Sejarah Baris Gede Telek sangat erat kaitannya dengan keberadaan Pura Dalem Kedewatan yang berada di Sanur. Pura Dalem Kedewatan yang terletak di Jalan Hang Tuah, Desa Sanur, Bali, merupakan salah satu pura yang memiliki sejarah dan tradisi unik. Selain sebagai tempat suci yang penting bagi umat Hindu di Bali, pura ini juga dikenal karena tarian sakralnya yang disebut Baris Gede Telek. Baris Gede ini bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi merupakan bagian integral dari sejarah dan pendirian pura tersebut. Pura Dalem Kedewatan memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perjalanan suci (tirtha yatra) yang dilakukan oleh Dhang Hyang Nirartha, seorang pendeta Hindu terkenal yang datang ke Bali pada masa pemerintahan Ida Dalem Waturenggong (1460-1550 M). Pura ini dikategorikan sebagai Pura Dang Kahyangan, yaitu pura yang didirikan oleh tokoh-tokoh suci pada masa lalu dan memiliki peranan penting dalam spiritualitas masyarakat Bali. Menurut penuturan Penglingsir Griya Jero Gede Sanur, Ida Bagus Ngurah Mudhita, Pura Dalem Kedewatan didirikan oleh keturunan dari Dhang Hyang Nirartha yang bernama Ida Bhatara Sakti Ngenjung. Beliau merupakan putra dari Ida Pedanda Anom Bendesa. Ida Pedanda Anom Bendesa salah seorang putra dari Ida Pedanda Telaga Sakti Ender, seorang pendeta yang menetap di daerah Klungkung dan memiliki empat orang putra, yaitu Ida Pedanda Empu, Ida Pedanda Made Telaga, Ida Pedanda Anom Bandesa, dan Ida Pedanda Ketut Penida. Keempat putra ini kemudian tinggal di berbagai wilayah di Bali setelah masa pemerintahan Ida Dalem Segening (1580-1605 M). Ida Pedanda Anom Bendesa, salah satu putra dari Ida Pedanda Telaga Sakti Ender, memilih menetap di Desa Padanggalak. Di desa ini, beliau membentuk sebuah komunitas dengan 40 kepala keluarga dan mendirikan sebuah desa. Beliau menikah dengan I Gusti Ayu Putu Pacung, keturunan dari I Gusti Ngurah Pinatih, dan bersama-sama mereka menjadi pemimpin spiritual di desa tersebut dan memiliki seorang putra bernama Ida Pedanda Sakti Ngenjung. Pada suatu waktu, saat masa pemerintahan Ida Pedanda Sakti Ngenjung bersama kedua putranya Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa, Desa Padanggalak dilanda bencana air bah yang memaksa penduduknya untuk mencari tempat tinggal baru. Setelah berusaha bertahan, akhirnya Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa bersama keluarganya dan para pengikutnya memutuskan untuk meninggalkan desa tersebut. Mereka menerima petunjuk dari sinar putih yang muncul dari arah utara Desa Padanggalak, yang kemudian membawa mereka ke sebuah lokasi yang sekarang dikenal sebagai Desa Sanur. Kata “Sanur” sendiri berasal dari kata “Sah” yang berarti tunggal dan “Nur” yang berarti sinar atau cahaya. Dalam perjalanan menuju Desa Sanur, para pengikut Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bedesa menyebar keempat penjuru arah dari pusat datangnya sinar suci tersebut. Mereka menetap di berbagai wilayah, seperti Pakandelan di utara, Batanpoh di timur, Pemaron di selatan, dan Belong di barat. Sementara itu, Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa tinggal di pusat desa bersama putranya. Setelah menetap di Sanur, Ida Pedanda Wayahan Bendesa memilih untuk pergi ke arah utara meninggalkan Sanur dan adiknya Ida Pedanda Made Bendesa beserta