Gending Ancag-Ancagan

Secara konseptual, Gending Ancag-Ancagan adalah gending atau tembang yang dimainkan dengan menggunakan Gamelan Ancag-ancagan. Sedangkan Gamelan Ancag-Ancagan merupakan seperangkat (abarung) gamelan Bali yang cara memainkannya dilakukan secara nylogcag dari satu nada ke nada berikutnya. Gending dan Gamelan Ancag-ancagan merupakan jenis karya seni budaya yang diwarisi turun temurun di Desa Adat Kesiman. Kesakralan gending ini tidak lepas dari sejarah keberadaan gamelan duwe tersebut dan fungsi religiusnya bagi umat Hindu di Desa Adat Kesiman. Sumber sejarah tentang keberadaan Gending Ancag-ancagan di Desa Adat Kesiman tidak ditemukan sampai sekarang, namun tentunya Gending ini tidak bisa lepas dari keberadaan Gamelan Ancag-Ancagan sebagai instrumen yang memainkan gending tersebut. Begitu pula tidak diketahui secara pasti kapan gamelan tersebut berada di wilayah Desa Adat Kesiman dan menjadi gamelan sakral. Salah satu sumber yang menyebutkan Gamelan Ancag-ancagan adalah Purana Dalem Wirasana, yang menjelaskan keberadaan Gamelan Ancag-ancagan sebagai pengiring upacara di Pura Agung Petilan atau Pangrebongan, tetapi tidak secara langsung menyebutkan sejarah keberadaannya. Sumber sejarah yang berkaitan dengan keberadaan Gamelan Ancag-ancagan di Desa Adat Kesiman justru diperoleh dari cerita-cerita lisan yang berkembang di masyarakat, khususnya para panglingsir di Banjar Ceramcam. Kata “ancag-ancagan” dalam Kamus Bali-Indonesia (Partami, dkk., 2016:27) berarti mendadak, dalam keadaaan mendadak. Arti kata ini mengisyaratkan adanya kehadiran sesuatu secara tiba-tiba atau tidak direncanakan. Dari kata ancag-ancagan ini dapat diungkap berbagai makna yang berhubungan dengan keberadaan gamelan tersebut bagi masyarakat Desa Adat Kesiman, seperti berikut. Secara historis, makna ancag-ancagan mengacu pada kemunculan gamelan ini yang tidak direncanakan sebelumnya. Makna ini tersirat dalam kaitannya dengan keberadaan gong druwe (Ida Kompyang Lingsir) yang secara tidak sengaja dibawa (dijual) oleh seseorang dari Desa Intaran – Sanur, kemudian dibeli oleh warga Desa Adat Kesiman. Bagi masyarakat Desa Adat Kesiman, kehadiran gong druwe yang tiba-tiba ini diyakini sebagai anugerah (paica) dan masyarakat Kesiman yang dipilih Tuhan untuk menerima anugerah tersebut. Krama Desa Adat Kesiman memaknai ini sebagai perintah Tuhan (pituduh Widhi) bahwa mereka harus menciptakan kesenian untuk mengiringi upacara (pujawali) berupa Aci Pangilen, khususnya di Pura Agung Petilan sebagai sentral religiusitas krama adat Kesiman. Dalam konteks kreativitas seni, ancag-ancagan juga dapat dimaknai sebagai munculnya inspirasi penciptaan seni secara tiba-tiba. Bentuk pementasan Gending Ancag-ancagan dalam Aci Pangilen Dewa Yadnya di Desa Adat Kesiman mencakup bentuk fisik dan dinamik. Bentuk fisiknya adalah barung gamelan sebagai kesatuan instrumen inti yang digunakan dalam pementasan. Sedangkan bentuk dinamiknya meliputi seluruh tahapan pementasan Gamelan Ancag-ancagan yaitu  (a) persiapan pementasan mencakup, undangan (pangoleman), menyiapkan sekaa penabuh, membawa gamelan ke lokasi, serta mengatur tata letak gamelan dan para penabuhnya; (b) inti pementasan mencakup seluruh iringan gending pada prosesi upacara Aci Pangilen Dewa Yadnya; serta (c) penutup pementasan, yakni nglebar banten gong dan mengembalikan gamelan ke Banjar Ceramcam. Pada dasarnya seluruh aspek kesenian mengandung dua fungsi, yaitu sebagai bentuk pernyataan dan sebagai sarana. Penting atau tidak suatu fungsi tergantung pada kebutuhan dan penilaian seseorang pada kesenian. Berkaitan dengan itu, fungsi manifes Gamelan Ancag-ancagan adalah fungsi estetisnya, yakni melantunkan suara gending-gending yang halus dan indah. Dikatakan demikian karena setiap gamelan pada dasarnya memang difungsikan untuk menyampaikan pesan-pesan keindahan (estetis) yang dinyatakan dengan wujud gending dan menjadi sarana tertentu, yakni sebagai pengiring Aci Pangilen Dewa Yadnya.

