SEKILAS TENTANG
Keberadaan Pura Mengening dikaitkan dengan masa pemerintahan Raja Masula Masuli yang berkuasa di Bali pada sekitar abad ke-13 Masehi. Berdasarkan keterangan dalam Prasasti Desa Sading, Raja Masula Masuli disebut mulai bertahta di Bali pada tahun Saka 1100 dan memerintah selama kurang lebih 77 tahun, selanjutnya masa akhir pemerintahannya diperkirakan sekitar tahun Saka 1178 atau kurang lebih tahun 1255 Masehi. Mengenai sosok Raja Masula Masuli, sumber Bhuwana Tattwa Maharsi Markandeya menyebutkan bahwa Masula Masuli merupakan sebutan bagi sepasang penguasa Bali yang berasal dari pasangan kembar buncing, yaitu laki-laki dan perempuan. Tokoh laki-laki disebut Sang Dhana Dhirajalancana, sedangkan tokoh perempuan disebut Sang Dhana Dewiketu. Kemudian, keduanya dikawinkan dan dinobatkan menjadi raja yang berukuasa di Bali.
Dalam Usana Bali juga memuat keterangan mengenai sejarah berdirinya Pura Mengening. Dalam pustaka tersebut diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Masula Masuli, masyarakat Bali bersama-sama membangun berbagai pura sebagai tempat penyungsungan jagat. Pembangunan tersebut dilakukan dengan penuh semangat dan melibatkan masyarakat dari berbagai wilayah, seperti Blahbatuh, Pejeng, dan Tampaksiring. Disebutkan pula Pura Tirtha Empul dan Pura Mengening yang pembangunannya direncanakan oleh I Bandesa Wayah dan berkaitan dengan pembangunan parhyangan Bhatara Indra. Pembangunan berbagai pura tersebut berlangsung dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun hingga seluruh ketentuan yang ditetapkan oleh raja dapat diselesaikan. Setelah pembangunan selesai, berbagai tempat suci kemudian ditetapkan sebagai sthana atau tempat bersemayamnya para Bhatara.
Dalam uraian Usana Bali, Pura Mengening disebut bersama dengan beberapa tempat suci lainnya, seperti Pura Tirtha, Ukir Gumang, dan Jampana Manik atau Gulingan. Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan Pura Mengening dilakukan secara terencana pada masa pemerintahan Raja Masula Masuli. Dengan demikian, Pura Mengening tidak hanya memiliki nilai penting sebagai tempat suci, tetapi juga mengandung nilai historis dan budaya karena keberadaannya dikaitkan dengan salah satu periode penting dalam pembangunan tempat-tempat suci di Bali.