Sanghyang Grodog merupakan tarian ritual yang unik yang hanya terdapat di Desa Adat Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Tari Sanghyang Grodog ini sangat berbeda dibandingkan dengan jenis-jenis sanghyang lainnya yang ada di Bali daratan. Sanghyang Grodog yang sakral ini merupakan perpaduan sempurna antara irama gending (nyanyian, audio, suara/bunyi), rupa (wujud, bentuk, visual) dan gerak/kinetik. Pada Bali daratan, prosesi sanghyang lazimnya dilakukan oleh penari yang mengalami proses trance atau kehilangan kesadaran diri dan melakukan gerakan-gerakan tertentu sesuai dengan karakter sanghyang yang dipentaskan. Sedangkan Tari Sanghyang Grodog di Desa Adat Lembongan sama sekali tidak didasarkan pada proses kehilangan kesadaran terlebih dahulu. Semua dilakukan dengan kesadaran penuh. Perbedaannya bukan hanya dari jumlah sanghyang yang tergolong banyak, yakni 23 sanghyang tetapi juga penggunaan roda kayu pada masing-masing simbol sanghyang. Kedua puluh tiga sanghyang tersebut disimbolkan dengan media yang dibuat menyerupai sanghyang yang akan ditampilkan, atau dalam sebutan lokal disebut dengan gegulak. Satu hal yang menjadi persamaan adalah bahwa semua tari sanghyang di Bali iringannya menggunakan media gending (nyanyian) yang dilakukan oleh penyanyi perempuan.