SEKILAS TENTANG
Data kesejarahan mengenai keberadaan Masjid Agung Jami Singaraja berawal dari kebutuhan masyarakat muslim di Kampung Kajanan, Kampung Bugis, dan Kampung Baru akan tempat ibadah yang lebih memadai karena masjid lama atau Masjid Keramat sudah tidak mampu menampung jumlah jamaah yang semakin banyak. Selanjutnya, para pemuka dari ketiga kampung tersebut mengajukan permohonan kepada Raja Buleleng A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong, untuk memperoleh lahan pembangunan masjid. Permohonan tersebut dikabulkan dengan memberikan sebidang tanah di kawasan Jalan Imam Bonjol, Singaraja. Kemudian pembangunan dilaksanakan dengan melibatkan I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi merupakan kerabat raja yang telah memeluk Islam, serta tokoh masyarakat muslim seperti Abdullah Maskati/Mascatty.
Bebebrapa sumber menunjukkan perbedaan mengenai tahun pembangunan, yaitu sekitar 1830 M dan 1846 M, hingga penyelesaian sekitar 1850–1860 M. Salah satu bukti penting adalah pintu gerbang masjid yang bertarikh 1260 H atau sekitar 1850 M. Perbedaan tahun tersebut menunjukkan adanya proses pembangunan dan penyempurnaan yang berlangsung dalam beberapa tahap. Dalam proses pembangunan, sempat muncul perbedaan pendapat mengenai pemindahan pelaksanaan salat Jumat dari Masjid Keramat ke masjid baru. Perselisihan tersebut kemudian ditengahi oleh pihak kerajaan, serta Raja juga memberikan salah satu kori atau pintu gerbang dari lingkungan Puri Buleleng untuk digunakan sebagai gerbang masjid. Lebih lanjut, Masjid tersebut kemudian diberi nama “Masjid Jami”, yang mencerminkan makna kebersamaan dan persatuan umat.
Pada akhir tahun 1970-an, perhatian kembali diberikan kepada peninggalan sejarah masjid, khususnya Al-Qur’an tulisan tangan karya I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi. Untuk mengenang jasa keluarga kerajaan serta atas kesepakatan pengurus dan tokoh masyarakat, nama “Masjid Jami” kemudian ditambahkan menjadi “Masjid Agung Jami”. Masjid Agung Jami Singaraja bukan sekadar bangunan keagamaan, tetapi merupakan saksi sejarah hubungan harmonis antara umat Hindu dan Islam di Buleleng. Dukungan kerajaan, semangat kebersamaan masyarakat, perpaduan budaya, serta peninggalan sejarah yang tersimpan di dalamnya menjadi nilai penting yang membuat masjid ini tetap bertahan dan bermakna hingga era sekarang.