Tari Gandrung yang berasal dari Banjar Bangunurip, Desa Batukandik, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, merupakan tarian sakral (Tari Wali). Keberadaan dari tari Gandrung Bangunurip memiliki kaitan erat dengan asal-usul dari nama Banjar Bangunurip. Tari Gandrung Bangunurip merupakan tari sakral berusia cukup tua dan sarat dengan mitos, serta simbol-simbol. Tarian ini dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai suatu yang sakral dan mengandung makna-makna religius, sehingga masyarakat terdorong untuk melestarikannya. Tujuannya ialah dalam upaya untuk mewujudkan lingkungan alam yang harmoni, serta terhindar dari gangguan-gangguan negatif yang datang dari luar Desa Batukandik. Tari Gandrung Bangunurip dipentaskan dalam upacara keagamaan, yaitu ketika ada upacara Piodalan di Pura Puseh, Pura Geriya, Merajan, dan pada hari suci Galungan. Tarian ini juga dipentaskan di rumah tangga penduduk, manakala ada upacara Yadnya seperti Odalan atau Otonan anak (Upacara Kelahiran). Berdasarkan arsip yang dimiliki oleh Bendesa Adat Batukandik, I Putu Asta Sumara menjelaskan bahwa, pada zaman dahulu warga setempat kebanyakan hidup sebagai petani di lahan tegalan tadah hujan, dengan menanam tanaman semangka merah. Atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, tanaman semangka itu berbuah dengan baik dan rasanya cukup manis. Pada suatu hari, seorang petani pemilik kebun semangka pergi ke kebunnya dan melihat buah semangkanya hilang. Kemudian pada hari berikutnya, petani semangka itu pun kembali ke kebunnya dan mengetahui buah semangkanya ternyata hilang lagi. Hampir setiap hari petani itu kehilangan buah semangkanya. Kejadian ini membuat petani itu pun bingung dan heran, kenapa buah semangkanya hilang terus. Ternyata yang memakan buah semangka itu adalah seekor burung raksasa, sejenis burung Garuda yang oleh penduduk setempat disebut dengan nama Manuk Dewata. Pemilik kebun semangka itu menjadi sangat penasaran. Ketika burung itu turun di kebun semangkanya, petani itu pun mendekati burung raksasa itu. Kemudian ia memegang kakinya, dengan maksud untuk menangkap burung tersebut. Ternyata burung itu tidak bergeming sedikitpun, bahkan setelah burung itu kenyang memakan buah semangka, burung itu kemudian terbang ke arah selatan dan petani itupun, malah ikut terbawa terbang. Karena takut terjatuh, maka dipeganglah kaki burung itu erat-erat oleh petani pemilik kebun semangka itu. Setelah beberapa jam terbang, burung itu berhenti di dekat sarangnya. Adapun didekat sarang burung itu, ada sumur kecil dengan airnya yang amat jernih yang disebut dengan Cubang. Burung itu mulai kehausan dan meminum air dari Cubang beberapa kali, kemudian petani yang ikut terbawa oleh burung itu, kebetulan membawa sebuah cawan kecil (papuhan) yang biasanya digunakan sebagai tempat kelengkapan makan daun sirah (nginang). Petani itu kemudian mengambil air setiap kepala burung raksasa itu menengok ke atas, dengan menggunakan Papuhan yang dicelupkan ke Cubang, tempat burung raksasa itu minum sampai Papuhan itu penuh terisi air. Setelah beberapa hari burung raksasa itu meninggalkan kebun semangka, karena merasa lapar burung itupun kembali ke kebun semangka tersebut. Maka burung itu pun terbang kembali ke tempat kebun semangka, bersama dengan petani yang ikut terbang bersama burung raksasa tersebut. Sesampainya di kebun semangka, burung raksasa itu kembali melahap buah semangka. Petani yang terbawa oleh burung raksasa tersebut, dengan segera melepaskan diri dari pegangan kaki burung dan bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja air yang ada di dalam Papuhan itu tumpah dan mengenai batang