Meprani

Meprani berasal dari kata prani yang artinya mahluk, mahluk hidup (sarwa prani). Prani juga mempunyai arti hidangan berupa banten persembahan. Jadi ritual meprani merupakan ungkapan rasa syukur dan bakti kehadapan Sang Pencipta (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dengan menghaturkan banten sesuai dengan kemampuan yang berisi buah-buahan, jajan, sate untuk memohon kesejahteraan semua makhluk dan alam semesta. Tradisi ritual meprani diselenggarakan oleh warga Banjar Adat Nesa, Desa Banjarangkan yang berkaitan dengan upacara pujawali di Pura Desa Bale Agung Pura Kangin, Desa Banjarangkan yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali (210 hari) yakni, pada hari Wraspati Umanis Dungulan. Ritual meprani dilaksanakan bertepatan dengan upacara penyineban (penutupan), yakni pada hari Redite Umanis Langkir yang di Bali dikenal dengan hari Umanis Kuningan. Ritual meprani juga dikaitkan dengan keberhasilan masyarakat dalam melaksanakan rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan yang disebut sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Dharma melawan Adharma. Secara historis tradisi ritual meprani dikaitkan dengan keberhasilan para leluhur masyarakat Desa Banjarangkan dalam membuka pemukiman baru dan berhasil mendirikan tempat suci Kahyangan Desa yakni Pura Desa Bale Agung Pura Kangin. Dalam sumber Babad Dalem dijelaskan sejarah ritual meprani yang bermula pada sebuah kisah di masa pemerintahan Gusti Agung Putu yang bergelar Gusti Agung Ngurah Made Agung, atau Cokorda Sakti Blambangan di Kerajaan Mengwi sekitar Tahun 1700 Masehi. Pada masa itu, beberapa desa di wilayah Kerajaan Mengwi terserang wabah penyakit yang diakibatkan oleh ulah seorang sakti yang bernama Ki Balian Batur tinggal di Desa Rangkan wilayah Kerajaan Mengwi. Dalam tujuan untuk mengatasi permasalahan ini, Raja Mengwi mengutus seorang kepercayaannya yang ahli dalam bidang persenjataan bernama I Gede Gumyar. Bersama dengan pengikutnya dan membawa keris pusaka Ki Pugpug Jaya, namun I Gede Gumyar tidak berhasil mengalahkan Ki Balian Batur. Adapun setelahnya Ki  Balian  Batur  membuka  rahasia kesaktiannya, dimana dia hanya bisa dibunuh oleh pusaka Raja Klungkung yang bernama Ki Narantaka dengan pelurunya Ki Seliksik. Berkat bantuan dari Raja Klungkung melalui putranya Dewa Agung Anom Sirikan, Ki Balian Batur pun dapat dikalahkan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih Raja Mengwi kepada Raja Klungkung, Raja Mengwi mohon kepada Raja Klungkung untuk menempatkan salah seorang putranya di wilayah Kerajaan Mengwi. Akhirnya diutuslah Dewa Agung Anom Sirikan untuk memenuhi permohonan Raja Mengwi dengan wilayah kekuasaannya meliputi: sebelah utara Gunung Batur, sebelah timur Sungai Pakerisan, dan sebelah barat Sungai Ayung, dengan lokasi istana di daerah Baturan, Desa Timbul. Dewa Agung Anom Sirikan membangun istana di Desa Timbul sekitar Tahun 1710 Masehi. I Gede Gumyar, beserta para pengikutnya tetap menempati wilayah Desa Rangkan dan berhasil membangun berbagai fasilitas seperti tempat suci. Dalam perkembangan selanjutnya,  karena jumlah penduduk semakin padat, ada keinginan dari keturunan I Gede Gumyar yang bernama I Gede Bendesa Gejin untuk mencari wilayah