, I Nyoman.2021.  Ensiklopedi Upakara  Edisi Lengkap. Badung : Nilacakra.  

      Putri, Luh Putu Maylandari. 2015. “Tari Rejang Pingit di Desa Adat Geriana Kangin,      Karangasem” (Skripsi). Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni

      Sumarheni, I Gusti A.A. Dkk. 2022. Rejang Gede Banjar Adat Tihingan, Kecamatan Bebandem kabupaten Karangasem : Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem.

      Laman :

      https://cerakentingkeb.blogspot.com/2017/11/rejang-manda-banjar-adat-tihingan.html. Diakses, Senin 27 juni 2022, pukul 09.45 Wita

      Bagikan artikel ini