Bungbung Gebyog

Bungbung Gebyog terdiri dari dua suku kata yaitu kata bumbung dan gebyog. Kata bumbung sudah diketahui oleh masyarakat Bali, bahwa bumbung adalah bambu yang terdiri dari satu atau beberapa ruas yang pada ujungnya dipotong sedemikian rupa, sehingga berlubang dan pada pangkalnya dibiarkan tertutup. Sedangkan suara yang ditimbulkan oleh instrumen bumbung yang dihentakkan secara bersamaan disebut gebyog. Gamelan Bungbung Gebyog ini merupakan gamelan yang unik dari segi instrumen, pementasan, segi pemukulan dari alat ini. 

Bungbung Gebyog terdiri dari dua kata Bumbung dan Gebyog. Mengenai kata Bungbung sudah diketahui oleh masyarakat luas khususnya di Bali, bahwa Bungbung adalah bambu yang terdiri dari satu atau beberapa ruas dimana ujung dari bambu tersebut dipotong sedemikian rupa sehingga berlubang dan pada pangkal dari bambu dibiarkan tertutup. Bungbung Gebyog adalah barungan gamelan alit, yang juga berasal dari Jembrana, yang terbuat dari bambu. Gebyog merupakan musik masyarakat tani yang sangat sederhana, biasanya dimainkan pada waktu musim habis panen oleh sekelompok ibu-ibu untuk mengungkapkan rasa gembira. Barungan ini dibentuk oleh antara 8 sampai 12 (dua belas) Bungbung Gebyog, tanpa nada pasti, yang dimainkan oleh pemain wanita. Setiap orang pemain memegang sebuah bumbung dan membunyikan instrumennya dengan membenturkan pangkal bumbung pada sebuah alas dari kayu dalam pola kotekan yang lazim disebut oncang-oncangan. Pola kotekan ini meniru pukulan menumbuk padi, atau membuat tepung beras yang juga merupakan kegiatan sehari-hari wanita desa. Gebyog juga dimainkan untuk mengiringi tarian semacam tari Joged Bumbung. Dengan demikian timbul lah suara oleh instrument Bungbung itu yang disebut “Gebyog”. 

Sejak awalnya terbentuk, gamelan Bumbung Gebyog berfungsi sebagai pengiring upacara keagamaan, karena masyarakat Jembrana pada saat itu mempercayai bahwa kesenian Bumbung Gebyog sangat erat kaitannya dengan Dewi Sri. Kesenian Bumbung Gebyog pada saat itu rutin dipentaskan beriringan dengan upacara mantenin padi di lumbung, hal tersebut dilaksanakan semata-mata sebagai ucap syukur petani terhadap Dewi Sri atas hasil panen yang berlimpah. Seiring berjalannya waktu, kemudian kesenian Bumbung Gebyog mengalami perkembangan sehingga kesenian Bumbung Gebyog disamping sebagai pengiring upacara keagamaan, gamelan Bumbung Gebyog juga berfungsi sebagai sarana hiburan masyarakat yang pada pementasannya disertai dengan Joged Bumbung”.

Bentuk Instrumen Gamelan Bungbung Gebyog:

a) Papan/pandelan: Papan yang memiliki panjang kurang lebih tiga meter yang berfungsi sebagai tempat menghentakkan bumbung. 

b) Lesung: Dua buah lesung yang memiliki panjang kurang lebih setengah meter yang diletakkan di kedua ujung papan, posisi mulut lesung mengarah ke atas, fungsi lesung adalah sebagai penyanggah papan sekaligus sebagai pelawah/tempat untuk meletakan papan.

 c) Bumbung: Bumbung adalah bambu yang terdiri dari satu atau beberapa ruas yang pada ujungnya dipotong sedemikian rupa, sehingga berlubang dan pada pangkalnya dibiarkan tertutup. 

d) Tabeng: Tabeng merupakan fisik gamelan yang berfungsi sebagai ornamen tambahan untuk menambah nilai estetika pada gamelan Bumbung Gebyog.

Alamat

Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya Takbenda

Domain

Seni Pertunjukan