baru. Sekelompok masyarakat beranggotakan sekitar 200 orang yang dipimpin oleh soroh Bendesa Gumyar yang bernama I Gede Bendesa Gejin memohon kepada Ida Dewa Agung Made (Tahun 1700-1725 Masehi) penguasa di Kerajaan Klungkung agar diizinkan untuk mendirikan pemukiman di wilayah Kerajaan Klungkung dengan membuka Alas (hutan) Tegal Wangi di sebelah timur Pura Kentel Gumi. Alas (hutan) Tegal Wangi adalah hutan yang sangat angker  karena  menurut  kepercayaan  masyarakat hutan tersebut dikuasai oleh mahluk gaib (Wong Samar) yang bernama Men Gambring, Men Gombrang, Men Gembrong dan Ki Gembalan. Usaha untuk membuka hutan pada awalnya mengalami kegagalan, karena dari 200 orang pengikutnya banyak yang mengalami bencana, bahkan sampai ada yang meninggal. Bendesa Gejin bersama para pengikutnya kembali menghadap raja di Kerajaan Klungkung, mohon petunjuk dan bantuan kepada Dewa Agung supaya berhasil membuka hutan Tegal Wangi. Raja Klungkung menasehati supaya Bendesa Gejin, sebelum merabas hutan supaya membuat sarana upakara dan juga memohon kepada Ida Bhatara Sesuhunan di Pura Jero Kangin, Banjar Rangkan, Desa Ketewel, Sukawati. Di samping itu untuk menambah keyakinan dalam merabas hutan Raja Klungkung memberikan sebuah keris pusaka. Setelah semua nasehat Raja Klungkung dilaksanakan, akhirnya Bendesa Gejin kembali untuk merabas hutan Tegal Wangi dan berhasil membuka hutan untuk dijadikan pemukiman. Para makhluk gaib (Wong Samar) penguasa hutan, memohon kepada Bendesa Gejin agar hutannya tidak semua dirabas untuk dijadikan pemukiman, agar supaya menyisakan sedikit tanah hutan untuk dibuatkan penyawangan (Pelinggih) dari pohon kayu dadap,  di samping aliran sungai Linggasana yang letaknya di sebelah utara dari Pura Desa Bale Agung Pura Kangin Banjarangkan. Setelah berhasil membuka hutan Tegal Wangi,  akhirnya Bendesa Gejin dan para pengikutnya membangun pemukiman. Mulai berdatanganlah berbagai kelompok masyarakat seperti soroh Ksatria, Brahmana, Pasek dari berbagai wilayah untuk ikut bermukim di tempat yang baru dibuka. Disamping membangun rumah, ladang, dan juga sawah, masyarakat juga membangun tempat suci berupa Pura Kahyangan Desa yang diberi nama Pura Desa Bale Agung Pura Kangin yang merupakan cikal bakal berdirinya Desa Banjarangkan, Klungkung.  Untuk mewujudkan rasa syukur atas keberhasilan membuka hutan dan juga membangun pemukiman, serta tempat suci, Bendesa Gejin bersama dengan masyarakat melaksanakan persembahan, kaul (Naur Sesangi) yang disebut Meprani. Dalam ritual meprani yang dilaksanakan oleh warga Banjar Adat Nesa sebagai Pengempon dari Pura Desa Bale Agung Pura Kangin, menggunakan dua jenis hewan yakni ayam dan babi. Adapun untuk ayam yang digunakan dalam ritual ini adalah ayam aduan yang kalah atau seri (sapih), saat diadakannya Tabuh Rah sehari sebelum upacara meprani dilakukan. Sehari sebelum ritual meprani dilaksanakan, warga Banjar Adat Nesa mengadakan acara Tabuh Rah (Sabung Ayam) di Wantilan Pura Desa Bale Agung Pura Kangin. Anggota masyarakat yang ayam aduannya menang atau sapih (seri), akan menyerahkan kuku rambut ayam yang dikalahkan (Cundang) untuk dijadikan pelengkap persembahan dalam upacara meprani. Untuk melengkapi sarana banten dalam rangkaian upacara meprani dibutuhkan:

