I. Latar Belakang
Warisan budaya bersifat kebendaan (Cagar Budaya/Objek yang Diduga Cagar Budaya) memiliki sifat yang rapuh, unik, langka, terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Kondisi tersebut menuntut adanya penyelenggaraan pelestarian yang sistematis agar nilai penting yang terkandung dalam warisan budaya tersebut dapat terus dipertahankan. Bentuk konkret dari pelindungan Cagar Budaya salah satunya adalah kegiatan pemeliharaan. Pemeliharaan Cagar Budaya dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, merupakan upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik Cagar Budaya tetap lestari. Sebelum pelaksanaan pemeliharaan, perlu dilakukan studi pemeliharaan yang memiliki tujuan mengidentifikasi dan merekam kondisi terkini cagar budaya serta menganalisis jenis maupun penyebab pelapukan pada materialnya. Hasil dari studi ini akan menjadi landasan utama dalam penentuan metode penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi material.
Pura Bukit Dharma Durga Kutri merupakan salah satu situs penting dalam sejarah peradaban Bali di masa lalu, yang berlokasi di Desa Buruan, kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Situs yang menyungsung konsep keruangan Tri Mandala (Nista, Madya, Utama Mandala) dan stratifikasi religius Tri Loka (Bhur, Bhuwah, Swah Loka) ini diduga sebagai Pedharman dari Ratu Gunapriyadharmapatni atau Mahendradata. Beliau merupakan tokoh sentral yang mempersatukan wilayah Jawa Timur yang dikuasai Dinasti Isyana dengan Bali yang saat itu dikuasai oleh Dinasti Warmadewa melalui pernikahannya dengan Prabu Udayana. Mengingat nilai penting sejarah tersebut, upaya pelindungan di Situs Pura Bukit Dharma Durga Kutri menjadi prioritas, terlebih setelah adanya insiden pohon tumbang yang menimpa balai pelindung arca dikawasan tersebut. Merespon kondisi ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Bali (Kebudayaan Bali), yang bertugas menyelenggarakan pelestarian cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan, menindaklanjuti permohonan bantuan pemeliharaan (konservasi) dari Masyarakat Desa Adat Kutri melalui surat nomor 01/DAK/IX/2025. Meskipun masyarakat telah melakukan perbaikan darurat, penyelenggaraan pemeliharaan lanjutan yang tersandar sangat diperlukan guna memastikan Cagar Budaya (CB) dan Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) di situs ini tetap terawat dan lestari.

Gambar 1. Pura Bukit Dharma Durga Kutri
(dok: BP Kebudayaan Bali)
II. Riwayat Penelitian dan Pelestarian
Riwayat penelitian di Pura Bukit Dharma Durga Kutri telah berlangsung sejak sebelum Perang Dunia II. Catatan sejarah mengenai kawasan ini terdokumentasikan dalam publikasi Oudheidkundig Verslag (OV) derde en vierde kwartaal (1927: 147-148), yang menginventaris sejumlah pura di wilayah Desa Kutri. Adapun pura-pura yang tercatat saat itu meliputi Pura Pulun Carik (inventaris no. 111), Pura Puseh (Inventaris no. 112), Pura Bukit Darma (Inventaris no. 113), Pura Kedarman (Inventaris no. 114) dan Pura dalem (Inventaris no. 115). Laporan ekskavasi tersebut kemudian memfokuskan kajian pada Pura Puseh, Pura Bukit Dharma dan Pura Kedarman karena terletak dalam satu kompleks pura. Pura Kedarman sendiri tercatat terletak pada puncak sebuah bukit karang, yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan. Merujuk pada penamaan yang berlaku pada saat itu, ketiga pura tersebut dinamakan Pura Bukit Dharma. Walaupun hasil inventaris tersebut belum memuat analisis secara komprehensif, catatan ini kemudian menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dr. W.F. Stutterheim yang dijabarkan dalam buku Oudheden van Bali (1929). Dalam kajian tersebut, beliau mengelompokkan arca-arca yang ditemukan di kompleks Pura Bukit Dharma ke dalam periode abad ke- 10 hingga ke-13 Masehi (masa Bali Kuna). Stutterheim juga menguraikan keberadaan arca Durga Mahisasuramardhini (di Pura Kedarman), serta Arca Durga dan Arca Amoghapasa (di Pura Puseh). Lebih lanjut, Beliau juga menyimpulkan Arca Durga Mahisasuramardini merupakan patung perwujudan dari Mahendradatta, yaitu Ibunda dari Raja Airlangga. Sementara itu, terkait Arca Amoghapasa, Stutterheim masih meragukan identitas tokoh yang direpresentasikan, apakah arca tersebut merupakan perwujudan Prabu Udayana, penerusnya (yaitu Dharmawangsa Wardana Marakata atau Airlangga).
Dalam laporan Tahunan Dinas Purbakala Republik Indonesia tahun 1951-1952, tercatat adanya pekerjaan perbaikan Arca Durga di Pura Kedarman. Pekerjaan tersebut dilakukan melalui penyambungan kembali beberapa fragmen arca yang terlepas dengan menggunakan semen sebagai perekat. Menurut keterangan masyarakat yang tercatat dalam laporan tersebut, Arca Durga sempat terjatuh ke sisi timur bukit sehingga beberapa bagiannya mengalami kerusakan kemudian arca tersebut diangkat dan diperbaiki. Selanjutnya, pada tahun 1962, Kantor Suaka membangun bangunan pelindung untuk mengamankan tinggalan tersebut. Pada tahun 1957, Goris menerbitkan sebuah artikel berjudul “Dinasti Warmadewa di Pulau Bali” dalam Bahasa dan Budaya, yang menyinggung keberadaan Arca Durga di Pura Kedarman dan Pura Puseh. Selain itu, A. J. Bernet Kempers, juga menguraikan secara singkat arca Arca Durga di Pura Kedarman, Arca Amoghapasa, sepasang gamparan (bakiak) dan Arca Ganesha. Selanjutnya pada tahun 1977, Bernet Kempers kembali mengkaji dan menguraikan arca-arca di kompleks Pura Bukit Darma. Rangkaian kajian historis ini kemudian dilanjutkan oleh Proyek Penelitian Purbakala Bali pada tahun anggaran 1979/1980, yang melaksanakan penelitian ikonografi di wilayah kecamatan Blahbatuh termasuk Pura Bukit Dharma Kutri (Laporan Internal Balar Bali,1983).
Pada tahun 1983, Balai Arkeologi Denpasar bekerja sama dengan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali, melaksanakan kegiatan ekskavasi untuk mengidentifikasi keberadaan sisa-sisa bangunan kuno di bawah lahan yang akan di bangun tembok keliling dan balai wantilan. Laporan tersebut mencatat adanya temuan berupa struktur, kreweng dan keramik asing. Di tahun yang sama, kegiatan ekskavasi tahap II dilanjutkan dengan hasil temuan berupa kreweng, keramik, arca terakota, ukal, tulang, gigi dan struktur. Selanjutnya, pada tahun 1985, Balai Arkeologi Denpasar kembali melaksanakan kegiatan ekskavasi dengan temuan berupa struktur, gerabah, keramik, dan uang kepeng (tahap I) serta susunan batu padas, kreweng dan keramik (tahap II).
