Buletin Dresta Budaya Vol.01

Prosesi dalam kebudayaan tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian upacara sakral atau ritual masyarakat, tetapi juga sebagai perwujudan diplomasi kebudayaan. Diplomasi di sini hadir bukan dalam arti politik formal, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan nilai, makna, dan identitas masyarakat lintas ruang dan waktu. Hal ini diproyeksikan oleh Kuswanto dalam tulisannya yang berjudul Prosesi dan Diplomasi Dalam Presentasi Tinggalan Arkeologi (Pendekatan Museologi).

Potret karya Anak Agung Panji Tisna dan Lembah Merdeka Gelar memuat dua sisi proses perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bali. Karya-karya Anak Agung Panji Tisna menunjukkan kesadaran bahwa karya sastra dapat menjadi medium diplomasi, mempertemukan wawasan kebudayaan, spiritualitas, dan identitas lokal Bali dengan wacana kebangsaan yang lebih luas, di sisi lain Lembah Merdeka Gelar bercerita tentang perjuangan bersenjata pemuda pejuang Bali dalam mempertahankan kemerdekaan.

Hal serupa juga tampak dalam potret inspiratif Oka Rusmini, yang melalui bahasa sastra mempertemukan prosesi kehidupan perempuan Bali dengan diplomasi kebudayaan yang berdaya ungkap hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Prosesi upacara seperti Mebiukukung menegaskan dimensi keseimbangan kosmis, di mana masyarakat Bali menyampaikan diplomasi dengan alam semesta—menyelaraskan kehidupan manusia dengan laut, bumi, dan roh leluhur.

Keterhubungan ini menemukan gema dalam keberadaan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Ratu Kempur di Pejeng, sebuah tinggalan arkeologis yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah, tetapi juga sebagai simbol diplomasi antargenerasi dalam menjaga kesinambungan peradaban.

Di Lombok, Taman Mayura menjadi contoh konkret diplomasi ruang, di mana harmoni antara Hindu dan Muslim tidak hanya hadir sebagai prosesi sejarah, tetapi juga diplomasi sosial yang mengikat masyarakat dalam keberagaman. Hal yang sama tercermin dalam Darapan Kebo di Sumbawa, sebuah proses agraris yang dalam praktiknya adalah diplomasi antara manusia dengan tanah dan hewan, sekaligus perekat solidaritas sosial masyarakat.

Di Jembrana, ODCB Gapura Puri Agung menunjukkan potensi diplomasi arsitektural, sebuah pintu gerbang yang bukan hanya artefak, melainkan simbol keterbukaan antara masa lalu dan masa kini, antara kerajaan tradisional dengan dinamika masyarakat modern. Sementara itu, Tari Oncer Puyung di Lombok menutup rangkaian ini dengan ekspresi tubuh kolektif. Gerak tari yang enerjik menghadirkan prosesi diplomasi estetika, memperlihatkan bagaimana kesenian mampu menjembatani identitas lokal Lombok dengan pergaulan budaya yang lebih luas.

Rangkaian prosesi ini, mulai dari sastra, upacara, arsitektur, hingga seni pertunjukan merupakan wajah diplomasi kebudayaan Nusantara. Ia bukan hanya dokumentasi sejarah, melainkan juga strategi perjumpaan, penyambung rasa, serta jembatan komunikasi antarbudaya yang terus hidup, berkelanjutan, dan relevan bagi dunia.

Penulis

Kuswanto, dkk

Tahun Terbit

2025

Kode Buku

050.KUS.d

Lokasi Perpustakaan

Sub Unit Balai Pelestarian Kebudayaan Bali Jl. Raya Dalung No.107, Dalung, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80351.