  1. Pantat ayam/kibul   : 9 potong
  2. Sayap ayam/kampid  : 18 potong
  3. Kaki ayam/kejing    : 18 potong

Bagian tubuh dari ayam cundang di atas, akan diolah oleh warga dan digunakan sebagai sarana untuk melengkapi sesajen yang akan dihaturkan di berbagai tempat di lingkungan Pura Desa Bale Agung Pura Kangin. Hasil dari olahan daging ayam tersebut dinamakan Gantusan Kuku Rambut 9 (Sembilan) Gencet. Gantusan kuku rambut dilengkapi dengan bagian daging ayam cundang yang telah diolah menjadi sate dan lawar, dibuat menjadi bagian-bagian (tandingan) sebagai berikut: 

a) Tandingan sate linggih 12 sebanyak 12 tanding.  

b) Tandingan gantusan kuku rambut sebanyak 9 gencet.  

c) Kawisan ayam sebanyak 6 tanding.  

d) Cokotan lawar ayam diisi tabuh tuak dibuat sesuai dengan jumlah warga (krama). 

Sisa bagian ayam cundang setelah digunakan untuk tetandingan akan diolah menjadi be kuwah sebagai pelengkap menu Megibung. Di samping menggunakan sarana daging ayam, banten prani juga menggunakan daging babi. Adapun bagian-bagian daging babi yang digunakan sebagai sarana upakara adalah: 

a). Hidung babi 1 potong 

b). Telinga babi 2 potong 

b). Lidah babi 1 potong 

c). Darah babi secukupnya  

d). Jantung babi 1 potong 

e). Hati babi 1 potong 

f). Paru-paru babi 1 potong 

g). Ekor babi 1 potong 

h). Pantat babi 1 potong. 

Bagian-bagian tubuh babi tersebut digunakan sebagai pelengkap, berupa tandingan bawi (babi) 33 soroh x 9 tanding yang akan digunakan sebagai pelengkap pada saat upacara meprani. Bagian daging babi yang lainnya, akan diolah menjadi menu sate dan lawar dan akan dibuat dalam bentuk tetandingan sebagai berikut: 

a) Tandingan linggih dan sate 12 katih (tusuk) sebanyak 9 tanding 

b) Tandingan gapit 40 tanding 

c) Tandingan be matah (daging mentah) 50 tanding 

d) Tandingan sate togog 40 tanding 

e) Kawisan bawi (babi) 40 tanding

Setelah dihaturkan oleh Pemangku tetandingan ini wajib disantap bersama warga Pengempon Pura dan para undangan yang hadir. Acara makan bersama inilah dikenal dengan istilah Megibung. Disamping perlengkapan upakara yang dibuat dari daging ayam cundang dan babi, Krama istri (kaum perempuan) juga mempersiapkan banten prani yang berisi berbagai buah dan jajan, serta perlengkapannya sesuai dengan kemampuan. 

