Goa Garba merupakan situs peninggalan purbakala berupa ceruk/goa yang dipahatkan pada dinding, sebelah barat Sungai Pakerisan. Diperkirakan dibangun pada abad XI Masehi pada masa pemerintahan Raja Jayapangus sebagai tempat meditasi, hal ini berdasarkan bukti pada bangunan ceruk pertapaan bagian ujung selatan, terdapat pahatan prasasti dengan huruf Kadari Kuadran berbunyi ”Sri”, berasal dari abad XI Masehi.
Situs Peninggalan Purbakala:
- Candi, ditemukan dalam keadaan tidak utuh, hanya tinggal pondasinya saja, pada pintu candi terdapat tulisan Jawa Kuno.
- Arca Perwujudan, ditempatkan pada sebuah pelinggih yang disebut Pelinggih Bujangga, arca tersebut terdiri dari 2 arca Ganesha, 2 arca Dewa, 3 arca Pendeta serta sebuah Kemuncak yang terdiri dari 4 buah arca.
- Lingga Yoni, ditempatkan pada ruangan candi, dibuka saat ada upacara ( Piodalan ) saja.
- Cap Telapak Kaki, dipahatkan pada batu andesit pada salah satu anak tangga gapura, menurut mitologi, cap telapak kaki ini adalah telapak kaki dari Patih Kebo Iwa. Sekarang, batu yang berisi cap telapak kaki ini dikeramatkan, diberikan pelindung pagar kayu.
- Ceruk Pertapaan, berjumlah 3 buah ceruk pertapaan.
- Patirtaan Telaga Waja, letaknya sebelah utara dari Gapura Goa Garba, letaknya lebih tinggi dari Petirtaan lainnya.
- Petirtaan Pancaka Tirta, letaknya sebelah selatan dari Telaga Waja, disebut Pancaka Tirta karena terdapat 5 buah pancoran yang disucikan, airnya kemudian mengalir menuju Sungai Pakerisan.
- Patirtaan Telaga Sepih, letaknya di sebelah selatan Pancaka Tirta dengan posisi lebih rendah.
Selain itu, pada sisi timur dari petirtan ini terdapat sumur yang ditutupi batu padas, dengan anak tangga yang menuruninya yang disebut Saptapatala dan pada sebelah utara Goa Garba juga terdapat pertapaan yang disebut Goa Pasusu.