Untuk menambah data mengenai struktur, pada tahun 1988 Balai Arkeologi Denpasar kembali melaksanakan kegiatan ekskavasi. Kegiatan ini berhasil memperoleh data tentang tata letak bangunan yang berkaitan dengan kaidah-kaidah arsitektur tradisional. Laporan tersebut juga dijelaskan bahwa bangunan penyimpanan Arca Durga Mahisasuramardini berada di puncak bukit sebagai representasi alam suci (Swah Loka), dengan orientasi bangunan yang menghadap ke arah barat. Hal ini menunjukkan arah pemujaan ke arah timur (tempat matahari terbit) yang dianggap sebagai arah suci. Selain itu, diperoleh juga data mengenai denah dan jenis bangunan, yaitu pura ini menggunakan pembagian ruang horizontal yang terdiri dari Jaba, Jaba Tengah dan Jeroan. Pola denah kompleks pura ini memiliki kesamaan dengan kompleks Candi Penataran di Jawa Timur. Kegiatan ini juga berhasil mengidentifikasi data terkait teknik penempatan batuan candi yang terbagi menjadi 3 yaitu batu luar (souter stones), batu isian (inner stones), dan batu pondasi (base stones).
Riwayat pelestarian yang tercatat pada database Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, sebagai berikut:
- Kegiatan Pendokumentasian dan Pemetaan Cagar Budaya dan Objek yang diduga Cagar Budaya di Kabupaten Gianyar pada tahun 2023
- Kegiatan Studi Pemeliharaan Cagar Budaya Di Situs Pura Bukit Dharma Durga Kutri, Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali pada tahun 2025.
- Kegiatan Pemeliharaan Warisan Budaya Kebendaan Pura Bukit Dharma Durga Kutri Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali pada tahun 2025.
III. Sejarah Tokoh
A. Sri Gunapriyadharmapatni atau Mahendradatta
Berdasarkan Prasasti Pucangan (Kalkuta) yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga (putra sulung dari Mahendradatta) disebutkan bahwa Mahendradatta mengambil gelar Sri Gunapriyadharmapatni. Beliau merupakan cicit dari Mpu Sindok, cucu perempuan dari Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala, serta putri dari Sri Makutawangsawardhana. Silsilah ini memperkuat dugaan bahwa Mahendradatta adalah saudari dari Sri Sri Dharmawangsa Teguh (Goris dalam Farsahin, 2022, 41). Sebagai putri raja dari Dinasti Isyana di Jawa Timur, pernikahannya dengan Raja Udayana dari Wangsa Warmadewa di Bali dibuktikan oleh berbagai prasasti yang terbit pada masa pemerintahan mereka.
Mahendradatta memegang peranan yang sangat penting selama mendampingi Raja Udayana memerintah di Bali. Hal ini tercermin dari penyebutan namanya yang selalu mendahului nama sang raja dalam berbagai prasasti, sehingga memunculkan interpretasi bahwa Raja Udayana lebih berposisi sebagai Pangeran-Raja, sementara Mahendradatta bertindak sebagai Permaisuri-Raja. Beliau turut membawa pengaruh besar, yaitu memfasilitasi transfer budaya Jawa ke Bali serta memperkenalkan pemujaan terhadap Dewi Durga (Ardhana, dalam Farsahin, 2022, 42). Berdasarkan pendapat pada ahli, Mahendradatta diperkirakan mangkat pada sekitar tahun 1011 Masehi, yaitu ketika melahirkan Raja Anak Wungsu. Hipotesis ini selaras dengan Prasasti Mpu Barada (929 Saka), karena setelah periode tersebut, Raja Udayana mengeluarkan prasasti tanpa mencantumkan nama sang permaisuri. Setelah mangkat, Permaisuri Gunapriya Dharmapatni didharmakan di Burwan, yang kini dikenal sebagai Desa Buruan (Ardika, dalam Farsahin, 2022, 43).
B. Sri Dharmodayana Warmadewa
Sri Dharmodayana Warmadewa atau Prabu Udayana merupakan salah satu raja tersohor yang berkuasa di Bali pada abad ke-10, tepatnya sekitar tahun 989-1011 Masehi. Beliau diduga lahir pada tahun 963 Masehi sebagai putra Raja Janasadhu Warmadewa, sekaligus keturunan Dinasti Warmadewa yang telah berkuasa di Bali selama lebih dari lima generasi. Prabu Udayana memerintah bersama dengan permaisurinya, sehingga dikenal sebagai kepemimpinan Raja Suami-Istri dan selama masa pemerintahannya, Bali berada pada puncak kejayaan. Setelah mangkatnya Mahendradatta, Prabu Udayana masih mengeluarkan sejumlah prasasti akan tetapi prasasti tersebut tidak mencantumkan nama sang permaisuri. Prasasti Air Hawang (933 Saka) menjadi prasasti terakhir yang dikeluarkan oleh Prabu Udayana, karena setelah itu prasasti yang terbit menyatakan “Bhatara Lumah di Banu Wka”, yang diinterpretasikan sebagai Prabu Udayana sendiri yang telah mangkat. Pura Yeh Mengening, yang terletak di sebelah utara Candi Gunung Kawi dan sebelah selatan Petirtaan Tirta Empul Tampaksiring diyakini sebagai tempat pendharmaan Prabu Udayana (Sumadio, dalam Farsahin, 2022, 45 ).
IV. Tinggalan Arkeologi
Upaya inventarisasi melalui kegiatan Pendokumentasian dan Pemetaan Cagar Budaya dan Objek yang Diduga Cagar Budaya di Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, berhasil memetakan 46 tinggalan arkeologis bernilai sejarah penting. Seluruh temuan ini memiliki kesamaan material, yaitu terbuat dari batu padas yang rentan terhadap pelapukan. Berdasarkan pemetaan keruangannya, puluhan warisan budaya ini tersebar di area-area strategis kompleks pura, meliputi kawasan Pelinggih Taman, area Pelinggih Durga Mahisasuramardhini, serta bagian utara dan selatan Kori Agung. Selain itu, pendataan ini juga mencatat keberadaan arca di pesaren Siwa Budha, Pelinggih Doho, Pelinggih Tirta, dan area Mandala sisi selatan, yang menegaskan pentingnya upaya pelindungan menyeluruh di kawasan tersebut.

Gambar 2. Pelinggih Durga Mahisasuramardhini
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Secara tipologis, warisan budaya di Pura Bukit Dharma Durga Kutri dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama. Kelompok pertama didominasi oleh arca dan figur sentral yang merepresentasikan corak keagamaan masa lampau, meliputi Arca Durga Mahisasuramardhini, Ganesha, Buddha Aksobhya, Bodhisattva, Arca Perwujudan, serta Lingga Kembar.

Gambar 3. Arca Durga Mahisasuramardhini, Lingga Kembar, Arca Buddha Aksobhya, Arca Bodhisattva 1
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Kelompok kedua mencakup perbendaharaan komponen arsitektur dan struktur, di antaranya ambang pintu candi, antefik, jambangan batu, dan batu dakon.

Gambar 4. Ambang Pintu Candi, Jambangan Batu, Batu Dakon
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Sementara itu, kelompok ketiga terdiri dari temuan lepas berupa ragam fragmen bangunan, mulai dari kemuncak candi, patahan arca jongkok, sisi genta, hingga elemen struktur lainnya.

Gambar 5. Fragmen Kemuncak 8, Fragmen Arca Jongkok, Fragmen Kemuncak 12
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Hal yang paling menonjol dari hasil inventarisasi ke- 46 tinggalan arkeologis di situs ini adalah hadirnya manifestasi sinkretisme teologis. Berdampingan dengan arca-arca bernafas Hindu Siwaistis (seperti Arca Durga Mahisasuramardini, Arca Ganesha, dan Lingga Kembar), ditemukan pula langgam ikonografi Buddha Mahayana. Eksistensi Arca Bodhisattva dan Arca Buddha Aksobhya di Pesaren Siwa/Buddha mengindikasikan toleransi dan peleburan doktrin agama pada masa pemerintahan Udayana-Mahendradatta.