Prosesi Ritual Meprani  

  • Sehari sebelum dilaksanakannya ritual meprani, seluruh warga Banjar Adat Nesa khususnya yang laki-laki akan menghadiri acara Tabuh Rah. Setiap warga wajib mengeluarkan satu ekor ayam jago untuk dibawa ke Wantilan Pura tempat dilaksanakan tabuh rah. Tujuan diadakan tabuh rah adalah untuk memperoleh kuku rambut cundang (bagian-bagian tubuh ayam kalah/mati), seperti kepala ayam sampai leher, sayap, kaki dan pantat ayam diserahkan/dihaturkan untuk keperluan ritual meprani. Banyaknya ayam bertarung dalam tabuh rah maksimal sebelas kali pertarungan (11 saet) untuk memperoleh 9 potong kepala sampai leher, 9 pantat ayam (kibul), 19 potong sayap, 18 potong kaki. Biasanya apabila ada ayam aduan yang seri (sapih) pemilik ayam juga menghaturkan bagian-bagian ayam yang diperlukan. Apabila kuku rambut yang diperoleh sudah cukup tabuh rah dihentikan, selanjutnya seluruh warga kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam rangka membuat olahan daging prani keesokan harinya.
  • Pagi hari pada hari Minggu Umanis Langkir seluruh warga sudah berkumpul di wantilan pura Desa Bale Agung Pura Kangin untuk mulai bekerja (ngayah). Biasanya isyarat mulai bekerja didahului oleh suara kentongan untuk mengingatkan warga bahwa pekerjaan membuat olahan sarana perlengkapan meprani. Setelah warga menyelesaikan pekerjaan mengolah daging ayam dan babi seluruh pengayah (warga) disuguhkan Cokotan (penyemeng) lawar ayam/babi dan minuman tuwak. Kaum perempuan juga ikut dalam mempersiapkan/memasak nasi untuk keperluan upakara dan makan bersama. Di samping membantu memasak nasi kaum perempuan juga mempersiapkan sajen (banten) yang akan digunakan sebagai sarana meprani yang akan diadakan sore harinya. Pada pelaksanaan persiapan upakara perlengkapan meprani tampak juga melibatkan generasi muda yang juga ikut ngayah menggantikan orang tuanya. 
  • Setelah tetandingan dari olahan daging babi selesai yang disebut tetandingan linggih bawi lengkap dengan tumpeng nasi pangkonan gede, maka tetandingan tersebut dihaturkan di tujuh area pelinggih yang ada di lingkungan Pura. Setelah dihaturkan oleh Jro Mangku maka tetandingan linggih ini wajib disantap bersama oleh seluruh warga dan para undangan yang hadir yang dikenal dengan tradisi megibung (makan bersama). Di samping menyantap makanan yang telah dihidangkan warga juga disajikan minuman tuak, merupakan tradisi yang telah diwarisi secara turun-temurun. Tradisi megibung ini disamping diikuti oleh warga yang beragama Hindu, tampak juga warga keturunan Tionghoa yang bermukim di sekitaran jalan raya Banjarangkan juga ikut serta. 
  • Pada sore harinya seluruh warga Banjar Adat Nesa, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan generasi muda, termasuk disini masyarakat keturunan Tionghoa datang ke Pura Desa Bale Agung Pura Kangin. Kaum perempuan menjunjung banten prani yang telah dipersiapkan dari rumah masing-masing. Banten prani biasanya berisi buah-buahan, jajan, sate dan canang secukupnya. Di samping itu para peserta acara meprani juga membawa sarana persembahyang seperi bunga, dupa dan lain-lain. Seluruh banten prani dari warga diletakkan berjejer di halaman Pura di depan Pelinggih, seluruh warga duduk di belakang banten prani. Setelah semuanya siap, Jro Mangku mulai menghaturkan banten prani dan selanjutnya diikuti oleh persembahyangan bersama seluruh warga, sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah yang dilimpahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa selama ini, juga wujud ungkapan rasa syukur telah berhasil dalam merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Selain itu, upacara meprani ini juga merupakan bagian ungkapan rasa bakti dan syukur karena telah berakhirnya upacara Pujawali di Pura Desa Bale Agung Pura Kangin. Selanjutnya di akhir pelaksanaan tradisi ini, para peserta yaitu warga Banjar Adat Nesa saling tukar-menukar surudan banten prani (sarana yang telah dihaturkan) sebagai wujud tanda persaudaraan antar warga.

Secara filosofis masyarakat Desa Banjarangkan memaknai penyelenggaraan ritual meprani sebagai upaya manusia dalam menyeimbangkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam sebagai inti dari ajaran Tri Hita Karana. Hal ini juga berkaitan dengan ucapan rasa syukur terhadap kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang sudah melimpahkan sumber kehidupan. Ucapan rasa syukur ini diwujudkan dalam persembahan banten prani berbagai hasil bumi seperti buah-buahan, jajan dan sate. Acara megibung dalam ritual meprani merupakan ungkapan rasa syukur kehadapan Sang Pencipta atas berkah yang telah diterima, juga sebagai media untuk tetap mempersatukan warga Desa Banjarangkan dari berbagai kelompok (soroh) dan keturunan.

Alamat

Banjar Adat Nesa, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya Takbenda

Domain

Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan