Seni Pertunjukan Tektekan Bali

SEKILAS TENTANG

Kesenian tektekan awalnya muncul dilatarbelakangi oleh adanya grubug (wabah penyakit) yang menyerang penduduk Desa Kerambitan. Tradisi masa lalu ketika ada wabah masyarakat biasanya membunyikan benda-benda seadanya berkeliling desa untuk mengusir wabah itu. Demikian pula dilakukan oleh penduduk desa Kerambitan melakukan hal yang sama pada masa itu. Sarpa, dalam bukunya Tektekan di Kerambitan menyebutkan bahwa kesenian tektekan ini konon muncul ketika di masa lalu alat-alat gamelan yang terbuat dari bahan perunggu harus ditanam di dalam tanah karena dianggap tabu untuk ditabuh. Namun ketika terjadi peristiwa memilukan di Desa Kerambitan yaitu terjadinya wabah, tidak adanya alat untuk ditabuh maka secara spontanitas masyarakat menabuh dengan peralatan apa adanya untuk mengusir wabah penyakit. Sebagai langkah antisipasi supaya ada ditabuh ketika datangnya wabah, masyarakat Desa Kerambitan membuat perangkat kesenian yang bahannya bukan dari perunggu melainkan dari bambu untuk kegiatan nektek apabila ada wabah secara tiba-tiba melanda desa. Apakah kolera, cacar, dan penyakit lainnya. Kalau di Bali istilah ini disebut grubug, yaitu secara medis endeminya sebuah penyakit yang tidak mendapat penanggulangan secara dini, hal ini sangat dimaklumi karena waktu itu sarana-sarana kesehatan seperti puskesmas masih sangat terbatas.

Menurut kepercayaan masyarakat Desa Kerambitan, kejadian seperti ini disebabkan oleh roh-roh jahat yang tidak ke lihatan bergentayangan yang menyebarkan penyakit. Berlatarbelakang dengan kejadian di atas, masyarakat Desa Kerambitan secara rutinitas melakukan kegiatan nektek. Masa lalu nektek di setiap banjar mencapai 100 orang untuk berkeliling desa Banjar-banjar tersebut ada lah empat banjar se-Desa Kerambitan, yaitu Banjar Kukuh, Banjar Baturiti, Banjar Tengah (Banjar Tengah Kawan, Banjar Tengah, banjar Tengah Kangin), Banjar Wani (Banjar Wani, Banjar Pekandelan, dan Kedampal). Waktu peristiwa wabah terjadi, nektek dilakukan siang dan malam terutama pada malam hari masing-masing gerombolan setiap banjar itu keluar rumah membawa sepotong bambu dan peralatan lainnya dipukul beramai-ramai mengelilingi Desa Kerambitan . Tradisi tektekan ini awalnya hanya menggunakan kentongan dan didukung oleh alat-alat lain seperti: okokan, kendang, lempengan besi atau baja,jirigen atau kaleng minyak tanah.

Alamat

Desa Kerambitan Kec. Kerambitan Kab. Tabanan Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya tak Benda

Domain

Seni Pertunjukan