V. Hasil Studi Pemeliharaan
Keberadaan tinggalan arkeologi di Pura Bukit Dharma Durga Kutri tersebut tentu menuntut adanya upaya pelindungan yang berkesinambungan. Mengingat kondisi yang rentan, pelestarian situs ini menjadi semakin mendesak setelah terjadinya insiden pohon tumbang yang sempat menimpa balai pelindung arca di kawasan tersebut. Merespon kondisi tersebut, masyarakat Desa Adat Kutri, menyampaikan permohonan bantuan pemeliharaan (konservasi) kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali melalui surat nomor 01/DAK/IX/2025. Menindaklanjuti permohonan tersebut, tim kemudian diterjunkan langsung ke lapangan untuk melakukan studi pemeliharaan guna mengidentifikasi kondisi keterawatan serta tingkat degradasi material pada seluruh artefak. Kondisi kelestarian tinggalan arkeologis di Pura Bukit Dharma Durga Kutri menunjukkan tingkat degradasi material batu padas yang bervariasi. Proses pelapukan dan kerusakan tersebut teramati menyebar di hampir seluruh area penempatan artefak, meliputi Pelinggih Durga Mahisasuramardhini, Pelinggih Taman, Pesaren Siwa-Budha, hingga Kori Agung.
Berdasarkan hasil observasi dan pengukuran mendalam terhadap 46 objek tinggalan warisan budaya (berbahan dasar batu padas dengan total luas permukaan mencapai 47,04 m²). Kondisi keterawatan artefak di situs ini terbagi ke dalam tiga jenis bentuk degradasi utama sebagai berikut:
- Pelapukan Biologis (Dominan)
Menjadi ancaman terbesar dengan tingkat luasan mencapai 24,03 m² atau 51,07% dari keseluruhan permukaan objek. Kerusakan ini ditandai oleh masifnya pertumbuhan lumut, ganggang, serta lumut kerak (lichen) yang menutupi hampir di setiap sudut permukaan arca dan fragmen batu padas, terutama dipicu oleh tingginya kelembapan udara dan rimbunnya vegetasi di lingkungan pura.
Berdasarkan pemantauan lingkungan menggunakan alat perekam data (data logger) selama kegiatan berlangsung, tingginya laju pelapukan biologi ini berkorelasi langsung dengan kondisi iklim makro situs yang sangat lembab. Di area bawah (seperti Pesaren Siwa Buddha), kelembapan udara relatif (RH) tercatat melonjak hingga mencapai titik 91,4%, dengan rata-rata kelembapan harian berada di angka 84,79% pada suhu rata-rata 27,72⁰C. Kondisi ini diperparah oleh vegetasi di sekitar pura yang sangat lebat dan bervariasi seperti pohon beringin, aren, bunut hingga pohon jati sehingga menghalangi sinar matahari langsung dan menjebak kelembapan di permukaan artefak. Tingginya kelembapan ekstrim dan minimnya penguapan di area inilah yang menciptakan lingkungan ideal bagi spora, lumut dan lichen untuk berkembang biak secara masif pada pori-pori batuan padas.

Gambar 5. Pelapukan Biologis Arga Durga Mahisasuramardhini
(dok: BP Kebudayaan Bali)
- Kerusakan Fisis
Mencangkup area seluas 3,83 m² atau 8,15% dari keseluruhan permukaan objek. Gejala yang teramati secara makroskopis meliputi pengikisan permukaan (aus), keropos, retakan mikro, hingga adanya intervensi tambahan material semen pada beberapa bagian arca akibat penanganan sebelumnya. Hasil pengamatan lapangan, kerusakan fisis ini tersebar di berbagai titik penempatan artefak. Di area Pelinggih Durga Mahisasuramardhini kerusakan fisis ditandai dengan ausnya seluruh permukaan badan arca. Sementara itu, pada arca-arca di Pesaren Siwa Budha (seperti Arca Perwujudan dan Arca Budha Aksobya), selain mengalami keausan yang cukup parah pada bagian tubuh dan wajah, ditemukan pula adanya penambahan material semen pada bagian leher arca sebagai bentuk perbaikan yang dilakukan sebelumnya. Kondisi serupa juga teramati pada arca di Pelinggih Doho serta kelompok arca jongkok di area Kori Agung yang mengalami pengikisan pada bagian wajah, tangan, kaki, hingga bagian belakang arca akibat paparan cuaca secara langsung.

