SEKILAS TENTANG
Keberadaan Pura Masceti di Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kebudayaan masa lampau di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan dan Petanu. Wilayah yang meliputi Tampaksiring, Pejeng, hingga Bedulu dikenal memiliki banyak tinggalan arkeologi yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan salah satu pusat aktivitas manusia pada masa lampau. Berdasarkan tinggalan arkeologis yang ditemukan, Pura Masceti Sanding diperkirakan berkembang pada masa Bali Madya, sekitar abad ke-14 Masehi.
Salah satu bukti artefaktual yang memperkuat perkiraan tersebut adalah Arca Caturkaya, yaitu sebuah batu tunggal yang dikelilingi oleh empat figur arca yang menempati empat arah mata angin, yakni selatan, timur, utara, dan barat. Arca Caturkaya juga ditemukan di beberapa pura di wilayah Gianyar, antara lain Pura Kebo Edan, Pura Penataran Sasih, Pura Pusering Jagat, dan Pura Samuan Tiga. Namun, Arca Caturkaya di Pura Masceti Sanding memiliki keunikan karena masing-masing figur digambarkan berdiri di atas wahana atau kendaraan. Selain Arca Caturkaya, tinggalan arkeologis berupa arca Durga Mahisasuramardini dan Ganesha turut memperlihatkan perkembangan keagamaan dan seni arca pada masa tersebut.
Selain itu, perkiraan kronologi Pura Masceti Sanding juga didukung oleh keberadaan inskripsi beraksara Bali Kuno pada sebuah yoni yang kini disimpan di Pura Puseh Desa Sanding. Inskripsi tersebut mencantumkan angka tahun Śaka 1312 (1380 Masehi). Data artefaktual tersebut menunjukkan keberadaan Pura Masceti Sanding sebagai salah satu bukti penting perkembangan kehidupan keagamaan, sosial-budaya masyarakat Bali pada masa lampau khususnya di Desa Sanding.