Barong Brutuk

Keberadaan Tari Barong Brutuk berdasarkan sejarah evolusi budaya masyarakat Desa Trunyan kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli,  bahwa masyarakat mengalami proses evolusi yang berbeda-beda, oleh karena itu masing-masing masyarakat menunjukkan kebudayaan yang berbeda-beda pula.  Dua konsep yang mendasari evolusi budaya masyarakat Desa Trunyan yaitu konsep Budaya Bali Aga dan konsep budaya Aga (Bali Pegunungan), dan pangkal pendirian mengenai hal itu adalah bahwa masyarakat Desa Trunyan memiliki kepercayaan yang kuat terhadap lingkungan alam, dan para leluhurnya dengan penyembahan kepada roh-roh yang merupakan personifikasi dari jiwa nenek moyangnya. Dengan demikian kekuatan dari hukum dalam masyarakat Desa Trunyan adalah hukum keramat yang berlandaskan pada ketakutan warga masyarakat akan kemarahan roh-roh leluhur ataupun nenek moyang apabila aturan-aturan tadi dilanggar. Sehingga budaya masyarakat menjadi sangat kuat kepercayaannya, dan melahirkan sebuah evolusi budaya berupa Tari Barong Brutuk sebagai penghormatan yang besar terhadap luluhur atau nenek moyangnya yaitu Ida Ratu Gede Pancering Jagat (Bhatara Hyang Da Tonta) dan Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar yang membuat masyarakat selalu nyaman, aman, tentram dan penuh berkah dalam kehidupannya. Tari Barong Brutuk merupakan sebuah bentuk sujud bhakti masyarakat yang diwujudkan dalam aktivitas upacara keagamaan dan persembahan kepada para Dewa-Dewi (Ida Ratu Gede Pancering Jagat dan Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar), yang dijadikan sebuah yadnya (persembahan suci yang tulus iklas) oleh masyarakat Desa Trunyan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Sebagai sebuah kesenian unik dan sakral yang dilaksanakan hanya 2 tahun sekali yaitu pada  upacara Ngusaba Gede Kapat Lanang pada hari bulan Purnama keempat kalender Bali, di Pura Pancering Jagat Desa Trunyan, dalam pelaksanaannya selalu ramai penonton atau banyak diminati oleh masyarakat. Tari Barong Brutuk ini telah dilakukan antar generasi secara turun temurun dan mampu bertahan sampai saat ini, tentu saja karena memiliki fungsi pendidikan, fungsi sosial, fungsi sebagai pemberi berkah, kesuburan, dan penolak bala dan fungsi sebagai hiburan, adapun makna yang terkandung pada Barong Brutuk adalah makna-makna sejarah, makna ngayah atau pengabdian kepada Tuhan, makna spiritual, makna identitas dan kebanggaan lokal.

Alamat

Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya Takbenda

Domain

Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan