Pendahuluan
Belajar aksara kuno bukan sekadar berlatih mengenali bentuk huruf yang sudah tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Aksara adalah jejak langsung dari tindakan manusia masa lalu: seseorang memilih kata, menatah permukaan batu, mencantumkan waktu, menyebut tokoh, atau memberi tanda pada sebuah benda yang dianggap penting. Karena itu, kemampuan membaca aksara kuno mengubah benda arkeologis dari sekadar objek yang dilihat menjadi sumber yang dapat “berbicara”. Beberapa baris yang tampaknya pendek dapat memberi informasi tentang tanggal, nama orang, gelar, tempat, tata kalender, aktivitas keagamaan, bahkan orang yang mengerjakan benda tersebut. Dalam sejarah Bali Kuno, fungsi aksara ini menjadi sangat vital. Sebagian besar urutan raja, nama jabatan, nama desa, kewajiban masyarakat, bangunan suci, dan peristiwa politik diketahui melalui prasasti. Nama-nama besar seperti Śrī Kesari Warmadewa, Udayana, Marakata, Anak Wungsu, Jayapangus, hingga Śrī Aṣṭāsuraratnabhūmibantĕn tidak disusun hanya dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terutama dari pembacaan sumber epigrafis. Prasasti memberikan titik pijak yang dapat diuji secara ilmiah: angka tahun dapat dibandingkan, nama yang sama dapat dilacak pada prasasti lain, dan bentuk huruf dapat ditempatkan dalam perkembangan paleografi.
Ilmu yang secara khusus mempelajari prasasti disebut epigrafi. Epigrafi tidak berhenti pada membaca huruf. Peneliti harus mendokumentasikan permukaan benda, menyalin aksara, melakukan transliterasi, mengenali bahasa, menguraikan sistem penanggalan, lalu menafsirkan teks dengan bantuan sejarah, arkeologi, ikonografi, filologi, dan linguistik. Sementara itu, paleografi memusatkan perhatian pada bentuk serta perubahan aksara dari masa ke masa. Kedua bidang ini saling berkaitan erat: bentuk huruf membantu menentukan periode pembuatannya, sedangkan isi teks membantu menguji apakah dugaan berdasarkan kajian paleografi sesuai dengan kronologi sejarah.
Terdapat beragam aksara kuno yang pernah digunakan di Indonesia, dan yang tertua yang ditemukan di seluruh wilayah Nusantara adalah Aksara Pallawa. Hingga saat ini, jejak Aksara Pallawa belum ditemukan di Bali. Aksara tertua yang tercatat di pulau ini adalah aksara Pra-Nāgarī/Siddhamātṛkā melalui media tablet tanah liat Buddhis dan Prasasti Blanjong. Sejak sekitar abad IX, bentuk tulisan lokal yang berkembang di Bali lazim disebut sebagai aksara Bali Kuno atau Kawi. Secara luas, Kawi merupakan rumpun tulisan Nusantara turunan tradisi Brahmi-Pallawa yang dipakai di Jawa dan Bali, di mana istilah “Bali Kuno” menekankan pada varian regionalnya. Karena kedekatan bentuknya, kedua istilah ini kerap dipakai secara tumpang tindih dalam publikasi epigrafi. Di dalam rumpun Kawi tersebut, terdapat pula gaya monumental yang disebut aksara kwadrat. Huruf-hurufnya cenderung besar, bersudut atau persegi, dan pada banyak contoh dipahat menonjol menyerupai relief. Literatur lama sering menyebutnya sebagai “Kadiri/Kediri Kwadrat”. Meskipun istilah tersebut tetap berguna sebagai nama konvensional, penamaan itu tidak boleh dipahami secara keliru bahwa semua tulisan kwadrat berasal dari masa Kerajaan Kadiri abad XII. Penelitian paleografi Titi Surti Nastiti menunjukkan bahwa tradisi kwadrat telah dikenal sejak akhir abad X hingga awal abad XI dan di Bali berkembang pada masa pemerintahan Marakata serta Anak Wungsu. Oleh karena itu, dalam tulisan ini digunakan istilah “Kawi Kwadrat” atau “aksara kwadrat awal”, sedangkan istilah “Kadiri Kwadrat” hanya dicantumkan ketika merujuk pada penamaan dalam pustaka lama (Nastiti 2016). Pemahaman paleografis ini sangat menentukan keakuratan pembacaan inskripsi di Pura Pucak Penulisan.