Fungsi estetis Gamelan Ancag- ancagan tampak dalam keberadaan gending yang disusun dengan pola notasi khas, dan digunakan sebagai iringan untuk prosesi upacara tertentu. Dalam setiap prosesi ini, gending Ancag-ancagan berfungsi untuk menciptakan suasana estetis-religius-magis yang mengantarkan para pelaku upacara untuk melaksanakan prosesi sembari menaridengan gerak teratur mengikuti alunan gending Gamelan Ancag-ancagan,

Gending Gamelan Ancag-ancagan juga memiliki fungsi religius karena dipentaskan dalam aktivitas upacara keagamaan Hindu. Fungsi religius Gending Gamelan Ancag-ancagan dalam Aci Pangilen Dewa Yadnya merupakan fungsi laten, yakni konsekuensi objektif yang tidak lahir secara langsung dari wujudnya sebagai aktivitas kesenian, tetapi memiliki makna penting (supreme) bagi masyarakat. Gending dan Gamelan Ancag-ancagan dalam Aci Pangilen Dewa Yadnya di Desa Adat Kesiman bukanlah instrumen pelengkap upacara, melainkan bagian integral dari upacara tersebut. Dalam konteks Panca Gita, gamelan yang disuarakan dengan gending mempunyai fungsi penting sebagai salah satu bunyi-bunyian, selain genta, mantra, kidung, dan kulkul, yang harus dihadirkan dalam Aci Pangilen Dewa Yadnya. 

Seluruh prosesi ritual dalam Aci Pangilen Dewa Yadnya yang diiringi dengan Gending Ancag-ancagan membawa para pelaku upacara ke dalam suasana mistis dan magis. Hal ini tampak dari tarian yang dilakukan dengan gerak sederhana, teratur, dan tidak menonjolkan aspek estetikanya. Gerak sederhana ini seringkali bersifat sangat mistis karena memang tujuannya adalah membangkitkan nuansa magis. Fungsi mistis-magis Gamelan Ancag-ancagan dalam Aci Pangilen Dewa Yadnya dapat dilihat pada suasana yang dihadirkan ketika gending-gending Ancag-ancagan mulai ditabuh dan dinikmati para pelaku upacara. Para pelaku upacara ini menyelesaikan tugasnya dengan menari sederhana mengikuti iringan gamelan, serta pada tahapan tertentu mencapai kondisi trance (karauhan), yang kemudian diikuti dengan Ngurek atau Ngunying secara massal. 

Gending Ancag-Ancagan memiliki notasi gending yang berbeda-beda dalam setiap runtutan ritual yang diiringi, salah bentuk gending yang terdapat dalam Gending Ancag-ancagan adalah Gending Pamendak yang memiliki notasi sebagai berikut:

Alamat

Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar, Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya Takbenda

Domain

Seni Pertunjukan