SEKILAS TENTANG
Sejarah mengenai keberadaan Pura Desa dan Pura Puseh Sibanggede tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan wilayah Sibang itu sendiri. Sejak dahulu, kawasan di sisi timur aliran Sungai Ayung telah dihuni oleh penduduk, terutama di wilayah selatan seperti Serijati dan Cabe. Seiring perkembangan politik dan kekuasaan Kerajaan Mengwi, wilayah tersebut kemudian menjadi bagian dari struktur pemerintahan kerajaan dan berada di bawah kepemimpinan I Gusti Agung Made Kamasan. Peristiwa perpindahan, peperangan, serta kembalinya I Gusti Agung Made Kamasan ke wilayah Sibang menjadi bagian penting dalam perkembangan permukiman dan kehidupan masyarakat setempat. Setelah berhasil menguasai dan kembali ke wilayah Saibang Serijati, beliau meninggalkan Puri Tegal dan mulai membangun Puri di Sibang bersama masyarakat, khususnya para Busana Sayan yang turut mendukung dan menetap di wilayah tersebut.
Perkembangan permukiman tersebut menunjukkan bahwa terbentuknya masyarakat Sibang tidak hanya berkaitan dengan aspek pemerintahan dan kekuasaan, tetapi juga dengan terbentuknya kehidupan sosial budaya masayrakat. Seiring dengan perkembangan kehidupan sosial budaya yang lebih kompleks, diperlukan pula ruang-ruang sakral yang menjadi pusat pelaksanaan kegiatan keagamaan, pemujaan, serta pemeliharaan hubungan antara masyarakat dengan Tuhan dan para leluhur. Dalam konteks inilah keberadaan Pura Desa dan Pura Puseh Sibanggede memiliki arti penting sebagai bagian dari identitas dan kehidupan spiritual masyarakat setempat. Pura tersebut menjadi salah satu unsur yang menopang keberlangsungan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat, terutama dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun.
Dengan demikian, Pura Desa dan Pura Puseh Sibanggede dapat dipahami bukan hanya sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah terbentuknya masyarakat Sibanggede.