Ada masa dalam hidup ketika kita tidak benar-benar membutuhkan liburan. Kita hanya membutuhkan jeda. Jeda dari notifikasi yang tidak berhenti. Dari pekerjaan yang menuntut selesai sebelum kita sempat bernapas. Dari peran-peran yang membuat kita terbiasa mengatakan, “Aku bisa,” bahkan ketika sebenarnya tubuh berbicara lewat sakit.
Bagiku salah satu tempat yang cocok untuk “kabur” dari rutinitas adalah Bali. Bukan karena Bali mampu menyelesaikan semua masalah. Bukan pula karena berpindah tempat otomatis membuat luka menghilang. Aku datang ke Bali dengan kesadaran bahwa healing bukan tentang melarikan diri dari kehidupan, melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mendengar kembali apa yang selama ini tertutup oleh kebisingan. Bali menjadi semacam ruang antara. Di sana, aku belajar bahwa alam memiliki bahasa psikologisnya sendiri.
Berangkat dari Ujung ke Ujung
Salah satu hal yang paling menyenangkan dari healing di Bali adalah perjalanan itu sendiri. Seru sekali rasanya naik Bus dari Terminal Tirtonadi ke Bali, menyebrang dengan kapal. Seru juga naik pesawat dari Bandara Adi Soemarmo ke Bandara Ngurah Rai yang hanya satu jam.
Dari selatan sampai utara, dari timur sampai barat, setiap perjalanan terasa seperti berpindah halaman dalam sebuah buku.
Ada Bali yang riuh dengan wisatawan. Ada Bali yang sunyi ketika pagi baru saja dimulai. Ada laut yang luas dan membuat persoalan terasa mengecil. Ada pepohonan yang membuat kita tiba-tiba sadar bahwa selama ini kita terlalu sering hidup dalam ruang-ruang tertutup.
Dan di antara perjalanan panjang itu, ada sesuatu yang perlahan disadari, yaitu tentang tidak terburu-buru dan mulai memperhatikan. Bahwa ternyata healing sering kali dimulai dari kemampuan sederhana untuk hadir utuh disini, kini, ini.
Laut di Nusa Dua dan Perasaan yang Tidak Harus Segera Selesai
Kawasan Nusa Dua sangat menenangkan. Tidak terlalu ramai, namun seperti pulang ke rumah keluarga. Aku suka berjalan di sepanjang pantai yang ada disana. Kita bisa datang ke tepi pantai dalam keadaan bahagia, sedih, lelah, bingung, atau bahkan tanpa tahu sebenarnya sedang merasakan apa. Laut tetap datang dengan ombaknya. Berulang. Datang dan pergi.
Dalam perspektif psikologis, pengalaman berada di alam dapat menjadi bentuk attentional restoration kesempatan bagi pikiran yang terus-menerus bekerja untuk beristirahat dari tuntutan perhatian yang intens.
Mungkin itu sebabnya, saat itu saat aku duduk di depan laut diselama beberapa menit bisa terasa berbeda dibandingkan duduk di depan layar selama berjam-jam. Di depan layar, kita terus menerima. Di depan laut, kita hanya mengamati.
Aku membiarkan pikiran datang tanpa harus langsung mencari jawabannya. Tentang pekerjaan., keluarga, masa depan, keputusan-keputusan yang pernah kuambil, diriku sendiri. Tidak semuanya harus selesai hari itu. Beberapa hal cukup ditemani.
Sawah di Bangli dan Tubuh yang Kembali Merasa Aman
Saat berkendara di kawasan Bangli kita akan banyak melihat sawah yang sangat asri. Ada sensasi yang berbeda ketika berjalan di antara alam. Udara terasa lebih pelan. Suara kendaraan digantikan suara burung, angin, atau langkah kaki sendiri. Alam seperti mengingatkan tubuh bahwa manusia sebenarnya tidak diciptakan untuk terus berada dalam kondisi siaga.
Ketika terlalu lama hidup dalam tekanan, tubuh bisa terbiasa dengan keadaan “harus siap”. Siap menjawab pesan. Siap menyelesaikan pekerjaan. Siap menghadapi masalah. Siap memenuhi ekspektasi. Sampai akhirnya kita lupa bagaimana rasanya tidak perlu siap terhadap apa pun.
Menginap di Desa Susut di Bangli memberiku kesempatan untuk menurunkan kewaspadaan itu sedikit demi sedikit. Bukan berarti seluruh masalah hilang. Tetapi sistem di dalam diri seperti mendapatkan pesan sederhana “its okay to take a break”. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa perjalanan ke tempat-tempat hijau terasa begitu menenangkan. Bukan hanya mata yang mendapatkan pemandangan. Tubuh juga mendapatkan pengalaman.