Pura Pucak Penulisan berada di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kompleks ini menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Prasasti Sukawana AI tahun 804 Śaka (882 M) menyebut sebuah tempat suci di Bukit Cintamani dan ditulis dengan aksara Kawi/Bali Kuno serta bahasa Bali Kuno. Walaupun tidak berarti setiap benda di Pucak Penulisan berasal dari 804 Śaka, keterangan ini menunjukkan bahwa kawasan Cintamani telah menjadi bentang religius penting setidaknya sejak abad IX. Eksplorasi ilmiah terhadap situs ini telah berlangsung secara bertahap dari masa ke masa.. J. Jacobs berkunjung pada 1881; Nieuwenkamp dapat memasuki pura dan membuat sketsa pada 1918; W. F. Stutterheim melakukan penelitian arkeologis pada dekade 1920-an dan menerbitkan Oudheden van Bali pada 1929. R. Goris kemudian menghimpun pembacaan prasasti dalam Prasasti Bali (1954). Sesudahnya, Damais meninjau kembali beberapa persoalan kronologi dan pembacaan; penelitian mutakhir antara lain dilakukan oleh I Ketut Setiawan (2021) serta I Kadek Sudana Wira Darma dan I Gde Agus Darma Putra terhadap arca Śrī Aṣṭāsuraratnabhūmibantĕn (2024).
Srijaya (2020) menyebutkan terdapat 35 arca perwujudan, dua arca Ganeśa, satu arca Brahmā/Caturmukha, 20 lingga, sebuah batu bergambar, serta beberapa miniatur candi; jumlah ini belum mencakup seluruh benda yang disimpan di gedong tertentu. Mengingat tidak semua tinggalan tersebut bertulis, keberadaan inskripsi pada sebagian benda menjadi sangat berharga. Setiap tulisan berpahat pada artefak-artefak inilah yang berfungsi sebagai “jangkar” kronologis dan penyedia data nama, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk membaca dan menarikhkan koleksi benda lain yang tidak bertanggal.
Pembahasan
Berdasarkan penelusuran pustaka dan pembacaan yang dilakukan oleh W.F. Stutterheim, R. Goris, I Ketut Setiawan, serta diperbarui melalui pembacaan ulang oleh Wira Darma dan Darma Putra terdapat enam kelompok inskripsi yang perlu dibahas secara terpisah. Lima di antaranya dapat dihubungkan dengan seri Gunung Panulisan A–E dalam katalog lama, sedangkan satu lingga dengan bacaan awal “868 …” merupakan tambahan yang belum sekuat seri klasik dalam hal publikasi dan verifikasi. Tabel berikut membedakan media, aksara, bahasa, dan tingkat kepastian agar data yang kuat tidak tercampur dengan pembacaan sementara. Berikut inskripsi-inskripsi di Pura Pucak Penulisan.
1. Gunung Panulisan A: Arca Sejoli/ Arca Perwujudan Bhaṭāra–Bhaṭārī (933 Śaka)

Gambar 1. Arca Sejoli (Bhaṭāra–Bhaṭārī) dan tiga baris inskripsi pada stela.
