SEKILAS TENTANG
Tradisi Lukat Geni yang berasal dari Puri Satria Kawan merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dari leluhur setempat, hingga ke generasi sekarang. Setelah vacum beberapa lama, maka pada tahun 2014 tradisi lokal ini diaktifkan kembali oleh kaum muda, Penglingsir, serta kelompok spiritual Puri Satria Kawan. Seni budaya sakral yang diselenggarakan setiap tahun sekali, pada malam Pengrupukan/sehari menjelang perayaan Hari Raya Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Çaka. Terlahir dari gerak dinamika budaya Keraton/Puri Klungkung, khususnya pada masa pemerintahan Raja Klungkung IV Ida Dewa Agung Made (Tahun 1736 – 1760 Masehi ).
Lukat Geni merupakan sebuah ritual sakral yang dikemas dalam bentuk gerak campuran antara tarian dan permainan ini memiliki makna filosofis tentang nilai-nilai keagamaan. Selain juga menyiratkan sikap hidup seorang kesatria keluarga Puri yang kuat secara jasmani dan rohani. Keberanian dan kekuatan seorang pemuda dalam menerima pukulan prakpak (daun kelapa kering) yang menyala api, menunjukkan ketangguhan jiwa kesatria dalam menghadapi masalah duniawi maupun rohani.
Tradisi Lukat Geni dilakukan secara turun-temurun sebagai sebuah ritual sakral untuk pensucian diri menjelang dan menyambut Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka. Tradisi Lukat geni merupakan praktek ritual penyucian alam semesta dan manusia melalui prosesi penglukatan/pembersihan dengan menggunakan sarana api.
Pada awalnya tradisi ini dilaksanakan oleh warga Desa Sampalan yang termasuk Puri Satria Kawan yang lebih berbentuk pada sebuah permainan rakyat. Akan tetapi dengan adanya perilaku dari pelaku permainan yang melenceng dari aturan baku, yakni menggunakan benda tajam seperti batang daun jaka yang tentu saja berbahaya bagi lawan mainnya, kemudian tradisi ini surut dengan sendirinya.
Semangat dan jiwa kesatria masyarakat di lingkungan Puri Klungkung yang tersirat dari tradisi
ritual sakral ini, menunjukkan keterkaitannya dengan perjalanan sejarah Desa Paksebali. Keberadaan Puri Satria Kawan sebagai sumber pewaris tradisi leluhur Kerajaan Klungkung terletak dan berperan sentral di wilayah desa ini.
Bentuk ekspresi jiwa dan semangat kesatria dari kaum muda/prajurit yang gagah berani di lingkungan Puri Agung Klungkung, ketika dibangkitkan kembali oleh Puri Satria Kawan, menjadi kemasan budaya spiritual yang dipenuhi dengan ajaran falsafah agama Hindu. Ciri khas Puri yang cenderung mempertahankan budaya dan kearifan lokal yang diwarnai oleh kesakralan, membentuk Lukat Geni sebagai produk kebudayaan atau tradisi sakral unik tentang penglukatan /pembersihan diri manusia dengan menggunakan sarana api. Pada dasarnya, Tradisi Lukat Geni merupakan bentuk percampuran antara seni atraksi tari dengan pelaksanaan filosofis ajaran agama dan budaya Hindu Bali, seperti Tri Hita Karana.
Tradisi Lukat Geni hingga kini menjadi identitas khususnya bagi Puri Satria Kawan dan Desa Paksebali dimana letak geografis Puri tersebut berada dalam lingkungan wilayahnya. Sebagai proses pelaksanaan tradisi, ritual Lukat Geni rupanya menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman dalam lingkungan hidupnya. Pelaksanaan ritual ini terkait dengan Hari Raya besar yang disucikan umat Hindu Bali, yaitu Haru Raya Nyepi yang dilaksanakan setahun sekali.
Kontinuitas pelaksanaan ritual ini kemudian menjadi tradisi, sebagai suatu kewajiban moral dan spiritual masyarakat Puri Satria Kawan Desa Paksebali yang harus dilaksanakan karena diyakini akan membawa kesejahteraan bagi hidup manusia dan alam semesta. Seni budaya Lukat Geni yang disebut juga Perang Geni, atau Gebug Prakpak, merupakan ritual sakral yang bertujuan untuk pembersihan / penglukatan diri dari hal-hal yang “kotor”/ negatif, serta terciptanya keseimbangan Bhuana Alit dan Bhuana Agung dengan menggunakan sarana api.