kayu yang sudah mati. Anehnya, kayu yang terkena air dari Papuhan itu secara perlahan hidup kembali seperti sedia kala. Oleh masyarakat setempat, air yang dibawa dan mengenai batang kayu itu disebut Banyu Urip (Banyu = Air, dan Urip = Hidup). Atas kejadian itu, lama-kelamaan pohon yang kembali hidup dan tumbuh subur, serta berbunga, sehingga wilayah itu diberi nama Bungan Urip. Dalam perkembang lebih lanjut, wilayah itu kemudian diberi nama Bangunurip. Setelah beberapa hari kemudian, petani yang ikut terbang bersama burung raksasa itu menerima pewisik/petunjuk, bahwa air yang dibawa dalam Papuhan itu dapat digunakan untuk mengobati orang sakit, bahkan orang yang sudah sekarat pun bisa disembuhkan. Ternyata keampuhan dari air yang bisa menyembuhkan segala penyakit itu mulai tersebar luas di wilayah Nusa Penida, bahkan hingga ke Bali. Kabar tentang kesaktian dari petani itupun akhirnya sampai ke Puri Klungkung. Sang Raja kemudian memerintahkan utusannya untuk memanggil petani itu untuk menghadap ke Kerajaan Klungkung, dengan membawa serta air suci dalam Papuhan itu (Banyu Urip). Setelah sampai di Puri, petani itu menceritakan asal-muasal air suci itu di dapat. Mendengar penjelasan dari sang petani, dengan membawa air suci yang mampu menyembuhkan orang sakit, Sang Raja meminta agar air suci itu dipersembahkan di Puri dan petani itupun segera mempersembahkan air suci kepada Sang Raja. Sebagai balasannya, Sang Raja bersabda:
”Wahai engkau, aku beri titah untuk selalu menolong orang dengan kemampuanmu. Apapun yang kau beri dan gunakan untuk mengganti air suci yang kau persembahkan, maka akan mampu menyembuhkan orang yang membutuhkan pertolonganmu”.
Sekembalinya petani itu di Nusa Penida, dia menceritakan kepada istri dan anaknya bahwa, air suci yang dia peroleh telah dipersembahkan kepada Sang Raja. Pada malam harinya, petani itu mendapatkan petunjuk/pewisik untuk selalu menolong orang dengan “Pees Bayu” (air kunyahan daun sirih dengan pamor, gambir, tembakau, dan buah pinang). Kemudian petani itu menyampaikan pewisik itu kepada keluarganya, sehingga akhirnya dibangunlah tarian Gandrung, sebagai pengganti air suci yang telah dipersembahkan kepada Sang Raja. Keberadaan dari Tari Gandrung Bangunurip diketahui mempunyai usia yang cukup tua, dan diperkirakan sudah ada saat Raja Ida Dalem Waturenggong bertakhta di Gelgel (1459 – 1550 Masehi). Tari Gandrung Bangunurip dipentaskan dan ditarikan oleh dua orang anak laki-laki yang belum menginjak dewasa karena dianggap sebagai orang yang masih suci. Adapun untuk penari lainnya, seperti: Penasar (bebanyolan) dalam sebuah lakon cerita perjalanan ngamet tirta (air suci). Pada awalnya tari Gandrung Bangunurip hanya dipentaskan di Pura dalam rangkaian upakara yadnya. Namun tarian ini kini telah berkembang ke masyarakat umum untuk dipentaskan, bagi warga yang mengalami musibah sakit, tidak punya keturunan dan lain-lainnya. Tujuannya adalah untuk memohon kesembuhan dengan cara Mesesangi/berjanji, ketika permohonannya itu terpenuhi, maka warga akan mengupah tari Gandrung Bangunurip untuk dipentaskan di tempat warga yang mengupah tersebut. Pada akhir pertunjukan, salah satu penari Gandrung Bangunurip mengunyah daun sirih, kapur sirih, gambir, buah pinang, dan tembakau (Lekesan). Kemudian air kunyahan itu akan dioleskan pada orang yang sakit oleh “Banyol” (dagelan) dengan sarana upakara berupa Praspejati lengkap dengan canang pitulikuran. Pada saat tari Gandrung Bangunurip itu dipentaskan, diawali dengan Japa Mantra:
Aji welas dalang kocap kejawetan wis kemimitan panak jero dalang nangun paseban wis tanah idup
mengidupi jalane panggih dadigung tutune sinambut.