Sumber : Dokumentasi Oudheidkundig Dienst
Inskripsi yang paling terkenal di Pucak Penulisan berada pada bagian belakang stela Arca Sejoli. Bentuk aksaranya termasuk Kawi/Bali Kuno. Bahasanya dapat dipahami sebagai Jawa Kuno dengan kosakata yang juga lazim dalam Bali Kuno. Goris menempatkan Gunung Panulisan A dan B dalam kelompok prasasti berbahasa Bali Kuno. Perbedaan label bahasa ini mencerminkan kedekatan kuat kedua tradisi pada awal abad XI, bukan dua sistem yang sepenuhnya terpisah.
Alih aksara
(1) –śaka 933 vulan· posa [s]ukla —-
(2) [pā]da R̥ggas pasar vijaya maṅgala ta[tka]lan·
(3) sira mpu bga anataḥ||
Bagian yang paling dapat dipastikan pada inskripsi ini ialah angka tahun 933 Śaka, bulan Poṣa, unsur kalender wijayamaṅgala, serta frasa sira mpu bga anataḥ. Kata anataḥ sendiri berasal dari verba yang berarti “menatah” atau “memahat”. Oleh karena itu, pada inskripsi ini Mpu Bga bukan sekadar nama yang kebetulan disebut, melainkan sangat mungkin merupakan perajin yang melakukan penatahan langsung pada objek yang sedang diperingati. Nama Mpu Bga menjadi lebih penting ketika dibandingkan dengan data di luar Pucak Penulisan. Pada Pura Sibi Agung, Kesian, terdapat inskripsi 945 Śaka pada sebuah arca yang diidentifikasi sebagai arca Agastya: “… irikā diwasa sira mpu bga ta ya mijilakĕn saṅhyaṅ 5 …”. Tiga tahun kemudian, sebuah arca Bhaṭāra–Bhaṭārī di tempat yang sama bertarikh 948 Śaka menyebut “sira mpu bga … mwaṅ sira mpu kaki nami”. Kendati demikian, variasi kata kerja yang digunakan pada masing-masing teks perlu dibedakan secara cermat. Di Pucak Penulisan tertulis anataḥ (“menatah/ memahat”), sedangkan pada inskripsi tahun 945 Śaka di Kesian digunakan kata mijilakĕn (“mengeluarkan/ mewujudkan/ menghadirkan”). Arca Sejoli sering diidentifikasi sebagai raja Udayana dan Gunapriyadharmapatnī karena tarikhnya berada di sekitar akhir pemerintahan Udayana dan karena gaya penggambaran wujudnya yang berupa pasang bangsawan. Akan tetapi, karena nama kedua tokoh tersebut sama sekali tidak tercantum secara eksplisit di dalam barisan teks inskripsinya, identifikasi ini harus diposisikan sebagai sebuah interpretasi ikonografis-historis, alih-alih hasil pembacaan langsung dari sumber epigrafi.
2. Gunung Panulisan B: Arca Sejoli/ Arca Perwujudan Bhaṭāra–Bhaṭārī

Gambar 2. Arca berpasangan lain di Pucak Penulisan dan inskripsi yang sangat aus.
Sumber : Dokumentasi Oudheidkundig Dienst
Selain Arca Sejoli, terdapat pula arca berpasangan lainnya dari Pucak Penulisan yang memuat inskripsi pada bagian belakang stlanya. R. Goris (1954) mengidentifikasi inskripsi ini dengan sebutan Gunung Panulisan B. Kondisi fisik inskripsi ini jauh lebih aus dan rusak, sehingga dua baris pertama hampir tidak dapat dikenali lagi. Meskipun demikian, corak aksaranya masih berada dalam lingkup tradisi Kawi/Bali Kuno. Bahasa yang digunakan memang terlalu sedikit untuk dianalisis, namun kosakata serta formula penulisannya menunjukkan kesamaan kultur Bali Kuno–Jawa Kuno dengan Gunung Panulisan A.