Ritual Lukat Geni dilaksanakan setiap tahun pada malam Pengrupukan yang jatuh pada setiap Sasih Kesanga, sehari menjelang perayaan Nyepi menyambut Tahun Baru Çaka yang bertempat di perempatan/Catus Pata Satria Kawan, atau di Merajan Agung Puri Satria Kawan. Ritual ini dimulai pada sekitaran Pukul 18.30 WITA sampai selesai.
Oleh karena ritual ini bersifat sakral, maka diwajibkan bagi peserta untuk menjalankan pantangan-pantangan kesenangan duniawi selama tiga hari berturut-turut sebelum dilaksanakannya ritual Lukat Geni. Dengan adanya aturan ini dimaksudkan agar, pelaksanaan upacara bisa berlangsung dengan lancar.
Adapun bagi peserta yang melanggar, diyakini akan terbakar oleh api yang digunakan sebagai sarana dalam upacara itu.
Beberapa pantangan tersebut antara lain :
* Tidak boleh minum-minuman beralkohol
* Tidak boleh makan daging dari binatang berkaki empat
* Tidak boleh melakukan hubungan badan
* Berpuasa mutih, hanya makan minum bahan makanan berwarna putih, seperti nasi putih, singkong tanpa sayur dan lauk pauk, serta hanya minum air putih
Aturan ini dimaksudkan agar peserta ritual akan mampu melaksanakan tugasnya dengan jiwa dan pikiran yang bersih / suci, sehingga kesakralan dari upacara itu tetap terjaga dan karenanya diperkenankan oleh Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penguasa alam semesta.
Kesucian atau kesakralan dari tradisi ini, ditandai dengan penggunaan sarana banten yang digunakan dalam rangkaian pelaksanaan tradisi Lukat Geni, yakni berupa Prayascita ,Pejati, Segehan Agung, dan Canang Sari. Banten Prayascita adalah banten yang biasa digunakan untuk melakukan pembersihan diri, oleh karena itu dalam pelaksanaan Melukat, umat Hindu Bali selalu menggunakan sarana tersebut.
Ritual Lukat Geni/Perang Geni diikuti oleh 33 orang peserta yang mayoritas adalah kaum muda, dan para Penglingsir (Tetua) Puri Satria Kawan ikut serta, jika jumlah peserta belum memenuhi 33 orang.
Jumlah ini disesuaikan dengan jumlah Pengurip, yang diperuntukkan juga untuk menentukan posisi pembawa obor yang jumlahnya juga mencapai 33 orang. Jumlah 33 ini merupakan kekuatan yang terbagi sesuai arah mata angin dan warna. Pembagiannya di sebelah timur berdiri 5 orang truni/gadis pemegang obor, berpakaian putih dan di sebelah barat ada 7 orang berpakaian kuning. Adapun di sebelah selatan berdiri 9 orang berpakaian merah, serta di sebelah utara berdiri 4 orang berpakaian hitam, sedangkan di bagian tengah terdapat 8 orang dengan pakaian Panca (lima) warna. Hal ini sesuai dengan tradisi budaya masyarakat Hindu Bali dalam melaksanakan praktek keagamaan sehari-hari.
Obor-obor tersebut berfungsi untuk membakar
atau menyalakan Danyuh/daun kelapa kering sebagai sarana penting dalam pelaksanaan ritual Lukat Geni. Sejumlah 36 lembar daun kelapa kering diikat dalam satu ikatan, mencapai jumlah 9 ikat (Sebelumnya daun kelapa kering ini disucikan terlebih dahulu). Jumlah ini sesuai dengan sembilan penjuru arah mata angin atau Dewata Nawa Sanga sebagai pelindung atau benteng keselamatan.
Pelaksanaan tradisi ritual yang sakral ini melalui beberapa tahapan. Tahapan awal tradisi ini, dimulai dengan prosesi melukat di Segara (laut) dan kemudian sembahyang di Pura Seganing yang dilaksanakan pada pagi hari sekitar jam 8 pagi. Tujuan utama persembahyangan di Pura Seganing ini untuk Atur Piuning (minta ijin) kepada Tuhan dalam melaksanakan ritual Lukat Geni, sehingga acara berjalan dengan lancar dan selamat.