Selai utasan ikang Made Wastra wastra telaga dadia pes bulan manik sewadon dadiya tutune sinambat.
Artinya:
Karena kebaikan Tuhan yang diucapkan oleh seorang dalang, dijelaskan awal mula keturunan jero dalang, dibangunlah sebuah tempat pertemuan, setelah itu mulai ada cerita yang diterapkan untuk pedoman hidup. Simbol yang terkandung dalam Lekesan ialah sebagai simbol dari kekuatan Sabda (Kekuatan suara/kata-kata), Bayu (Kekuatan tenaga, energi), Idep (Kekuatan pikiran,akal), Rasa dan Cita. Lekesan sirih itu dibuat dengan dua helai daun sirih yang dilengkapi dengan kapur, buah pinang, gambir, dan tembakau, diikat dengan benang yang mengandung makna: sirih melambangkan pengetahuan yang baik dan benar; gambir mengandung makna kebahagiaan batin; kapur/pamor mengandung makna universal, dan benang bermakna sebagi simbol suci tali pengikat dalam proses kehidupan. Adapun air kunyahan (pees bayu) itu, dioleskan di dahi yang akan membayar kaul (naur sesangi) yang telah diucapkan sebelumnya, karena permohonannya itu telah terkabulkan.
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh Kelihan tari di dalam melakukan persiapan pementasan Tari Gandrung Bangunurip adalah sebagai berikut:
1. Menentukan penari yang akan menarikan tari Gandrung dengan syarat umur antara 10 sampai 11 tahun, berasal dari keturunan penari sebelumnya, dan tidak pernah mandi dengan air kotor/air bekas ember cucian.
2. Mempersiapkan pakaian tari Gandrung untuk disucikan dengan cara diperciki air suci/tirta.
3. Melatih para penari yang akan menarikan tari Gandrung tersebut.
4. Sehari sebelum pementasan dilakukan upacara Pawintenan, agar para penari Gandrung bersih lahir batin.
Setelah itu barulah pementasan tari Gandrung Bangunurip dilaksanakan, dengan diiringi oleh musik yang dilengkapi dengan seperangkat gambelan dan diakhiri dengan persembahyangan bersama.
Ragam busana yang dikenakan oleh penari Gandrung Bangunurip masih terikat dengan pakem tertentu. Baju atasan ditentukan harus menggunakan baju kemeja berwarna putih, kamben cepuk, selendang (wastra), dan berbagai perlengkapan kostum lain seperti gelung, ampok-ampok, bapang dan kepet/kipas. Pada zaman dahulu, orang yang akan memesan tari Gandrung Bangunurip harus melalui beberapa tahapan, seperti; Tahap pertama, Memadik (meminang) dengan membawa bahan untuk menginang yaitu; daun sirih, buah pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau. Tahap kedua, Mantesan (mencocokkan waktu antara pencari dengan ketua Sekaa tari Gandrung Bangunurip dengan membawa Lekesan. Tahap ketiga/Terakhir, Mendak (menjemput) penari Gandrung Bangunurip disertai dengan membawa sesajen (banten pemiut). Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, tahapan-tahapan ini telah mengalami pergeseran namun tanpa mengurangi arti kesakralannya, seperti memesan hanya lewat telepon dan menyediakan besaran dana sesuai dengan kesepakatan bersama. Penari Gandrung Bangunurip akan datang ke tempat orang yang mengupah, sesuai dengan waktu yang telah disepakati sebelumnya. Air sirih yang dipercaya sebagai pengganti dari Banyu Urip yang telah diambil oleh Sang Raja. Merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pementasan Tari Gandrung Bangunurip. Hal itupun telah dibuktikan berkali-kali oleh masyarakat yang sakit di Desa Batukandik khususnya, dan di Nusa Penida pada umumnya. Setelah petani itu dan istrinya meninggal dunia, mereka dikubur ditanah miliknya sendiri dan kemudian dibuatkan Pelinggih. Adapun tempat dimana petani dan istrinya dikubur dan dibuatkan Pelinggih itu, sekarang dikenal dengan Pura Geriya, di Banjar Adat Bangunurip, Desa Adat Batukandik, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.