Alih aksara
(1) […]
(2) […] (vijayakrā)
(3) nta tatkalan· bəga Ana(taḥ)
Fragmen yang tersisa ini memiliki arti penting karena memuat dua unsur yang tersisa dapat dibandingkan. Pertama, vijayakrā– sangat mungkin merupakan bagian dari wijayakrānta, salah satu nama unsur pasaran dalam formula penanggalan. Kedua, bagian bəga ana(taḥ) sangat dekat dengan mpu bga anataḥ pada Gunung Panulisan A. Persamaan itu memang belum cukup untuk menentukan tanggal secara absolut, tetapi memberi “sidik jari” formula yang kuat: nama Bga, verba menatah, dan formula waktu muncul dalam lingkungan benda serta gaya aksara yang berdekatan.
Dengan kata lain, Gunung Panulisan B membantu memperluas profil Mpu Bga di Pucak Penulisan. Jika bacaan Bga benar, maka setidaknya dua arca berpasangan di situs ini berhubungan dengan nama yang sama. Hal tersebut dapat ditafsirkan sebagai tanda satu pemahat atau satu tradisi “bengkel” yang mengerjakan beberapa arca. Akan tetapi, selama bagian awal yang memuat angka tahun belum terbaca, hubungan kronologinya dengan arca berangka tahun 933 Śaka tetap harus disebut diposisikan sebagai sebuah kemungkinan teoretis.
3. Gunung Panulisan C: Lingga kembar (996 Śaka)

Gambar 3. Sepasang lingga dan inskripsi 996 Śaka.
Sumber : Dokumentasi Oudheidkundig Dienst
Inskripsi berikutnya berada pada sepasang lingga, Goris (1954) menyebut inskripsi ini sebagai Gunung Panulisan C. Bentuk tulisannya termasuk Kawi/Bali Kuno dan bahasanya Jawa Kuno.
Alih aksara
(1) || iśaka 996
(2) bulan jesta su
(3) kla trayodasi
(4) pasar bwijaya manggala
Tahun 996 Śaka setara dengan 1074 M, masih dalam masa pemerintahan Anak Wungsu. Teks menyebut bulan Jyeṣṭha, śukla atau paruh terang, trayodaśī atau hari lunar ketiga belas, serta hari pasaran wijayamaṅgala. Apakah 996 Śaka adalah tanggal pembuatan lingga? Hal itu tentu sangat memungkinkan, namun teks yang tersisa sama sekali tidak memuat verba seperti anataḥ atau mijilakĕn yang secara langsung menyatakan tindakan pembuatan. Karena itu, tanggal tersebut lebih aman disebut “tanggal peristiwa yang diabadikan pada lingga”. Peristiwanya bisa berupa pembuatan, penahbisan, pemasangan, atau peresmian ritual.
4. Lingga Semu/ Batu Sima

Gambar 4. Lingga dengan inskripsi yang diawali angka “868”.
Sumber : Dokumentasi Rangga Adi Kusuma
Inskripsi lainnya ditemukan terpahat melingkar pada permukaan sebuah lingga. Menariknya, inskripsi ini sebelumnya belum pernah teridentifikasi atau dibaca oleh W.F. Stutterheim, R. Goris, maupun para ahli epigrafi terdahulu. Keberadaan inskripsi ini baru berhasil diungkap oleh Darma Putra (2023) ketika menginisiasi penyusunan materi papan informasi di Pura Pucak Penulisan atas penugasan dari Desa Adat Sukawana. Secara paleografis, inskripsi ini menggunakan aksara Kawi/Bali Kuno dengan unsur kebahasaan yang berakar pada bahasa Bali Kuno.
Alih Aksara
||| 868 nāmya midha nāma dainya jali nadiña (-)nā (-)wa byara hādanda ditu
Teks ini memperlihatkan perpaduan yang menarik: terdapat unsur serapan yang menyerupai kosakata Sanskerta (seperti nāma) yang berdampingan dengan bentuk kosakata Bali Kuno (seperti ditu). Dengan kondisi pembacaan yang masih bersifat tentatif ini, penyusunan terjemahan utuh tentu masih terlalu dini. Namun demikian, percobaan penerjemahan awal dapat ditarik secara hipotesis berdasarkan fragmen kata yang ada. Jika diuraikan secara bebas, susunan teks tersebut mengindikasikan makna: “868, sembah tulus yang bernama Dainya, sungai Jali-nya… [-] … sebuah biara nama beliau di sana.” Menariknya, analisis kebahasaan ini didukung kuat oleh data etnografis di tingkat lokal, hingga saat ini, toponim atau nama Sungai Jali ternyata masih dikenal dan diingat oleh masyarakat Desa Sukawana.
Persoalan terpenting adalah angka “868”. Jika angka tersebut terbukti secara sahih merupakan angka tahun Śaka, nilainya akan setara dengan tahun 946 Masehi. Temuan ini tentu akan mendorong rekam jejak bukti tertulis pada benda-benda tinggalan di Pucak Penulisan menjadi jauh lebih tua daripada Arca Sejoli yang bertarikh 933 Śaka (1011 M). Karena konsekuensi historisnya yang sangat besar, pembacaan ini justru harus diuji secara paling ketat dalam metodologi epigrafi. Beberapa pertanyaan kritis pun muncul: Apakah “868” benar-benar sebuah angka tahun? Apakah ada penanda formula seperti i śaka atau śaka yang mendahuluinya? Dan apakah bentuk tipografi angkanya benar-benar selaras dengan karakteristik paleografi abad X?
Terlepas dari perdebatan kronologis tersebut, nilai ilmiah inskripsi ini terletak pada potensinya. Dokumentasi ulang dengan teknik modern seperti fotogrametri, atau RTI dapat membantu membedakan guratan aksara dengan kerusakan permukaan. Jika bacaan dan tarikhnya dapat dipastikan, lingga ini berpotensi mengubah kronologi tradisi tulis dan aktivitas ritual di Pucak Penulisan.
5. Gunung Panulisan D: Arca Bhaṭārī Mandul

Gambar 5. Arca Bhaṭārī Mandul dan tulisan pada stela
Sumber : Dokumentasi Oudheidkundig Dienst
Arca perempuan yang dikenal sebagai Bhaṭārī Mandul merupakan salah satu kasus paling menarik karena teksnya sangat pendek, tetapi menimbulkan diskusi panjang. Pada bagian belakang stela terdapat tulisan bhaṭārī mandul, dan pada bagian pecahan yang kemudian dikenali terdapat angka 999. Bentuk aksaranya termasuk Kawi Kwadrat. Literatur lama sering menyebut “Kadiri Kwadrat”. Karena teks hanya berupa nama/sebutan, penentuan bahasa secara gramatikal terbatas; formulanya berada dalam lingkungan Jawa/Bali Kuno dengan gelar Sanskerta bhaṭārī, bentuk feminin dari bhaṭāra.
Alih aksara
999
bhaṭārī mandul·
Sekilas, angka 999 Śaka = 1077 M tampak memberi tanggal yang pasti. Namun Goris justru mengajukan persoalan kritis. Dalam pembahasannya atas prasasti nomor 107—Prasasti Dausa AII atau yang juga disebut berkaitan dengan dharma di Pacanigayan/Parcanigayan, terdapat berita bahwa pada 983 Śaka (1061 M) masyarakat memohon agar tidak lagi diwajibkan memuja Bhatāra Mandul di Sukhawana karena mereka telah memelihara pemujaan Bhatāra di Bukit Humintang. Berdasarkan hal itu, Goris berpendapat bahwa pemujaan Mandul sudah ada sebelum 999 Śaka, sehingga angka 999 pada arca mungkin ditambahkan kemudian. Louis-Charles Damais tidak menerima kesimpulan itu begitu saja. Ia menegaskan bahwa teks Dausa menyebut bentuk maskulin Bhatāra Mandul, sedangkan arca memuat bentuk feminin Bhaṭārī Mandul. Perbedaan gramatikal ini memegang peranan krusial: sebelum menyamakan kedua sumber, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa keduanya benar-benar menunjuk pada figur kultus yang sama. Damais juga mengingatkan bahwa meskipun sebuah pemujaan sudah ada sejak masa sebelumnya, proses pembuatan fisik atau penandaan arca bisa saja baru terjadi di kemudian hari. Dengan demikian, data 983 dan 999 tidak otomatis bertentangan.
Perdebatan metodologis antara Goris dan Damais ini memberikan pelajaran berharga dalam studi epigrafi: angka tahun yang tertera pada suatu benda tidak boleh dibaca secara terisolasi. Tarikh tersebut wajib diuji dengan sumber-sumber sezaman lainnya, namun sumber pembanding itu pun harus diperiksa secara cermat dari sudut pandang linguistik. Untuk saat ini, formulasi paling aman yang dapat ditarik adalah bahwa pemujaan terhadap tokoh bernama Bhaṭāra/Bhaṭārī Mandul telah dikenal setidaknya sejak tahun 983 Śaka berdasarkan Prasasti Dausa AII, sementara arca di Pucak Penulisan memuat nama feminin Bhaṭārī Mandul beserta angka 999. Meskipun hubungan identitas keduanya sangat mungkin terjadi, kronologi yang tepat antara perkembangan kultus, pembuatan arca, dan angka tahun tersebut masih terbuka untuk kajian lebih lanjut.
Terakhir, identifikasi arca ini sebagai permaisuri Raja Anak Wungsu yang tidak mempunyai keturunan sebaiknya ditempatkan sebagai sebuah interpretasi historis, alih-alih mengartikan kata mandul secara harfiah untuk membuktikan biografi personal seseorang. Menariknya, konsep pemuliaan terhadap perempuan tanpa ikatan perkawinan ini memiliki keterikatan kuat dalam tradisi lisan masyarakat Desa Sukawana. Berdasarkan sejarah dan legenda lokal, dahulu kala hidup seorang perempuan yang tidak menikah hingga usia senja, sehingga ia dikenal sebagai Daa Tua (Gadis Tua) dan namanya diabadikan pada wilayah tempat tinggalnya, yakni Tanah Daa di kaki Gunung Wangun Urip. Figur Daa Tua ini dihormati dan dipuja sebagai leluhur perempuan yang dimuliakan karena dipercaya ikut menata kehidupan serta menjaga keselarasan alam di wilayah hulu. Penghormatan kolektif tersebut diwujudkan secara nyata melalui keberadaan Pelinggih Ratu Daha Tua yang terletak di pelataran tingkat ke-6 kompleks Pura Pucak Penulisan
6. Gunung Panulisan E/GP5: Arca Bhaṭāra Śrī Aṣṭāsuraratnabhūmibantĕn

Gambar 6. Arca Śrī Aṣṭāsuraratnabhūmibantĕn dan inskripsi di belakang stela.
Sumber : Nyoman Sabaraka (2009).
Inskripsi paling muda dan paling rumit di Pucak Penulisan berada pada belakang stela arca yang kini diidentifikasikan dengan Raja Śrī Aṣṭāsuraratnabhūmibantǝn. Stutterheim mendokumentasikannya pada 5 Juli 1927 dan memberi kode GP5; Goris menyebutnya Gunung Panulisan E. Kondisi arca patah menyebabkan beberapa aksara hilang, sementara dokumentasi foto lama memperlihatkan bagian-bagian yang terlalu terang (overexposed). Karena itu, perbedaan bacaan antara Stutterheim, Damais, Goris, dan penelitian terbaru bukan kelemahan ilmu epigrafi, melainkan konsekuensi langsung dari kualitas bukti yang berubah.