Setelah dilaksanakan prosesi tersebut, dilanjutkan dengan meminta restu atau ijin/Atur Piuning di Merajan Agung Puri Satria Kawan. Kemudian dilakukan Pemasupatian (Proses sakralisasi terhadap benda-benda bertuah melalui permohonan kepada Sang Pencipta). Kemudian, dilanjutkan dengan penyucian terhadap obor yang akan digunakan untuk membakar ikatan-ikatan daun kelapa kering (Danyuh) dalam pelaksanaan tradisi lukat geni.
Sebelum acara ritual dimulai, para peserta terlebih dahulu melukis dirinya dengan kapur sirih (pamor) pada bagian dada, punggung, serta lengan kiri dan
kanan dengan simbol Tapak Dara berwarna putih yang bermakna simbolis, agar manusia tetap eling / ingat diri. Maksudnya agar para pemain tetap waspada, kuasai diri agar dalam pelaksanaan perang dengan api ini dapat dilakukan dengan baik, sehingga tidak membahayakan lawannya.
Setelah semua prosesi ini dilalui, maka sekitar Pukul 18.30 WITA pelaksanaan ritual dimulai. Awalnya sejumlah 33 orang gadis yang masing-masing membawa obor dan mengenakan kostum sebagai simbol kekuatan arah mata angin dan panca warna, masuk ke lingkungan gelanggang dengan diiringi musik/tabuh gamelan baleganjur. Beberapa saat kemudian, masuklah peserta ritual membakar ikatan prakpak yang dibawanya dengan api obor, kemudian membawanya ke gelanggang dengan iringan pola gending baleganjur yang iramanya semakin terdengar keras dan mengarah pada pola gerakan pencak silat.
Kreasi Gending/Tetabuhan Baleganjur yang menyerupai iringan gending pencak silat ini, merupakan kreasi/ciptaan seorang Kelihan Gong/Gamelan di Sekaa Truna Puri Satria Kawan. Hal ini dilakukan untuk mengiringi gerakan dinamis dari para pemuda yang sedang menari tarian perang, dengan menggunakan sarana berupa ikatan daun kelapa kering (Danyuh) yang dibakar.
Puncak dari tradisi ritual Lukat Geni ini terjadi ketika perang api ini dimulai dengan peperangan 1 lawan 1, dengan cara memukulkan Prakpak yang berisi api ke punggung lawan mereka hingga nyala api pada Prakpak itu padam. Pemukulan Prakpak kepada lawan sebenarnya tidak hanya di bagian punggung saja, tetapi bisa dibagian lain, seperti dada, lengan kiri dan kanan. Ini terlihat dari lukisan lambang Tapak Dara yang digoreskan, tidak hanya di bagian punggung, tetapi juga di bagian dada dan lengan peserta.
Setelah peserta berkesempatan perang satu lawan satu, kemudian dilanjutkan dengan perang massal di antara peserta. Selesai kegiatan ritual Lukat Geni, peserta dan warga yang terkait dengan pelaksanaan ritual ini, dengan rasa gembira dan akrab kembali ke Merajan Agung Puri Satria Kawan untuk melakukan persembahyangan bersama. Hal ini dilakukan sebagai bentuk wujud rasa terimakasih kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena kegiatan sudah dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar.
Selama pelaksanaan tradisi ini, peserta tidak ada yang merasa sakit ataupun panas saat menerima pukulan Prakpak yang menyala. Pelaksanaan tradisi ritual Lukat Geni tersebut bersifat terbuka dan sakral. Bersifat terbuka karena pelaksanaan ritualnya bisa dihadiri oleh orang-orang dari luar desa, bahkan kalau memungkinkan (seperti jumlah peserta belum mencapai 33 orang), orang dari luar desa bisa berperan serta sebagai peserta ritual Lukat Geni.
Segala kekotoran jasmani dan rohani diyakini telah luluh dilebur oleh bara api Prakpak, sehingga dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian keesokan harinya dapat berjalan dengan baik dan khidmat.