para pengikutnya. Sepeninggal Ida Pedanda Wayahan Bendesa, Desa Sanur dipimpin oleh Ida Pedanda Made Bendesa, beliau memerintahkan para pengikutnya untuk memindahkan (ngingsirang) pura-pura yang sebelumnya ada di Padanggalak. Di antara pura-pura yang dipindahkan adalah Pura Dalem Kedewatan, Pura Batur, dan Pura Kahyangan Tiga. Namun, beberapa pura seperti Pura Padang Sakti dan Pura Kentel Gumi tetap berada di Tangtu karena masih ada masyarakat yang tinggal di sana dan ditugaskan untuk merawat pura tersebut. Proses pemindahan pura-pura ini tidak hanya terekam dalam sejarah lisan, tetapi juga diabadikan dalam bentuk tari yang disebut Baris Gede Telek. Tarian ini merupakan tari wali, atau tari sakral, yang wajib ditarikan di Pura Dalem Kedewatan. Baris Gede Telek dipersembahkan saat Ida Bhatara, manifestasi dari dewa yang dihormati, datang dari prosesi Melasti atau penyucian di Pantai Sanur. Baris Gede Telek menggambarkan bagaimana proses pemindahan pura dari Padanggalak ke Sanur. Oleh karena itu, atribut dan perlengkapan yang digunakan dalam baris ini identik dengan bahan-bahan bangunan yang digunakan saat pemindahan pura. Baris Gede Telek ini ditarikan oleh 13 orang penari yang dipilih berdasarkan garis keturunan. Keunikan dari tarian ini adalah bahwa taksu (spiritualitas) tarian hanya akan ada jika ditarikan oleh keturunan yang tepat. Jika tidak, maka nilai spiritual dari tarian ini akan hilang. Selain itu tarian ini juga memiliki gerakan unik yang mirip gerakan binatang, seperti gerakan Nyregseg Siap (gerakan kaki yang dilakukan dengan tempo cepat yang disesuaikan dengan tempo lagu kajar pada gamelan), Enggog Capung (gerakannya terinspirasi dari capung yang biasanya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara perlahan), dan gerakan Nyantra (gerakan ini dilakukan dengan cara melemparkan tombak yang awalnya dalam posisi horizontal menjadi vertikal). Gerakan Nyantra ini hanya ada di Baris Gede Telek. Piodalan di Pura Dalem Kedewatan memiliki penetapan hari yang unik juga. Piodalan di pura ini jatuh tiga hari setelah pertemuan antara Tilem (bulan mati) dengan wewaran Kajeng. Secara umum, pura ini disungsung atau dijaga oleh masyarakat Desa Adat Sanur, dan yang dipuja adalah Ida Bhatara Dalem Kedewatan sebagai manifestasi dari Dewa Siwa. Pura Dalem Kedewatan Sanur bukan hanya sekadar tempat suci, tetapi juga merupakan simbol dari perjalanan spiritual dan kaya akan nilai sejarah. Baris Gede Telek yang ditarikan di pura ini merupakan cerminan dari proses ritual panjang yang dilalui oleh pendahulu mereka dalam memindahkan dan mendirikan pura. Melalui tarian ini, masyarakat tidak hanya memperingati sejarah mereka, tetapi juga menjaga nilai-nilai spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dan diyakini mampu menjadi spirit pemersatu bagi masyarakat Sanur. Sehingga dapat dikatakan Baris Gede Telek, memiliki fungsi ritual dan sosial bagi masyarakat Sanur. Dengan demikian, Pura Dalem Kedewatan dan tradisi Baris Gede Telek yang terkait dengannya tetap hidup dan terus menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat Sanur. Untuk menjaga kesejahteraan di Sanur dan kelestarian Baris Gede Telek, Griya Jero Gede menugaskan masyarakat Banjar Belong Desa Adat Sanur untuk merawat dan mengempon Palinggih Bhatara Surya sebagai Stana Bari Gede Telek.