SEKILAS TENTANG
Pura Batur Kaja yang berlokasi di Dusun Kalembang merupakan salah satu warisan budaya yang menyimpan bukti penting keberlanjutan tradisi megalitik di Bali. Keberadaan sejumlah tahta batu di areal utama pura menjadi bukti kesinambungan tradisi megalitik dari masa prasejarah hingga kini. Tahta batu di Pura Batur Kaja memiliki bentuk khas berupa struktur bertingkat-tingkat dan terdiri atas beberapa lapis batu, terdapat sandaran tangan di sisi sampingnya (kanan dan kiri) dengan batu tegak di puncaknya sebagai sandaran, serta ada yang dilengkapi dengan menhir pada bagian depannya. Secara morfologi tahta batu seperti ini jarang ditemukan di tempat lain yang umumnya berbentuk sederhana.
Keunikan lainnya terlihat dari penggunaan nama-nama tahta batu seperti Pelinggih Betara Sri, Pelinggih Dewa Siwa, Pelinggih Puseh (Dewa Wisnu), mencerminkan bahwa masyarakat pendukungnya yang dalam hal ini adalah masyarakat Dusun Kalembang menganut Agama Hindu, seperti yang telah diketahui Bhatara Sri, Dewa Siwa, dan Dewa Wisnu adalah manifestasi Tuhan dalam Agama Hindu. Lebih lanjut, nama Pelinggih Dewa Ratu Ida Gede Batur, Pelinggih Ratu Wayan Ratu Made, dan Pelinggih Apit Lawang, mencerminkan sistem religi yang dianut masyarakatDusun Kalembang. Sistem religi tersebut berkaitan dengan kepercayaan terhadap pemujaan roh leluhur yang merupakan tokoh-tokoh setempat yang dipandang berjasa di Dusun Kalembang.
Hingga kini, tahta batu dan tinggalan megalitik lainnya masih berada di areal utama pura dan bersifat living monument dalam artian masih difungsikan sebagai media pemujaan. Keberadaan warisan budaya tersebut dengan nilai penting yang melekat menjadi bukti otentik dalam memahami perjalanan dan perkembangan akar kebudayaan Bali khususnya sejarah lokal di wilayah Dusun Kalembang.