Pantai Lovina Singaraja yang Mengajarkanku tentang Slow Living
Ada sesuatu yang lucu dari perjalanan. Kita pergi jauh untuk mencari ketenangan, tetapi terkadang justru membuat itinerary yang sangat padat. Hari ini pantai. Besok air terjun. Lalu pura. Lalu sawah. Lalu sunset. Lalu kuliner. Kemudian pindah penginapan.
Tetapi justru di Pantai Lovina yang tenang ini aku belajar bahwa healing bukan berarti harus melakukan semuanya. Healing juga berarti tahu kapan berhenti. Ada hari ketika aku ingin menjelajah dari pagi sampai malam. Ada hari ketika aku hanya ingin duduk, membaca buku, atau kuliner, kemudian melihat langit berubah warna. Keduanya sama-sama valid. Karena kebutuhan manusia tidak selalu sama setiap hari. Dan mengenali kebutuhan itu adalah bagian dari mengenali diri sendiri.
Di Beach Walk, Aku Bertemu Banyak Versi Diriku
Bali akhirnya bukan hanya tentang tempat-tempat yang kukunjungi. Ia menjadi perjalanan menemui berbagai versi diri. Ada diriku yang berani mencoba hal baru di Jembrana, aku menyewa motor dan berani explore ujung Bali. Ada diriku yang ternyata mudah lelah, aku memutuskan untuk banyak makan makanan hangat seperti Sup Ikan Mak Beng agar tubuhku terasanyaman. Ada diriku yang senang berjalan sendirian, aku suka sekali kawasan Seminyak. Ada diriku yang ternyata masih menyimpan banyak pertanyaan, rasanya tidak cukup berkali-kali ke Bali.
Semakin jauh perjalanan dilakukan, semakin aku memahami bahwa manusia tidak pernah hanya memiliki satu identitas. Kita bisa menjadi pekerja, pasangan, anak, teman, ibu, perempuan, sekaligus individu yang tetap memiliki kebutuhan pribadi.
Sering kali kita terlalu sibuk menjalankan peran sampai lupa bertanya, “Aku sendiri sebenarnya sedang bagaimana?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat dalam. Dan Bali memberiku ruang untuk bertanya tanpa harus buru-buru menjawab.
Mindfullness Makan Ikan Bakar Kenja Mengingatkan Bahwa Healing Bukan Menghapus Luka
Makan makanan favorit adalah satau bentuk self care yang menyenangkan. Aku datang ke Kenja di Nusa Dua dan memesan Lobster. Enak sekali. Aku akhirnya memahami bahwa healing bukanlah kondisi ketika kita sudah tidak pernah sedih. Bukan ketika semua trauma hilang. Bukan ketika hidup tiba-tiba menjadi sempurna.
Healing mungkin lebih sederhana dari itu. Healing adalah ketika kita mulai mampu hidup berdampingan dengan bagian-bagian diri yang dulu ingin kita sembunyikan. Kita belajar menerima bahwa ada hari ketika kita kuat. Ada hari ketika kita rapuh. Ada hari ketika kita produktif. Ada hari ketika kita hanya mampu bertahan. Dan semuanya tetap bagian dari perjalanan.
Yang terjadi adalah aku mendapatkan ruang untuk mendengarkan diriku sendiri, seperti sekarang ini aku yang menikmati Ikan Bakar, Sup Ikan dan Kerang yang sangat istimewa. Makan makanan kesukaan ini mengajarkan bahwa terkadang kita hanya perlu duduk, menikmati yang ada dan kita sukai untuk menemukan kembali arah.
Di Krisna Aku Pulang dengan Diri yang Sedikit Lebih Utuh
Di Krisna aku berlatih menentukan mana hal yang aku butuh dan tidak. Aku membeli body lotion khas bunga melati favoritku. Aku juga membeli daster yang nyaman untuk bersitirahat. Aku memang betul betul membutuhkan keduanya, sebagai ritual “me time” ku sebelum tidur agar tidurku nyenyak.
Aku pulang dari Bali bukan sebagai manusia yang sepenuhnya baru. Masalah yang sama mungkin masih menunggu. Pekerjaan tetap ada. Tanggung jawab tetap ada. Kehidupan sehari-hari tetap berjalan. Tetapi ada sesuatu yang berubah. Aku pulang dengan napas yang sedikit lebih panjang. Dengan kepala yang sedikit lebih lapang. Dengan kesadaran bahwa aku tidak harus selalu memiliki semua jawaban.
Mungkin kita memang tidak selalu bisa pergi jauh. Tidak selalu bisa membeli tiket pesawat. Tidak selalu bisa menginap berhari-hari. Tetapi pengalaman di Bali membuatku memahami satu hal, esensi healing bukan terletak pada seberapa jauh kita pergi. Melainkan seberapa dekat kita kembali kepada diri sendiri.
Karena pada akhirnya, tempat paling penting yang perlu kita datangi bukanlah sebuah pantai, gunung, hutan, atau pulau. Melainkan diri kita sendiri. Dan terkadang, perjalanan yang paling jauh adalah perjalanan pulang ke sana.