Gambar 6. Kerusakan Fisis Pada Arca Budha Akshobya
(dok: BP Kebudayaan Bali)
- Kerusakan Mekanis
Meliputi area seluas 1,43 m² atau 3,04 % dari keseluruhan permukaan objek. Kerusakan ini berupa patah, pecah, berlubang, maupun hilang (seperti bagian stela, lapik, tangan, atau atribut arca). Kerusakan ini umumnya dipicu oleh faktor tekanan beban statis antar batuan maupun faktor lainnya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kerusakan mekanis ini tersebar di beberapa lokasi penyimpanan :- Pelinggih Durga Mahisasuramardhini. Objek utama seperti Arca Durga Mahisasuramardhini mengalami kehilangan komponen pada bagian wajah, tangan, kaki dan bagian nandi. Selain itu, Arca Ganesha dan Lingga Kembar mengalami patah pada bagian lapik beserta hilang pada bagian stela.
- Pelinggih Taman dan Pelinggih Tirta. Kerusakan mekanis banyak ditemukan pada kelompok fragmen kemuncak dan batu sisian genta, dengan variasi bagian objek yang patah serta hilang.
- Utama mandala (Pesaren Siwa-Budha dan Pelinggih Doho). Pada kelompok arca perwujudan dan arca bodhisattva, kerusakan mekanis teramati berupa patah pada bagian jari tangan, bagian lapik dan patah pada bagian sandaran arca (stela).

Gambar 7. Kerusakan Mekanis Pada Lingga Kembar
(dok: BP Kebudayaan Bali)
VI. Kegiatan Pemeliharaan
Mengacu pada hasil analisis tingkat kerusakan, baik mekanis, fisis, maupun pelapukan biologis, serta kondisi lingkungan di situs, langkah berikutnya adalah merumuskan bentuk penanganannya. Rencana penanganan ini dirancang secara spesifik agar metode serta bahan pemeliharaan (konservasi) yang diaplikasikan benar-benar tepat sasaran sesuai dengan karakteristik kerusakan di lapangan. Berikut tabel data keterawatan dan rencana penanganan ODCB di Pura Bukit Dharma Durga Kutri.
| No | DATA KETERAWATAN | RENCANA PENANGANAN |
| 1 | Akumulasi debu, kotor permukaan, dan tanah serta akar kering pada ODCB bahan batu padas | Pembersihan mekanis kering dan basah. |
| 2 | Kerusakan Fisis (aus) bahan batu padas | Tindakan preventif (pencegahan) di Pelinggih Durga Mahisasuramardhini, Pelinggih Taman, Utama Mandala (Pesaren Siwa/Budha, Pelinggih Tirta, Pelinggih Doho, Area Mandala Sisi Selatan) dan Belakang dan Depan Kori Agung Sisi Selatan dan Utara. Benda yang tidak memiliki bangunan pelindung perlu dilakukan kegiatan monitoring berkala agar data perubahan kondisi objek dari waktu ke waktu dapat terdokumentasi dengan baik.Pengaplikasian larutan Paraloid B72 konsentrasi 3% secara selektif pada bagian yang sangat aus. |
| 3 | Pelapukan Biologi (Lumut dan Lichen) ODCB bahan batu padas | Melakukan pembersihan tradisional dengan emulsi minyak atsiri sereh wangi konsentrasi 10%. |
| 4 | Patah | Melakukan penyambungan pada bagian yang patah dengan menggunakan sikadur. |
Keseluruhan rencana penanganan dapat dijelaskan sebagai berikut
1. Pembersihan Mekanis
Pembersihan mekanis dilakukan untuk membersihkan akumulasi debu, bekas tanah dan kotoran-kotoran lainnya. Pembersihan mekanis yang dilakukan terdiri dari 2 (dua) tahapan, yaitu pembersihan mekanis kering dengan menggunakan alat-alat berupa kuas, sapu lidi, sikat nilon, sikat gigi dan sikat baja. Selanjutnya pembersihan mekanis basah dengan menggunakan air agar kotoran-kotoran pasca pembersihan mekanis kering bersih.

