“Nyelung secara harfiah berasal dari kata Nyak Luwung (mau bagus, baik, positif). Jadi tolak ukurnya adalah warga diberikan kebaikan dan kemakmuran dari segi sandang, pangan dan papan”. Ritual Nyelung sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Buahan dan Buahan Kaja, adapun asal-usul sejarah ritual Nyelung, disebabkan karena pada zaman dahulu Desa Buahan mengalami paceklik yang berkepanjangan, paceklik pertanian padi masyarakat tersebut disebabkan adanya serangan hama seperti : tikus, walang sangit dan penyakit pertanian lainnya. Melihat keadaan yang sedemikian sulit terkait dengan hasil pertanian masyarakat. Akhirnya krama subak atas saran dari penglingsir Desa Buahan (nenek moyang) memohon petunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa di Pura Pucak Pausan, yang terletak di banjar Pausan. Lokasi dari Pura tersebut berada pada posisi atau tempat paling tinggi di Desa Buahan Kaja dan di sekitar areal Pura juga terdapat sumber mata air yang sangat besar dan banyak, sumber mata air ini digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengairi tanah persawahan mereka Sesampainya di tempat tersebut, masyarakat memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian warga berjanji akan menghaturkan hasil-hasil pertanian masyarakat. Tirta atau air suci yang diambil di Pura Pucak Pausan untuk selanjutnya akan dipercikan ke lahan
persawahan yang digarap oleh krama subak, dalam kurun waktu musim panen selanjutnya alhasil penyakit yang dahulu menyerang pertanian warga berangsur-angsur menghilang. Dengan demikian sesuai dengan sesangi (perjanjian) maka krama subak menghaturkan hasil-hasil pertanian baik berupa buah-buahan/ umbi-umbian (pala gantung dan pala bungkah) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Prosesi pelaksanaan ritual nyelung Ritual sudah dilaksanakan secara turun-temurun serta diwariskan oleh nenek moyang/ leluhur masyarakat Desa Buahan dan Buahan Kaja. Adapun tahapan
dalam pelaksanaan ritual Nyelung adalah sebagai berikut :
- Tahap Mempersiapkan Ritual Nyelung
Persiapan-persiapan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Buahan dan Buahan Kaja yang pertama adalah melakukan rapat-rapat yang dihadiri oleh perbekel dari kedua desa, kelihan se-desa Buahan dan Buahan Kaja, kelihan subak, sekretaris desa, bendahara desa, para pemangku dan tukang banten. Dan hasil paruman akan disosialisasikan ke krama di masing-masing banjar. Pelaksanaan ritual Nyelung memerlukan beberapa sarana banten dalam pelaksanaanya. banten tersebut mempunyai makna dan simbol-simbol tertentu, yang ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Secara umum Banten yang diperlukan dalam pelaksanaan ritual Nyelung, adalah sebagai berikut (1) Banten Suci, (2) Banten Pejati, (3) Banten Bebangkit. Pelaksanaan ritual Nyelung yang
memakai banten, ditunjukkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri. Yang merupakan lambang Dewi kesuburan atau kemakmuran. Disamping hal-hal yang telah dijelaskan diatas terdapat pula beberapa Uparengga yang diperlukan, sebagai pelengkap ritual antara lain (1) Sanggah Cucuk, (2) Penjor, (3) Klakat, (4) Klabang, (5) Sengkui, (6) Umbul-umbul, (7) Tedung.
- Tahap Pelaksanaan Ritual Nyelung.
Pada tahap pelaksanaan ritual akan dimulai dengan Negen (membawa) Jelung yang merupakan proses pertama, arak-arakan Jelung akan dimulai dari Pura Puseh Banjar Buahan, Desa Buahan karena ditempat inilah peralatan ritual dibuat. Upacara ini tidak berhenti hanya pada membawa Jelung sampai di Pura Pucak Pausan, melainkan akan dilanjutkan dengan upacara Mekideh atau Jelung memutari areal Pura Pucak Pausan sebanyak 3 kali putaran berlawanan arah dengan jarum jam. Upacara Mekideh mempunyai maksud dan tujuan yang sangat bermakna dalam kehidupan masyarakat. Upacara mekideh juga diiringi dengan gamelan baleganjur dan krama subak akan bergantian membawa Jelung untuk mengelilingi areal Pura. Setelah acara mekideh selesai dilakukan , akan dilanjutkan dengan membawa Jelung ke areal utama Pura (Jeroan) setelah Jelung sampai di Jeruan akan dilanjutkan dengan upacara Mekeleb. Mekeleb mempunyai makna menghaturkan hasil-hasil pertanian (sesaji) tersebut secara tulus ikhlas dan tidak dibawa pulang lagi. Tujuan ritual ini adalah Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan lahir dan batin.
- Penutupan Ritual Nyelung
Pada tahap penutupan acara, tidak saja dengan dilakukan persembahyangan. Dimana dengan pelaksanaan antara ritual Nyelung dengan karya agung di Pura Pucak Pausan yang sepenuhnya disungsung oleh krama banjar Pausan. Selanjutnya Jero mangku akan menghaturkan segehan warna lima di depan tapakan Ida Bhatara (barong dan rangda) dan juga di depan para pengiring yang kerasukan guna sebagai persembahan untuk bhuta kala agar tidak mengganggu pengiring maupun Bhatara Petapakan. Setelah itu para pelawatan yang berupa Barong dan Rangda serta petapakan yang lainnya akan dibawa kembali ke puranya masing-masing.