SEKILAS TENTANG
Pura Bukit Samong merupakan warisan budaya yang menyimpan beragam bukti artefaktual di dalamnya. Meskipun sumber-sumber tertulis mengenai kesejarahan pura ini masih sangat minim, sekiranya data artefaktual tersebut dapat menunjukkan bahwa pura ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Berdasarkan penuturan Jero Mangku Nengah Suliarsa, yang memperoleh informasi sejarah dari ayahnya sebagai pemangku terdahulu, keberadaan pura ini berkaitan dengan perjalanan tokoh I Kebo Iwa. Dalam tradisi lisan tersebut diceritakan bahwa I Kebo Iwa mendapatkan wahyu (pawisik) dari Ida Bhatara Gunung Agung untuk metembing batu (melempar batu) agar menempel di Bukit Buluh. Namun, batu tersebut justru jatuh di sebelah timur Bukit Buluh dan kemudian dipercaya menjadi sebuah bukit kecil yang dikenal masyarakat sebagai Bukit Samong.
Keberadaan sejumlah tinggalan arkeologi di pura berupa lingga, yoni, dan fragmen arca perwujudan, semakin menunjukkan adanya sistem kepercayaan dan aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya pada masa lalu. Jejak kehidupan masyarakat tersebut turut diperkuat oleh keberadaan Prasasti Dawan yang diterbitkan pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Hal tersebut menunjukkan bahwa pura tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan dan pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan aktivitas pertanian masyarakat pada masa lalu.
Hingga kini Pura Bukit Samong tidak hanya memiliki arti penting sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki fungsi keagamaan dan sosial bagi masyarakat penyungsungnya. Keberlanjutan fungsi, tradisi, kepercayaan, serta praktik ritual yang masih berlangsung menjadikan pura ini sebagai living monument, yaitu warisan budaya yang tidak sekadar mempertahankan bentuk dan tinggalan masa lalu, tetapi juga terus hidup, dimaknai, dan diwariskan oleh masyarakat pendukungnya.