SEKILAS TENTANG
Pura Taman Ayun merupakan Pura Ibu (Paibon) Kerajaan Mengwi yang memiliki kedudukan penting pada masa lampau. Pura ini dibangun oleh Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, dan diresmikan pada tahun 1556 Saka (1634 Masehi). Berdasarkan Babad Mengwi, cikal bakal Pura Taman Ayun berasal dari sebuah pura bernama Taman Genter yang dibangun di sebelah utara Desa Mengwi sebagai tempat pemujaan terhadap leluhur kerajaan. Seiring dengan berkembangnya wilayah Mengwi menjadi sebuah kerajaan yang besar, I Gusti Agung Putu memindahkan Taman Genter ke arah timur dan memperluas bangunannya. Pura tersebut kemudian diresmikan dengan nama Taman Ahiun atau Taman Ayun melalui pelaksanaan upacara Mabhuta Yadnya, Manca Walikrama, dan Siwayadnya pada hari Selasa Kliwon Medangsia, sasih keempat, tahun Saka 1556. Setelah diresmikan, Pura Taman Ayun semakin memperoleh kedudukan penting sebagai tempat pemujaan leluhur keluarga kerajaan sekaligus menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat di wilayah kekuasaan Mengwi. Berdasarkan Babad Mengwi, masyarakat di wilayah jajahan Kerajaan Mengwi diwajibkan menghormati Pura Taman Ayun dan menghaturkan sarin tahun berupa hasil bumi untuk mendukung pelaksanaan upacara di pura tersebut.
Keberadaan Pura Taman Ayun juga disebutkan dalam buku The Spell of Power. Sumber tersebut menggambarkan bahwa pada perkembangan Kerajaan Mengwi, puri dan Pura Taman Ayun memiliki hubungan yang saling melengkapi. Pada sekitar tahun 1770, Kerajaan Mengwi telah memiliki puri yang megah serta Pura Taman Ayun yang berfungsi sebagai tempat pemujaan bagi keluarga kerajaan dan masyarakat di sekitarnya. Hubungan antara keduanya memperlihatkan bagaimana pusat kekuasaan kerajaan dan pusat kegiatan keagamaan ditempatkan dalam satu kesatuan. Dalam perjalanan sejarahnya, Pura Taman Ayun telah mengalami beberapa kali perbaikan untuk mempertahankan keberadaan dan kelestarian bangunannya. Perbaikan besar dilakukan pada tahun 1937, kemudian pada tahun 1949 dilakukan perbaikan terhadap kori agung dan gapura bentar, serta perbaikan berikutnya dilaksanakan pada tahun 1972 dan 1976. Rangkaian perbaikan tersebut menunjukkan adanya upaya berkelanjutan untuk mempertahankan keberadaan Pura Taman Ayun sebagai warisan budaya yang tetap memiliki fungsi keagamaan hingga saat ini.