Gambar.8 Proses Pembersihan Kering di Pesaren Siwa Budha
(dok: BP Kebudayaan Bali)
2. Pembersihan Tradisional
- Pembersihan tradisional dilakukan untuk membersihkan lumut dan lichen yang tumbuh pada benda yang berbahan batu padas. Pembersihan tradisional dilakukan dengan menggunakan emulsi minyak atsiri sereh wangi dibuat dengan mencampur aquades, minyak atsiri sereh wangi dan surfaktan Tween 80. Adapun komposisi pembuatan 1 liter (1.000 ml) emulsi minyak atsiri sereh wangi adalah sebagai berikut :
- Minyak atsiri sereh wangi (10% dari volume total) = 100 ml;
- Tween 80 (4,5 dari volume total) = 45 ml;
- Aquades (85,5% dari volume total) = 855 ml.
Berdasarkan perhitungan, total luas permukaan ODCB di Pura Bukit Dharma Durga Kutri sekitar 47,0466 m². Nilai standar penggunaan emulsi minyak atsiri sereh wangi adalah 0,25 Liter/m², sehingga untuk 1 (satu) kali aplikasi pada ODCB di Bukit Dharma Durga Kutri memerlukan sekitar 11,76165 Liter.

Gambar.9 Peralatan dan Bahan Kegiatan Pemeliharaan
(dok: BP Kebudayaan Bali)
Aplikasi penggunaan emulsi minyak atsiri sereh wangi menggunakan botol semprot (sprayer) yang di semprotkan ke seluruh bagian benda pada rentang jam 09.00-11.00, untuk menghambat proses fotosintesis dari lumut dan lichen. Dalam memaksimalkan kontak antara emulsi minyak atsiri sereh wangi dengan lumut dan lichen, pasca disemprotkan permukaan benda dapat ditutup dengan plastik bening lalu diamati dan didiamkan maksimal 1×24 jam. Matinya lumut dan lichen ditandai dengan perubahan warna menjadi kecoklatan. lumut dan lichen yang telah mati akan lebih mudah dibersihkan secara mekanis kering. Bekas-bekas pembersihan dibersihkan menggunakan air sampai pH netral.

Gambar.10 Pengaplikasian emulsi minyak asiri di Pesaren Siwa Buddha, Pembersihan mekanis basah di Pesaren Siwa Buddha
(dok: BP Kebudayaan Bali)
- Perbaikan dengan konsolidasi bagian yang aus dengan menggunakan larutan Paraloid B72 yang dicampur dengan Ethyl Acetate konsentrasi 3%. Pembuatan larutan konsentrasi 3% dengan mencampurkan 30 gram Paraloid B72 dalam 1 liter Ethyl Acetate. Konsolidasi bertujuan untuk memperkuat struktur ikat material batuan yang aus. Konsolidasi dengan 1 liter larutan Paraloid B72 dapat diaplikasikan pada volume permukaan objek seluas 11,76 m2. Pengaplikasian dilakukan dengan cara dioles dengan kuas pada permukaan objek material cagar budaya.

Gambar.11 Kegiatan aplikasi bahan konsolidan Paraloid B-72
(dok: BP Kebudayaan Bali)
- Melakukan penyambungan pada bagian arca yang patah dengan menggunakan lem sikadur.

Gambar.12 Penyambungan arca yang patah
(dok: BP Kebudayaan Bali)
3. Pemeliharaan
Guna mencegah benda ditumbuhi mikroorganisme seperti lumut dan lumut kerak (Lichen), pemeliharaan rutin perlu dilakukan dengan metode pembersihan mekanis kering, pembersihan mekanis basah, dan pembersihan tradisional menggunakan emulsi minyak atsiri sereh wangi. Untuk itu, dalam kegiatan konservasi/ pemeliharaan nanti, juga akan melibatkan juru pelihara sehingga proses pemeliharaan sederhana tersebut dapat dilakukan secara mandiri.
VII. Penutup
Kompleks Pura Bukit Dharma Durga Kutri menyimpan rekam jejak sejarah peradaban Bali masa lalu serta bukti akulturasi budaya. Mengingat material tinggalan arkeologi berupa batu padas memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap pelapukan, upaya pelindungan dan perawatan memerlukan penanganan yang terstruktur dan berkelanjutan. Ancaman kerusakan yang didominasi oleh pelapukan biologis akibat iklim mikro yang lembab, ditambah faktor fisis dan mekanis, menuntut adanya intervensi konservasi yang terukur. Melalui pelaksanaan pemeliharaan yang mencangkup pembersihan mekanis, pembersihan tradisional menggunakan emulsi minyak atsiri sereh wangi, konsolidasi dengan Paraloid B-72, dan teknik penyambungan material yang tepat, sehingga laju degradasi objek dapat ditekan. Sebagai tindak lanjut, upaya pelestarian ini memerlukan koordinasi yang konsisten antara instansi teknis, pengelola pura, juru pelihara dan masyarakat. Pelaksanaan pemeliharaan secara berkala diperlukan untuk memastikan kondisi fisik cagar budaya tetap lestari bagi generasi mendatang.
Daftar Pustaka
Balai Arkeologi Denpasar. 1983. Laporan Penelitian Arkeologi No.I Ekskavasi Pura Bukit Dharma Durga Kutri Tahap VII (Tidak dipublikasikan).
Balai Arkeologi Denpasar. 1983. Laporan Penelitian Arkeologi No.II Ekskavasi Pura Bukit Dharma Durga Kutri Tahap VII (Tidak dipublikasikan).
Balai Arkeologi Denpasar. 1985. Laporan Penelitian Arkeologi No. I, Ekskavasi Pura Bukit Dharma Durga Kutri Tahap VII (Tidak dipublikasikan).
Balai Arkeologi Denpasar. 1985. Laporan Penelitian Arkeologi No. 9, Ekskavasi Pura Bukit Dharma Kutri Tahap VI (Tidak dipublikasikan).
Balai Arkeologi Denpasar. 1988. Laporan Penelitian Arkeologi No.12 Ekskavasi Pura Bukit Dharma Durga Kutri Tahap VII (Tidak dipublikasikan).
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV. 2025. Laporan Kegiatan Studi Pemeliharaan Cagar Budaya Di Situs Pura Bukit Dharma Durga Kutri, Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV. 2025. Laporan Kegiatan Pemeliharaan Cagar Budaya Di Situs Pura Bukit Dharma Durga Kutri, Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.
Farsahin, Lalu M Balia. 2022. Studi Komparatif: Arca Dewi Durga Di Pura Bukit Dharma Durga Kutri Gianyar dan Arca Dewi Durga di Candi Jawi, Pasuruan (Kajian Ikonografi Klasik Hindu-Budha). Universitas Hasanuddin.
Wahyuni, Ni Made Dewi, dkk. 2023. Laporan Pendokumentasian dan Pemetaan Cagar Budaya dan yang Diduga Cagar Budaya di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV.