Aksara Bali

SEKILAS TENTANG

Aksara tidak muncul dengan sendirinya di muka bumi, tetapi diciptakan oleh manusia seiring perkembangan kebudayaan dan peradabannya (cultural and civilitations). Tidak mudah mengetahui asal mula penyebaran, dan perkembangan suatu aksara yang sudah berumur ribuan tahun. Bukti-bukti serta penemuan arkeologislah yang sampai saat ini menjadi tumpuan utama untuk mengetahui eksistensi aksara-aksara di dunia, selain berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Bukti arkeologis merupakan wahana untuk melacak eksistensi aksara melalui peninggalan masa lampau yang berupa prasasti-prarasti baik yang ditatah di atas batu, tembaga, maupun yang tersurat dalam lontar. Sementara itu, melalui mitos dapat diketahui pola pikir (mind sett) suatu masyarakat dalam memahami realitas.

Di Bali sendiri ada sumber yang berjudul Prama Tatwa Suksma (Rawi, 1958: 16-20) yang juga menguraikan asal mula filosofi aksara Bali dalam kaitannya dengan proses pembebasan. Menurut sumber tersebut, aksara Bali berasal dari hasil tapa, brata, yoga dan samadhi Sang Hyang Eka Jala Resi. Dari tapa tersebut kemudian lahirlah dua bersaudara yaitu Sang Hyang Katu dan Sang Hyang Rawu. Sang Hyang Rawu menciptakan Kala-Kali dan Buta Dengen.

Sementara itu, Sang Hyang Katu menciptakan Dewa-Dewi yang utama, dan juga aksara Bali yang di antaranya aksara wreastra, swalalita, dan modre. Menurut Granoka (1998: 5) cerita ini memberikan gambaran betapa pentingnya peranan aksara Bali dalam peningkatan kualitas hidup; baik spiritualitas dan intelektualitas, dalam rentangan waktu yang teramat panjang. Manusia dalam perjalanannya menuju Tuhan, berada di persimpangan jalan, pembebasan atau ketergantungan.

Keberadaan aksara Bali yang kini diwarisi oleh masyarakat Bali sebagai bagian dari khazanah budaya nasional sesungguhnya menapaki perjalanan yang cukup panjang. Sejarah aksara Bali tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan aksara Dewanegari dan Pallawa di atas. Dalam kitab Svara Vyanjana (Vira : 1956), disebutkan bahwa di India pertama kali dikenal aksara Karosti. Dari aksara ini kemudian berkembang menjadi aksara Brahmi. Aksara Brahmi yang menurunkan aksara Dewanegari dan Pallawa. Aksara Dewanegari dipergunakan di India Utara untuk menuliskan bahasa Sanskerta. Sementara itu, aksara Pallawa dipergunakan di India Selatan untuk menuliskan bahasa Pallawa. Di India aksara Dewanegari dipergunakan dalam bahasa yang berbeda-beda selain bahasa Sanskerta, diantaranya dalam bahasa Apabhramsa, Marathi, Nepali, Pali, Prakrit, dan bahasa kebangsaan India yaitu bahasa Hindhi.

Aksara Dewanegari dan Pallawa masuk ke Indonesia melalui berbagai cara yaitu dengan kegiatan perdagangan, politik koloni, serta melalui bidang agama dan kebudayaan. Pengaruh kedua aksara ini sejalan dengan perkembangan agama Hindu dan Budha di Nusantara. Menurut Poerbatjaraka (dalam Suasta, 2002: 8), aksara Dewanegari dan Pallawa di Indonesia tidak sepenuhnya diadopsi. Melainkan dibentuk kembali sesuai dengan rasa pekerti masyarakat nusantara pada saat itu. Proses penyebaran agama Hindhu dan Buddha yang cukup pesat di nusantara juga menjadi indikator penyebab semakin meluasnya spektrum dan ruang lingkup
pemakaian aksara ini di daerah-daerah. Berkembangnya kerajaan-kerajaan ini turut memberikan iklim yang baik bagi perkembangan aksara Dewanegari dan Pallawa yang sudah ditransformasikan ke dalam bentuk yang baru tersebut, sehingga di Indonesia sendiri muncul aksara Nusantara Kuno atau Kawi.

Alamat

Provinsi Bali

Status

Warisan Budaya tak Benda

Domain

Tradisi dan Ekspresi Lisan