SEKILAS TENTANG
Kubur Prasejarah Manikliyu pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh Pan Suki ketika mencangkul kebunnya dan menemukan sebuah peti batu yang berisi tulang manusia. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada aparat desa dan Balai Arkeologi Denpasar. Selanjutnya, dilakukan beberapa ekskavasi penyelamatan pada tahun 1997 dengan temuan berbagai artefaktual, antara lain dua sarkofagus, nekara perunggu, rangka manusia, serta bekal kubur berupa periuk, spiral, gelang, pelindung jari dari perunggu, dan manik-manik.
Salah satu temuan yang penting dan unik adalah sebuah nekara perunggu yang difungsikan sebagai wadah kubur. Menariknya, di dalam nekara ditemukan rangka manusia dalam posisi terlipat disertai dengan berbagai bekal kubur. Penguburan menggunakan nekara di Manikliyu dianggap sangat penting karena merupakan yang pertama ditemukan di Bali dan sedikit ditemukan di Indonesia. Pada permukaan nekara ini terdapat hiasan berupa pola tumpal, garis horizontal, pola menyerupai huruf f, serta kedok muka berpasangan.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa Kubur Prasejarah Manikliyu memiliki tiga sistem penguburan, yaitu menggunakan nekara, sarkofagus, dan tanpa wadah kubur. Penggunaan wadah kubur yang berbeda dalam sistem penguburan di Bali pada masa prasejarah kemungkinan juga mengindikasikan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat berkaitan dengan status sosial pemakainya. Penguburan menggunakan nekara diperkirakan diperuntukkan bagi individu dengan status sosial paling tinggi karena nekara merupakan benda yang sangat berharga dan bahan baku logam tidak ditemukan di Bali. Sementara itu, sarkofagus kemungkinan digunakan untuk individu yang di pandang berjasa dalam masyarakat disertai dengan berbagai bekal kubur sebagai suatu bentuk penghormatan kepada arwah. Penghormatan dan perlakuan seperti itu dilakukan berdasarkan atas kepercayaan kepada arwah leluhur, yang dianggap memiliki kekuatan magis, dapat menentukan nasib keluarga dan masyarakat. Untuk menjaga ketentraman dan kesejahteraan masyarakat, maka selalu dijaga hubungan dengan dunia arwah melalui upacara pemakaman. Berdasarkan tradisi tersebut maka perlakuan terhadap orang meninggal, termasuk penguburan dengan wadah ataupun tanpa wadah kubur dapat merepresentasikan penghormatan dan sekaligus pemujaan terhadap leluhur.