Tradisi Mebayang-bayang memiliki arti melakukan aktivitas atau gerakan saling tarik-menarik belulang godel (kulit anak sapi). Godel yang digunakan sebagai sarana pun harus betina yang hidungnya belum dicocok dan diyakini masih suci. Tradisi ritual Mebayang-bayang ini bertujuan untuk mengusir pengaruh negatif yang datang dari luar Desa Adat Sengkiding. Prosesi Mebayang-bayang sebagai rangkaian menjelang hari raya Nyepi digelar dan dipusatkan di Catus Pata atau Perempatan Agung Desa Adat Sengkiding pada Tilem Kesanga, pukul 18.00 Wita hingga malam pukul 20.00 Wita. Sebelum tradisi ritual Mebayang-bayang dilaksanakan, terlebih dahulu digelar upacara tawur agung kesanga yang mengambil tempat di Catus Pata Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.
Saat tradisi ritual Mebayang-bayang digelar, sejumlah kulkul (Kentongan) besar dipukul sehingga mengeluarkan suara yang bertalu talu untuk menyemarakkan tardisi ritual Mebayang-bayang itu dan diiringi oleh suara teriakan yang gemuruh dari peserta tradisi ritual Mebayang-bayang tersebut. Pada saat yang bersamaan juga dinyalakan sejumlah perakpak (obor besar yang terbuat dari daun kelapa kering yang disatukan menjadi ikatan besar) dipasang di pinggir areal tradisi ritual Mebayang-bayang yang berfungsi sebagai penerangan jalan.