Sate Lilit

Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, namun juga karena budaya religius yang melandasi masyarakatnya. Sebagai Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura, Bali tidak bisa dilepaskan dari adat istiadat, ritual, dan  upacara keagamaan yang menggunakan sarana banten/persembahan sebagai  wujud bhakti dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa/Ida Sanghyang Widi Wasa. Sarana banten pada umumnya berisi hasil alam semesta, seperti canang yang terbuat dari janur dan berisi bunga, buah-buahan, nasi/tipat/tumpeng/blayag dari beras, serta ulam (olahan dari daging berupa ayam/bebek panggang, babi guling, telur,  serta sesate yaitu bermacam-macam jenis sate). Salah satu jenis sate yang sering dipergunakan sebagai komponen banten/sesaji adalah Sate Lilit. 

Selanjutnya Lontar Dharma Caruban menyebutkan tentang tata cara membuat olahan makanan tradisional Bali yang akan dipergunakan untuk upacara yadnya atau persembahan salah satunya olahan sate. Menurut Lontar Dharma Caruban, sate terdiri dari 13 jenis yaitu: sate le mbat, sate asem, sate kuung, sate sepit gunting, sate jepit babi, sate jebit balung, sate se serapah, sate letlet, sate suduk ro, sate empol, sate pusut (sate lilit), sate kablet, dan sate kebet.

Sate Lilit, atau juga dikenal dengan sebutan Sate Bali, Sate Nyuh maupun Sate Pusut adalah salah satu hasil karya seni budaya dalam bentuk olahan dalam bentuk menu makanan tradisional di Bali yang diwarisi dari leluhur dan masih dikembangkan hingga saat ini. Keberadaannya, erat kaitannya dengan  kultur relegi serta nilai-nilai luhur masyarakat Hindu Bali yang diturunkan secara turun temurun, sebagai sarana banten mengandung simbol filosofis keiklasan dan bhakti kehadapan Tuhan Yang maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dari segi fungsinya, sesate pada masyarakat Hindu di Bali memiliki dwi fungsi yaitu sebagai sarana upacara-upakara banten dan sate hidangan. Makanan tradisional khas Bali, dari aspek sejarahnya sudah berkembang sejak masuknya Agama Hindu di Bali, merupakan hidangan asli masyarakat Bali.

Pada hari raya Galungan umumnya masyarakat Hindu membuat lawar dan juga sate termasuk sate lilit. Sate dibuat sehari sebelum hari raya Galungan. Umumnya keluarga berkumpul bersama-sama untuk membuat lawar dan sate. Kegiatan tersebut sering juga dikenal dengan istilah “Ngelawar” dan “Nyate” yaitu kegiatan bersama keluarga untuk membuat sate dan lawar dalam rangka perayaan Hari Raya Galungan bagi Umat Hindu di Bali. Pada puncak perayaan Galungan umat Hindu melangsungkan persembahyangan. semua sarana banten yang dibuat dihaturkan di masing-masing Pura. Setelah prosesi persembahyangan selesai banten yang dihaturkan yang berisi jajan, ulam (sate lilit), ketupat/tumpeng/blayag, buah-buahan, dan sarana lainnya kemudian dilungsur atau diambil kembali. Banten sisa yadnya itu nantinya akan dimakan bersama oleh anggota keluarga. Makanan yang telah dihaturkan disebut prasadam. Menurut kepercayaan agama Hindu makanan yang baik dimakan adalah makanan yang sudah dipersembahkan terlebih dahulu. 

Dalam Bhagawad Gita IV-31 menyebutkan: 

Yajna sistamrta bhujo – yanti brahma sanatanam – nayam loko sty ayajnasya – kuto nyah kuru-sattama. 

Artinya :

“Mereka yang makan makanan suci yang setelah melalui suatu persembahan atau pengorbanan akan mencapai Brahman Yang Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan suatu pengorbanan atau yadnya,”

Dalam Kitab Manawa Dharmasastra juga dijelaskan tentang makanan untuk upacara yadnya

Dewanrsin manusyamsca pitrn grhyasca dewatah pujayitwa tatah pascad Grhastha sesabhugbha.

(Manawa Dharmasastra III. 117)

Maksudnya: 

Setelah melakukan persembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan, kepada para Resi, leluhur yang telah suci (Dewa Pitara), kepada Dewa penjaga rumah dan juga kepada tamu. Setelah itu barulah pemilik rumah makan. Dengan demikian ia lepas dari dosa.

      Pada awalnya sate lilit dibuat untuk kebutuhan upacara keagamaan. Dalam perkembangannya juga dibuat untuk konsumsi makanan dalam keluarga, selanjutnya berkembang sebagai sumber perekonomian masyarakat. Warung nasi Bali dengan menu sate lilit dapat dijumpai di banyak tempat di wilayah Bali. Hotel-hotel di daerah pariwisata menyajikan sate lilit sebagai salah satu makanan tradisional khas Bali.

Bahan-bahan dan Proses Pembuatan

  1. Bahan-bahan

Bahan dasar dari sate lilit adalah daging ayam atau daging babi maupun ikan laut. Di beberapa daerah bahan dasar sate lilit juga dicampur dengan kelapa parut. Namun dibeberapa daerah lain bahan sate lilit murni dari daging ayam maupun daging babi. Adapun bumbu-bumbu yang digunakan sebagai campuran adonan sate lilit yaitu:

  • Base genep (bumbu lengkap) yang terdiri dari berbagai macam bungkilan seperti kunyit, lengkuas, kencur, bawang merah, bawang putih, terasi
  • Base wangen terdiri dari ketumbar, pala, merica, cengkeh
  • Gula
  • Sere
  • Daun salam
  • Daun jinten
  • Daun jeruk limo
  • Cabe 
  • Garam secukupnya

Selain bahan-bahan di atas, bahan yang perlu disiapkan yaitu Katik sate yaitu tempat untuk melilitkan adonan sate yang terbuat dari bambu.

B. Proses Pembuatan

 Cara pengolahan Sate Lilit yaitu daging yang telah disiapkan dicincang halus, kemudian dilumatkan dicampur dengan kelapa parut. Bahan-bahan bumbu yang sudah disiapkan juga dilumatkan atau di tumbuk sampai halus. Semua bahan baik daging dan bumbu yang dihaluskan kemudian diulen atau diaduk dengan tangan sehingga menjadi bahan adonan yang menyatu dan bercampur rata, seimbang antara bahan dasar dengan bumbu sehingga ada keseimbangan bahan dan akhirnya akan menghasilkan cita rasa yang lezat. Adonan bahan yang sudah tercampur antara daging dan bumbu disebut luluh sate. Adonan yang siap kemudian mulai dililitkan satu persatu pada katik sate yang telah disiapkan. Cara melilitkan adonan yaitu mulai dari ujung atas dililit melingkar dengan memutar katik hingga setengah batang katik sate. Setelah selesai proses melilitkan adonan sate, kemudian Sate Lilit siap dibakar atau dipanggang dengan menancapkan pada pelepah pisang kemudian baru dibakar. Setelah aroma satenya keluar, wangi dan gurih serta warna sate agak kuning kecoklatan, itu pertanda Sate Lilit sudah matang dan siap untuk digunakan baik untuk upacara maupun untuk dihidangkan.

Perkembangan Terkini

Keberadaan Sate Lilit di Bali telah berkembang, fungsinya tidak hanya untuk sarana upacara keagamaan namun juga fungsinya untuk menopang perekonomian keluarga. Dalam kontek ekonomi Sate Lilit sebagai salah satu usaha kuliner telah berkembang dari tingkat warung hingga restaurant dan bahkan telah menjadi bagian kuliner tradisional Bali dalam wisata kuliner Bali. Sate Lilit Bali dalam perkembangannya telah mewarnai wisata kuliner Bali. Sate Lilit merupakan hidangan khas yang tidak hanya disukai oleh orang Bali namun juga oleh wisatawan yang berkunjung ke Bali. 

Pemasaran Sate Lilit sebagai salah satu jenis kuliner tradisional khas Bali banyak mulai dipasarkan dengan menggunakan media digital seperti facebook, instagram, maupun media digital lainnya. Inovasi pengenalan Sate Lilit melalui media digital bertujuan untuk memberi informasi keberadaan Sate Lilit kepada pengguna media digital. Selain itu pengenalan Sate Lilit dilakukan dalam berbagai kegiatan seperti misalnya melalui lomba pembuatan Sate Lilit. Kegiatan ini selain untuk mengasah keterampilan juga melestarikan budaya terkait warisan budaya Sate Lilit, yang dilombakan adalah keterampilan melilitkan bahan Sate Lilit yang terdiri dari ikan laut, bumbu-bumbuan. Mereka dinilai dari kekompakan tim, ketepatan waktu, proporsi, kematangan, penyajian, dan termasuk kebersihan serta kerapian selama proses melilit, memanggang, dan saat menyajikannya.

Fungsi Sate Lilit Bagi Masyarakat

  1. Fungsi Dalam Pelaksanaan Upacara Yadnya

Fungsi Sate Lilit merupakan bagian dari suatu ritual dalam agama Hindu di Bali yaitu pacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya Manusia Yadnya Dan Bhuta Yadnya. Dalam ragkaian upacara Dewa yadnya yaitu bentuk persembahan kepada Tuhan dalam sarana sesajen atau banten biasanya selalu ada sesate sebagai sarana upakara Hindu di Bali. Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan serta persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan sinar suci-Nya yang disebut dewa-dewi. Adanya pemujaan kehadapan dewa-dewi atau para dewa karena beliau yang dapat mempengaruhi dan mengatur gerak kehidupan di dunia ini. Seperti contoh misalnya matahari dapat menerangi serta mempengaruhi kehidupan di dunia dengan sinarnya, demikian pula kebesaran Ida Sang Hyang Widhi juga menerangi dan mengatur gerak kehidupan di alam semesta dengan sinar-sinar-Nya. 

Bhagawadgita menyebutkan bahwa : 

“kanksantah karmanan siddhim 

yajanta iha devatah

ksipram hi manuse loke

siddhir bhavati karmaja”  (IV.12). 

Artinya:

Mereka yang menginginkan hasil pekerjaan di atas dunia ini menyembah para dewa, karena hasil dari sesatu pekerjaan adalah mudah sekali didapat diatas dunia ini.

“daivam eva pare yajnam

Yoginah paryupasate

Brahmagnav apare yajnam

Yajnenai ‘vo’ pa juhvati” (IV.25).

Artinya:

Beberapa orang Yogin beryajna hanya kepada para Dewa, yang lainnya beryajna dengan  yajna itu sendiri kedalam api suci Brahman ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

  1. Fungsi Sate Lilit Sebagai Kuliner 

Dalam fungsinya sebagai sate hidangan, sate dihidangkan kepada tamu (disebut juga Atiti Puja: persembahan terhadap tamu) yang menghadiri upacara keagamaan maupun upacara adat, sate lilitdihidangkan dengan  Lawar, Betutu, Jukut Ares, maupun Jukut Nangka. Dalam perspektif sosial-budaya, Sate Lilit juga berfungsi untuk jotan (makanan yang dihantarkan kepada keluarga-kerabat pada saat ada upacara adat atau keagamaan), simbol menyame-braya (persatuan, kekerabatan). Pada umumnya di masa lalu, masyarakat menikmati hidangan Sate Lilit pada saat ada upacara-upakara. Seiring dengan perkembangan zaman, Sate Lilit mulai memasuki aspek sosial-ekonomi, yaitu kuliner tradisional Bali yang diperdagangkan untuk menopang perekonomian, mulai dari pedagang berkeliling, warung, pasar, hingga hotel. Salah satu pionir kuliner tradisional Bali adalah Ibu Mangku diawali dengan berjualan nasi keliling keliling di arena tajen (sabung ayam) dan odalan (upacara di pura)  sejak tahun 1960-an, menunjang perekonomian telah melibatkan kaum prempuan yang pada awalnya hanya dibuat kaum laki-laki. Demikian pula dalam proses penghancuran daging, dalam perkembangannya selain tetap dilakukan secara tradisional yaitu ditumbuk juga sekarang ini menggunakan mesin penggilingan daging. sekarang sangat terkenal dengan Warung Nasi Ayam Kedewatan ikon kuliner pariwisata Ubud, salah satu menu khasnya  Sate Lilit. Pemilik Warung Ari Sate Lilit di Kota Denpasar, Ibu Rambig mulai usaha pedagang keliling pada tahun 1979 diawali dari Odalan di Pura Besakih, sekarang sukses mengembangkan usaha Sate Lilit.  

Purinanda menekuni usaha pengembangan Sate Lilit di Denpasar sejak tahun 2008, usahanya  menjadi penopang ekonomi keluarga. Di Pesinggahan Klungkung juga  dijumpai kuliner Sate Lilit terkenal yang berbahan dasar ikan laut, demikian pula di Desa Ekasari Melaya Kabupaten Negara, serta daerah lainnya di seluruh Bali. Sate Lilit juga dihidangkan di daerah pariwisata seperti di Ubud, Sanur maupun Nusa Dua.  Dari segi otentitasnya, makanan tradisional Sate Lilit mendapat respon baik dari wisatawan asing yang menginap di hotel internasional.  Sate Lilit sebagai karya budaya khas  merupakan identitas daerah di Bali yang secara berkelanjutan mengembangkannya hingga sekarang. Perkembangan kemahiran  tradisional,  dalam proses pembuatan Sate Lilit sebagai kuliner tradisional.

Nilai-Nilai Filosofis dan Makna Sate Lilit Bali

Sate Lilit bali dalam konteks ritual memiliki nilai-nilai luhur makna serta sebagai simbol-simbol. Sate Lilit yang bentuknya cembung seperti kubah dengan pangkal lurus sebagai pegangannya merupakan lambang Dewa Brahma simbol berupa gada. Senjata ini bermakna perlawanan untuk menghancurkan pengaruh jahat.

Menurut Lontar Tegesing Sarwa Banten dijelaskan makna dari sate sebagai berikut :

Sesate ngaran wruh ring petemu ning citta ikang ametwaken inak. Asem ngaran ikang citta hayu. Lembat ngaran mantangan,sate inggang ngaran ikang tuhu inak tukakening. Katik ngaran rasa ning eka uunya.

Artinya :

Sate merupakan simbol mengetahui pertemuan pikiran yang dapat menimbulkan kesukaan. Lembat simbol tubuh. Asem adalah simbol kebenaran yang patut dipatuhi. Tusuk sate adalah simbol intisari ajaran kekosongan yang tunggal.

Proses pembuatan sate dari bahan adonan dengan cara melilitkan pada katik sate sedemikian rupa yaitu suatu proses melilitkan dari atas ke bawah sambil memutar katik satenya sehingga adonan sate melilit dengan baik dan tidak mudah lepas. Adonan sate melekat dan menjadi satu kesatuan dengan katik satenya. Dari proses itulah dapat dipahami salah satu makna dari Sate Lilit yaitu sebagai pemersatu masyarakat Bali. Demikian pula dikemukakan dari pemahaman masyarakat tentang filosofi Sate Lilit melambangkan masyarakat Bali yang selalu bersatu dan tidak tercerai-berai, tidak terputusnya suatu kehidupan, dililitkannya tali persaudaraan.

Keberadaan Sate Lilit seringkali dikaitkan atau identik dikerjakan oleh kaum laki-laki. Seperti misalnya di Desa Ekasari Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana, untuk pembuatan Sate Lilit sebagai sarana upacara dibuat oleh tukang ulam yang disebut uparengga, mereka menjalankan tugas mempersiapkan, mengkoordinir dan sekaligus bertanggungjawab atas penyediaan sate untk sarana bebantenan. Sedangkan untuk para wanita bertugas menyiapkan sarana bebantenan seperti buah, jajan, hingga metanding banten untuk sarana sesaji sebagai makna atau simbol persembahan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sanghyang Widhi Wasa, atas anugrah dan kemakmuran yang telah dikaruniakan kepada umatNya.

Alamat

Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya Takbenda

Domain

Kemahiran Kerajinan Tradisional