SEKILAS TENTANG
Tradisi Wong Perau adalah tradisi adat khas dari Dusun Merita, Desa Labasari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bagian dari upacara adat Musa Benang Sil. Tradisi ini memiliki keunikan karena mengangkat kembali kisah sejarah kedatangan para pedagang (juragan) Bajo-Bugis yang dahulu berlayar dan singgah di kawasan Tulamben, Karangasem. Kata wong perau sendiri berarti “orang perahu”, yaitu orang-orang yang datang menggunakan perahu.
Dalam pelaksanaannya:
Warga setempat memerankan tokoh-tokoh pedagang Bajo-Bugis.
Mereka mengenakan pakaian yang menggambarkan identitas para pelaut dan pedagang tersebut, seperti kaos putih, celana panjang hitam, peci, dan sarung.
Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian ritual adat sekaligus bentuk penghormatan terhadap sejarah hubungan masyarakat pesisir Karangasem dengan para pelaut dan pedagang dari Nusantara.
Tradisi ini juga dinilai memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Jadi, Wong Prahu/Wong Perau bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah tradisi ritual yang mengabadikan memori sejarah interaksi masyarakat Bali Timur dengan para pelaut Bajo-Bugis yang pernah datang melalui jalur laut dan memberi pengaruh pada kehidupan masyarakat setempat.