SEKILAS TENTANG
Pura Puseh Desa Sanding, Tampaksiring, berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan yang dikenal kaya akan tinggalan budaya dari masa Hindu-Buddha. Kesejarahan pura ini dapat ditelusuri melalui keberadaan sejumlah tinggalan arkeologi yang tersimpan di dalamnya, terutama beberapa arca perwujudan perempuan dan laki-laki, lingga, dan arca Ganesha yang ditempatkan secara khusus pada Pelinggih Batara Gana. Keberadaan tinggalan arkeologis tersebut menjadi indikasi adanya aktivitas keagamaan dan kebudayaan yang telah berlangsung di kawasan pura sejak masa lampau, sekaligus mencerminkan kesinambungan pemanfaatan ruang sakral dalam kehidupan masyarakat. Lebih lanjut yang menarik berkenaan dengan salah satu bukti artefaktual berupa arca Ganesha di atas yoni yang disertai inskripsi pada bagian yoni. Inskripsi tersebut memuat angka tahun Saka 1312, serta beberapa tulisan yang berkaitan dengan pengobatan atau penyucian bagi orang yang sedang sakit. Berdasarkan pembacaan inskripsi tersebut dapat menjadi petunjuk kronologis keberadaan aktivitas keagamaan di kawasan ini pada sekitar abad ke-14 Masehi.
Selain itu, dalam konteks keagamaan di Bali, keberadaan Pura Puseh Desa Sanding tidak dapat dipisahkan dari konsep Kahyangan Tiga, yaitu Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Konsep Kahyangan Tiga tersebut merupakan sistem keagamaan dalam masyarakat Hindu Bali yang diwujudkan melalui tiga pura utama dalam satu kesatuan kehidupan desa adat. Pura Puseh secara umum berkaitan dengan pemujaan kepada Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan pelindung kehidupan, serta memiliki keterkaitan erat dengan penghormatan terhadap leluhur, serta asal-usul dari suatu desa itu sendiri. Oleh karena itu, Pura Puseh tidak semata-mata dipahami sebagai tempat pelaksanaan aktivitas ritual, tetapi juga sebagai ruang sakral yang merepresentasikan hubungan antara masyarakat, tradisi keagamaan, leluhur, dan keberlangsungan kehidupan komunitas. Dengan demikian, keberadaan tinggalan arkeologi di Pura Puseh Desa Sanding memperlihatkan adanya kesinambungan antara warisan budaya masa lampau dengan praktik keagamaan masyarakat masa kini. Kesinambungan tersebut tercermin dari tetap berlangsungnya fungsi pura sebagai bagian dari Kahyangan Tiga, sementara tinggalan arkeologinya menjadi bukti material yang menghubungkan kehidupan religius masa lalu dengan tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang.