SEKILAS TENTANG
Pura Taman Sari merupakan tempat suci sekaligus karya arsitektur pertamanan peninggalan Kerajaan Klungkung. Pura ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1710 pada masa pemerintahan Raja I Dewa Agung Jambe, bersamaan dengan pembangunan Keraton Klungkung. Pada awal ditemukan, pura ini dalam kondisi rusak berat. Beberapa bagian bangunan kuno, seperti meru tumpang sebelas, meru tumpang sembilan, piasan, serta kolam yang mengelilingi meru, hanya tersisa sebagian, serta ada yang mengalami kerusakan total. Kerusakan Pura Taman Sari diperkirakan disebabkan oleh peristiwa Puputan Klungkung tahun 1908 dan Gempa besar Bali tahun 1917.
Selanjutnya, pasca dilakukannya pemugaran dan penelitian di Pura Taman Sari, ditemukan berbagai unsur kuno seperti relief wayang dan binatang pada meru, hiasan naga yang melilit badan meru, serta bentuk penyu atau empas yang berbeda dari yang lainnya. Ditemukan juga tinggalan budaya lain berupa lima arca penjaga yang semakin menambah nilai sejarah dari Pura Taman Sari. Selain itu, keberadaan tinggalan budaya di pura ini juga menunjukkan adanya hubungan budaya antara Bali dan Jawa Timur, khususnya dari segi arsitektur. Apabila ditinjau dari sejumlah bentuk dan ragam hias arsitektur di pura ini yang memiliki kemiripan dengan peninggalan candi di Jawa Timur pada masa Kerajaan Majapahit.
Eksistensi Pura Taman Sari hingga saat ini masih terjaga dan disakralkan oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat meyakini keberadaan Pura Taman Sari diperkirakan berkaitan erat dengan perkembangan Kerajaan Klungkung setelah pusat kerajaan berpindah dari Gelgel ke Klungkung atau Smarapura. Lebih Lanjut, pura ini diperkirakan memiliki fungsi penting sebagai tempat pemasupatian senjata kerajaan, yaitu ritual untuk memberikan kekuatan sakral pada senjata.