Berbeda dari kelompok abad XI, paleografi GP5 menurut Wira Darma dan Darma Putra memperlihatkan aksara Bali Kuno/Kawi fase akhir dengan bentuk membulat dan serif pada ujung aksara. Mereka membandingkannya dengan tipologi I Gde Semadi Astra dan menempatkannya dekat tipe kelima, sekitar akhir abad XIII hingga pertengahan abad XIV, walaupun mereka juga menunjukkan bahwa tipologi itu tidak selalu cocok untuk semua prasasti. Dari segi kebahasaan, inskripsi ini dipahat menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan susunan alih aksara sebagai berikut:
Alih aksara
(1) – ti śaka kala I—
(2) – maśa cetra thithi navami
(3) śukla pakṣa, vara, vu, va, śa.
(4) –hiṅ juluṁ vaṅi, śamaṁkana
(5) –niṅ agave śaṁ hyaṁ ṅi–
(6) – kavana <bagian rusak> kapa–
(7) – – – i – – – – – – – bhaṭarā
(8) ṣṭa ṣura ratna bumi bantə
(9) ·. ||0||
Pembacaan pada baris kedelapan menjadi titik pijak yang amat krusial karena secara eksplisit menyisakan fragmen nama ṣṭa ṣura ratna bumi bantə(n), yang didahului oleh sebutan bhaṭarā pada baris ketujuh. Jika pembacaan ini diterima, teks tidak hanya “dikaitkan” dengan Aṣṭāsura, tetapi memang menyebut gelar tokoh yang dapat dibandingkan dengan Prasasti Langgahan tahun 1259 Śaka, yang memuat Pāduka Bhaṭāra Śrī Aṣṭāsuraratnabumibantǝn. Perbandingan dua sumber berbeda, arca batu dan prasasti tembaga, menjadi dasar yang jauh lebih kuat untuk identifikasi tokoh daripada kemiripan ikonografi saja.
Kekuatan data historis tersebut semakin diperkaya oleh keberadaan gambar di atas baris teks yang diperlakukan sebagai kronogram. Stutterheim membaca unsur yang tampak sebagai mata = 2, kapak = 5, dan gambar terakhir yang ia ragukan sebagai gunung = 7 atau laut = 4. Karena bagian pertama rusak, ia menawarkan dua kemungkinan tarikh. Wira Darma dan Darma Putra menafsirkan rangkaian sebagai [1]-2-5-4 atau 1332 M. Tafsir ini menarik karena lima tahun kemudian, 1259 Śaka (1337 M), Aṣṭāsura masih tampil sebagai raja penerbit Prasasti Langgahan. Jika 1254 benar, arca itu tidak dapat secara sederhana dijelaskan sebagai arca perwujudan yang dibuat setelah kematiannya. Temuan penanggalan ini membawa implikasi ilmiah yang amat penting bagi pemaknaan fungsi arca perwujudan. Arca perwujudan tidak selalu harus dipahami sebagai potret anumerta. Wira Darma dan Darma Putra mengajukan kemungkinan bahwa arca Aṣṭāsura dibuat ketika sang raja masih hidup dan memiliki fungsi politik-religius atau protektif. Mereka menghubungkan unsur aṣṭa-sura dengan delapan dewa penjaga arah. Gagasan ini menarik, tetapi perlu disebut sebagai interpretasi, bukan isi eksplisit inskripsi.
Penelitian terbaru juga mengoreksi identifikasi lama sebagai arca perempuan. Melalui perbandingan ikonografi dengan arca bhaṭāra dan bhaṭārī lain di Pucak Penulisan, Wira Darma dan Darma Putra menilai bagian dada lebih dekat pada sosok maskulin. Bacaan bhaṭarā pada teks ikut mendukung identifikasi tersebut. Kasus ini memperlihatkan bagaimana epigrafi dan ikonografi dapat saling mengoreksi: gambar membantu membaca teks, dan teks membantu mengenali sosok pada gambar.
Penutup
Inskripsi-inskripsi yang ditemukan pada berbagai tinggalan arkeologis di Pura Pucak Penulisan memperlihatkan bahwa pura ini bukan hanya menyimpan kekayaan seni arca, tetapi juga menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan sejarah, kehidupan keagamaan, dan perkembangan kebudayaan Bali Kuno. Melalui pembacaan aksara, kita dapat mengenali nama tokoh, perajin, gelar keagamaan, unsur penanggalan, hingga jejak pemujaan yang berkembang pada masa lalu. Membaca aksara kuno pada akhirnya bukan sekadar usaha menerjemahkan tulisan yang terpahat pada batu, melainkan upaya menghubungkan bukti material dengan konteks sejarah yang lebih luas. Proses tersebut membutuhkan ketelitian, perbandingan sumber, dan keterbukaan terhadap kemungkinan adanya pembacaan baru. Tidak semua inskripsi dapat memberikan jawaban yang pasti; beberapa di antaranya justru menghadirkan pertanyaan yang perlu terus diuji melalui penelitian epigrafi, paleografi, arkeologi, dan kajian tradisi lokal. Oleh karena itu, dokumentasi serta pembacaan ulang inskripsi di Pura Pucak Penulisan perlu terus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang lebih mutakhir. Dengan demikian, aksara-aksara yang selama berabad-abad terdiam pada batu dapat terus dibaca dan dipahami, sehingga warisan sejarah Pura Pucak Penulisan tidak hanya dihormati sebagai bagian dari warisan leluhur, tetapi juga dimaknai sebagai sumber pengetahuan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Daftar Pustaka
Astra, I Gde Semadi. 1981. Sekilas Tentang Perkembangan Aksara Bali dalam Prasasti. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV. t.t. “Pura Pucak Penulisan”. Booklet Penyusunan Narasi Informasi.
Damais, Louis-Charles. 1955. “Études d’épigraphie indonésienne: IV. Discussion de la date des inscriptions.” Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient 47: 7–290.
Damais, Louis-Charles. 1960. “IV. Études balinaises.” Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient 50(1): 133–160.
De Casparis, J. G. 1975. Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to c. A.D. 1500. Leiden/Köln: E. J. Brill.
Goris, R. 1948. Sedjarah Bali Kuna. Singaradja.
Goris, R. 1954. Prasasti Bali I. Bandung: N. V. Masa Baru.
Goris, R. 1954. Prasasti Bali II. Bandung: N. V. Masa Baru.
Goris, R. 1965. Ancient History of Bali. Denpasar: Udayana University.
Nastiti, Titi Surti. 2016. “Perkembangan Aksara Kwadrat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali: Analisis Paleografi.” Forum Arkeologi 29(3): 175–188.
Reuter, Thomas A. 2005. Custodians of the Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Setiawan, I Ketut. 2021. “Prasasti-Prasasti Pendek pada Arca dan Bangunan Keagamaan Masa Bali Kuno.” Humanis: Journal of Arts and Humanities 25(2): 223–229.
Srijaya, I Wayan, dkk. 2020. “Ikonografi Hindu Abad VIII–XIV Masehi di Kabupaten Gianyar, Bangli, dan Buleleng: Analisis Bentuk, Fungsi dan Makna.” Jurnal Kajian Bali 10(2): 469–490.
Stutterheim, W. F. 1929. Oudheden van Bali. Singaradja: Kirtya Liefrinck–Van der Tuuk.
Wira Darma, I Kadek Sudana. 2023. Komodifikasi Warisan Budaya Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tesis. Denpasar: Universitas Udayana.
Wira Darma, I Kadek Sudana, dan I Gde Agus Darma Putra. 2024. “Rekonstruksi dan Reinterpretasi Sosok Raja Śri (A)ṣṭāṣuraratnabumibantə(n).” Prosiding Seminar Nasional Epigrafi.
“Seluruh isi, keaslian data, dan argumen yang tersaji dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penuh penulis.”