Pura Maospahit Gerenceng

SEKILAS TENTANG

Pura Maospahit Gerenceng merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki ciri arsitektur yang unik dan khas. Pura ini diperkirakan mulai dibangun pada 1278 Masehi (Śaka 1200) oleh Kebo Iwa, seorang tokoh yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang pembangunan. Hal ini juga ditegaskan dalam Babad Purana Maospahit yang menyebutkan pada tahun Śaka 1247 (1325 Masehi) Bali diperintah oleh Dalem Batu Ireng yang diperkirakan ialah Śri Astasuraratnabhumibanten dengan Patih Kebo Iwa yang menyerukan bahwa Bali tidak mau tunduk kepada negeri lain dan memiliki pemerintahan sendiri (otonom). Selanjutnya, setelah Bali dikuasai Majapahit pada 1343 Masehi, pengaruh budaya dan arsitektur Majapahit mulai berkembang di Bali dan turut memengaruhi keberadaan pura ini.

Perkembangan Pura Maospahit Gerenceng semakin terlihat pada 1553 Masehi (Śaka 1475) ketika Raja Badung memerintahkan I Pasek Wangayah atau I Pasek Mancagraha untuk membangun Gedong Candi Raras Majapahit sebagai bangunan pesimpangan atau penyawangan terhadap candi-candi yang terdapat di Majapahit. Selain didukung oleh sumber sejarah berupa Babad Purana Maospahit, eksistensi Pura Maospahit Gerenceng juga didukung oleh data artefaktual yang masih tersimpan dalam kompleks pura berupa bangunan candi dan arca-arca berbahan terakota. Keberadaan tinggalan budaya tersebut tidak hanya menjadi bukti penting adanya kesinambungan tradisi masa lampau yang masih dipertahankan hingga sekarang, tetapi juga memilki nilai penting sejarah, agama, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan, serta menjadi bagian dari identitas lokal masyarakat pendukungnya. 

Alamat

Br. Gerenceng, Jln. Dr.Sutomo, Desa Pemecutan Kaja, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali

Status

Cagar Budaya Kota

Juru Pelihara

I Gede Sumantara Satrya