SEKILAS TENTANG
Situs Tirta Empul merupakan kompleks keagamaan yang memiliki keunikan tata ruang karena terdiri atas dua bagian utama, yaitu permandian Tirta Empul dan Pura Tirta Empul. Kedua bagian tersebut memiliki keterkaitan fungsi, tetapi berdasarkan sumber sejarah, sejarah pembangunannya berlangsung pada masa yang berbeda. Berdasarkan prasasti batu yang terdapat di Desa Manukaya diketahui bahwa Permandian Tirtha Empul dibangun pada sekitar abad ke-10. Isi prasasti memuat nama raja Raja Cri Candrabhaya Singha Warmadewa dengan angka tahun Saka 882 (960 Masehi). Sementara nama desa disebut Manukraya dan tempat sucinya (pura) bernama Tirtha di Air Mpul.
Selanjutnya, menurut cerita rakyat yang berdasar pada Lontar Usana Bali, keberadaan Yeh Empul berkaitan dengan kisah peperangan antara Bhatara Indra dan Raja Mayadanawa. Bhatara Indra bersama pasukan Gandarwa turun ke Bali dan menyerang Mayadanawa di Bedahulu. Dalam pelariannya ke arah utara, Mayadanawa dikejar hingga wilayah Manukaya. Sementara itu, Patih Kala Wong, yang merupakan patih Mayadanawa, membuat Tirtha Mala di Alas Pegulingan yang menyebabkan banyak pasukan Gandarwa gugur.
Melihat keadaan tersebut, Bhatara Indra kemudian menciptakan Yeh Empul dan menggunakan airnya untuk memulihkan pasukan Gandarwa yang telah gugur. Setelah diperciki tirtha dari Yeh Empul, pasukan tersebut kembali hidup sehingga pengejaran terhadap Mayadanawa dan Patih Kala Wong dapat dilanjutkan. Keduanya akhirnya sampai di Pangkung Patas dan berubah menjadi batu padas, sebelum kemudian dikalahkan oleh Bhatara Indra.
Sementara, menurut Lontar Usana Bali, keberadaan Pura Tirta Empul dibangun pada masa pemerintahan Raja Masula Masuli yang berkuasa di Bali dan beristana di Pejeng. Pembangunan pura tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembangunan berbagai pura panyungsungan jagat yang dilakukan atas kehendak dan arahan raja serta melibatkan masyarakat dari berbagai wilayah, antara lain Blahbatuh, Pejeng, dan Tampaksiring. Pada masa itu, masyarakat secara bersama-sama menyediakan batu padas dan berbagai bahan bangunan untuk mendukung pembangunan tempat-tempat suci. Di kawasan Tirta Empul dibangun padharman Bhatara Indra yang dilengkapi dengan sejumlah pancuran. Pancuran-pancuran tersebut memiliki tanda atau penanda tertentu yang berkaitan dengan tujuan penggunaannya. Pembangunan kompleks tersebut telah direncanakan oleh I Bandesa Wayah dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh raja. Seluruh pembangunan berbagai parhyangan, termasuk Pura Tirta Empul, Pura Mangening, Ukir Gumang, serta Jampana Manik atau Gulingan, dikisahkan berlangsung selama tiga tahun hingga seluruhnya selesai. Dengan demikian dapat diketahui terdapat perbedaan waktu mengenai pembangunan permandian Tirta Empul dengan Pura Tirta Empul, yaitu permandian Tirta Empul dibangun pada masa pemerintahan Raja Candrabhaya Singha Warmadewa sekitar abad ke-10 Masehi. Sementara, Pura Tirtha Empul dibangun pada masa bertahta dan berkuasanya Raja Masula Masuli di Bali yang beristana di Pejeng.