SEKILAS TENTANG
Pura Kereban Langit merupakan salah satu pura bersejarah di Desa Sading yang menyimpan rekam jejak peradaban masa lampau. Meskipun sumber tertulis mengenai sejarah pendirian pura masih terbatas, namun beberapa bukti artefaktual dapat memberikan gambaran mengenai keberadaan pura ini. Salah satu petunjuk penting mengenai pura ini termuat dalam Prasasti Sading A yang berangka tahun Saka 923 (1001 Masehi), dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Sri Dharmodayana Warmadewa bersama permaisurinya, Ratu Sri Gunapriyadharmapatni. Prasasti tersebut menyebutkan nama goa yang berada di kawasan Pura Kereban Langit, lebih lanjut wilayah yang sekarang dikenal sebagai Desa Sading masih disebut dengan nama Desa Bantiran.
Selain berdasarkan sumber tertulis, sejarah Pura Kereban Langit juga berkembang dalam tradisi lisan masyarakat setempat. Keberadaan pura ini dikaitkan dengan kisah Sri Maharaja Masula dan Sri Masuli, yaitu pasangan raja kembar yang disebutkan pernah memerintah di Bali. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa sebelum kelahiran kedua tokoh tersebut, ayahanda mereka sangat mengharapkan keturunan. Beliau kemudian memohon petunjuk kepada Ida Bhatara Toh Langkir (Gunung Agung) agar permaisurinya dianugerahi seorang anak. Dari permohonan tersebut diperoleh petunjuk untuk mencari Tirtha Salaka, selanjutnya dicarilah tirta tersebut oleh seorang brahmana. Dalam perjalanannya, sang brahmana tiba di sebuah goa dan bertemu dengan seorang pertapa yang memberikan petunjuk bahwa Tirtha Salaka berada di dalam goa tersebut. Goa yang dimaksud diyakini merupakan goa yang kini berada di kawasan utama Pura Kereban Langit. Air suci tersebut kemudian dihaturkan kepada sang permaisuri. Disebutkan setelah itu permaisuri mengandung dan melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan yang kemudian diberi nama Sri Masula dan Sri Masuli. Kisah tersebut menjadi bagian penting dari tradisi yang melekat pada Pura Kereban Langit dan turut membentuk pemaknaan masyarakat terhadap keberadaan pura hingga sekarang.
Dengan demikian, Pura Kereban Langit tidak hanya dipandang sebagai tempat suci yang memiliki nilai kesejarahan, tetapi juga memiliki fungsi keagamaan yang terus berkesinambungan hingga saat ini. Masyarakat juga meyakini bahwa Pura Kereban Langit sebagai tempat untuk memohon keturunan. Lebih lanjut, kawasan Taman Beji yang berada di area Pura Kereban Langit juga dimanfaatkan sebagai tempat penglukatan, yaitu ritual penyucian diri. Keberlanjutan fungsi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara tinggalan budaya masa lalu dan kehidupan masyarakat pendukungnya hingga saat ini.